Pesan Minggu Ini

PENGAMPUNAN YANG MEYELAMATKAN JIWA-JIWA

“Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.” (2 Petrus 3:15)

Kesabaran Allah sudah pasti tidak terbatas, bersamaan dengan sikap kasih-Nya yang selalu mengampuni tanpa batas. Kesabaran Allah memberi kesempatan kepada manusia berdosa untuk memperoleh keselamatan.

Rasul Petrus menjelaskan kesabaran Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus dengan mengangkat kasus kesabaran Allah terhadap Paulus. Tuhan Yesus mengetahui dan melihat bahwa sebelum bertemu Yesus, Paulus menganiaya pengikut Kristus. Yesus sebenarnya bisa saja mencegah Paulus dengan cara-Nya untuk menghentikan dosa dan kesalahan Paulus. Namun, Allah sabar memberi kesempatan kepada Paulus untuk memperoleh keselamatan.

Yesus sendiri berinisiatif bertemu Paulus sebagai bukti pengampunan-Nya kepadanya. Paulus merespon dengan baik, sehingga terjadi perubahan hidup yang mendasar—bukan hanya menyelamatkannya, tetapi juga menjadikannya seorang rasul. Hal ini berlaku bagi semua manusia berdosa: Allah sabar memberi kesempatan agar mereka memperoleh keselamatan.

Tuhan Yesus sempat menghukum Paulus dengan membuat matanya buta untuk sementara waktu. Kadang-kadang Yesus menghukum bukan karena membenci, melainkan sebagai wujud kasih-Nya, agar manusia berdosa yang terhukum bertobat dan menerima anugerah keselamatan.

Allah di dalam Yesus Kristus memiliki pengampunan yang tak terbatas, sebab pengampunan Allah-lah yang menyelamatkan manusia berdosa. Namun, perlu dipahami bahwa para pengikut Kristus juga harus berusaha belajar dari Yesus untuk selalu lemah lembut dalam sikap mengampuni.

Matius 18:18: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga, dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

Firman Tuhan ini bertujuan mendisiplinkan pembuat kesalahan dalam gereja lokal. Dalam hal ini, tujuannya bukan menghakimi, melainkan mengasihi. Bila kesalahan seseorang sudah diampuni oleh umat di bumi, maka hal itu memberi jalan baginya untuk diampuni di surga.

Tujuan mendisiplinkan adalah melindungi. Karena itu, ajaran Yesus tidak dimaksudkan untuk diabaikan, tetapi harus dijalankan dengan hati yang mengampuni. Pengampunan yang diberikan gereja kepada pelaku kesalahan merupakan peluang baginya untuk menerima pengampunan yang menyelamatkan dari Allah. MT
Minggu 31 Agustus 2025


[Pesan Mingguan 2024 Selengkapnya]