KASIH SEMULA SEORANG PENUAI
“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. 5Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.” (Wahyu 2:4-5)
Kasih semula adalah fondasi utama dalam kehidupan seorang penuai jiwa. Ketika seseorang pertama kali mengalami kasih Kristus, hatinya dipenuhi sukacita untuk melayani, bersaksi, dan membawa jiwa kepada Tuhan. Tidak ada paksaan, tidak ada ambisi pribadi, hanya kerinduan agar semakin banyak orang mengenal kasih Allah.
Namun perjalanan waktu sering membuat seorang penuai kehilangan api mula-mula itu. Aktivitas pelayanan yang padat, tantangan hidup, kekecewaan terhadap sesama, atau rutinitas rohani yang monoton dapat membuat pelayanan berubah menjadi kewajiban. Tangan masih bekerja, tetapi hati tidak lagi menyala. Mulut masih bersaksi, tetapi kasih tidak lagi menjadi motivasi utama.
Tuhan Yesus menegur jemaat Efesus karena mereka meninggalkan kasih yang semula. Mereka tetap aktif melayani, namun kehilangan hubungan intim dengan Tuhan. Teguran ini juga menjadi peringatan bagi setiap penuai agar tidak hanya fokus pada hasil, melainkan menjaga kedekatan dengan Sang Pemilik tuaian.
Kasih semula bukan sekadar perasaan emosional, melainkan hubungan yang hidup dengan Kristus. Dari hubungan itulah lahir belas kasihan bagi jiwa-jiwa yang terhilang. Ketika kasih kepada Tuhan dipulihkan, semangat untuk menuai kembali menyala. Pelayanan menjadi sukacita, pengorbanan menjadi ringan, dan kesaksian menjadi nyata.
Hari ini Tuhan mengundang setiap penuai untuk kembali kepada-Nya. Ingatlah bagaimana dahulu kita begitu bersemangat mencari hadirat-Nya, begitu antusias melayani, dan begitu rindu melihat jiwa diselamatkan. Kembalilah kepada kasih semula, sebab dari situlah pelayanan yang berbuah dimulai.
Minggu 05 Juli 2026




