PESAN MINGGU INI 11 OKTOBER 2026
KASIH YANG MENDEKAT DAN MENDENGAR
“Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.” (Lukas 10:33-34)
Kasih sering kali berbicara tentang kepedulian, tetapi kasih yang sejati tidak hanya berkata, “Aku peduli.” Kasih mengambil langkah untuk mendekat. Kasih bersedia hadir, melihat, mendengar, dan memahami orang yang sedang membutuhkan pertolongan.
Dalam Lukas 10:33–34, kita melihat seorang Samaria yang melihat seseorang terluka. Ia tidak melewati orang itu dari kejauhan. Ia mendekat, membalut lukanya, merawatnya, dan memastikan kebutuhannya diperhatikan. Inilah gambaran kasih yang nyata.
Di sekitar kita ada banyak orang yang mungkin terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang terluka. Ada yang menghadapi masalah keluarga, ketakutan tentang masa depan, kesepian, kegagalan, kehilangan, atau pergumulan iman. Ada juga mereka yang belum mengenal Kristus dan mungkin memiliki banyak pertanyaan tentang kehidupan dan Tuhan.
Sebagai gereja, kita dipanggil bukan untuk menjaga jarak, tetapi untuk mendekat.
Namun mendekat saja belum cukup. Kita juga perlu belajar mendengar. Mendengar bukan sekadar menunggu giliran untuk berbicara. Mendengar berarti memberikan perhatian, memahami pergumulan, dan menghargai cerita seseorang. Ketika kita mau mendengar, kita sedang membangun jembatan kepercayaan.
Sering kali kesempatan untuk memberitakan Injil dimulai bukan dengan sebuah khotbah panjang, tetapi dengan pertanyaan sederhana: “Bagaimana keadaanmu?” kemudian sungguh-sungguh mendengarkan jawabannya.
Yesus sendiri hadir di tengah manusia, melihat kebutuhan mereka, mendengarkan, menyentuh kehidupan mereka, dan membawa pengharapan.
Kiranya gereja menjadi komunitas yang tidak hanya pandai berbicara tentang kasih, tetapi juga mau mendekat dan mendengar, sehingga melalui kehadiran kita orang lain dapat menemukan jalan untuk mengenal kasih Kristus.
Minggu 11 Oktober 2026
PESAN MINGGU INI 04 OKTOBER 2026
KASIH YANG BERBUAH MISI
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20)
Kasih Allah adalah kasih yang bergerak. Allah tidak hanya menyatakan kasih-Nya melalui perkataan, tetapi mengutus Anak-Nya, Yesus Kristus, untuk datang ke dunia dan menyelamatkan manusia. Karena itu, ketika kita mengalami kasih Kristus, kasih tersebut tidak seharusnya berhenti pada diri kita. Kasih itu harus berbuah dalam misi.
Yesus memberikan Amanat Agung kepada murid-murid-Nya: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Perintah ini menunjukkan bahwa gereja dipanggil bukan hanya untuk berkumpul, beribadah, dan menikmati berkat Tuhan, tetapi juga untuk pergi menjangkau mereka yang belum mengenal Kristus.
Kasih yang menuntaskan misi adalah kasih yang tidak mudah berhenti. Ada orang yang mungkin menolak ketika kita berbicara tentang Tuhan. Ada yang belum siap menerima Injil. Ada pula yang membutuhkan waktu panjang untuk mengalami perubahan. Namun kasih Kristus mengajar kita untuk tetap mendoakan, mengasihi, melayani, dan menjadi saksi.
Misi juga bukan hanya berbicara tentang keselamatan dengan kata-kata. Kasih harus terlihat melalui perbuatan nyata. Ketika kita menolong orang yang membutuhkan, mendengarkan mereka yang terluka, memperhatikan mereka yang kesepian, dan hadir bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan, kita sedang memperlihatkan kasih Kristus.
Pada bulan misi ini, mari kita membuka hati dan mata. Siapa orang di sekitar kita yang belum mengenal Kristus? Siapa yang Tuhan ingin kita jangkau?
Kiranya kasih yang telah kita terima dari Kristus tidak berhenti dalam hidup kita, tetapi berbuah menjadi misi yang terus bergerak sampai Amanat Agung dikerjakan.
Minggu 04 Oktober 2026
PESAN MINGGU INI 27 SEPTEMBER 2026
MENYEMBAH SAMPAI TEMBOK-TEMBOK RUNTUH
“Maka bersoraklah bangsa itu, sedang para imam meniup sangkakala. Segera setelah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu.” (Yosua 6:20)
Yerikho adalah kota yang memiliki tembok kokoh dan pintu-pintu yang tertutup rapat. Secara manusia, Israel tidak memiliki kekuatan untuk meruntuhkannya. Namun Tuhan memberikan strategi yang berbeda: mereka harus mengelilingi kota, membawa tabut perjanjian, meniup sangkakala, dan pada waktu yang ditentukan bersorak. Kemenangan tidak dimulai dengan kekuatan senjata manusia, tetapi dengan ketaatan dan penyembahan kepada Allah.
Kisah Yerikho mengajarkan bahwa penyembahan adalah bagian dari peperangan rohani. Ketika umat Tuhan menyembah, mereka sedang mengarahkan hati kepada Allah yang lebih besar daripada masalah mereka. Penyembahan mengingatkan kita bahwa tembok yang kita hadapi bukanlah akhir dari cerita. Ada kuasa Tuhan yang bekerja melampaui apa yang dapat dilihat mata.
Mungkin hari ini ada “tembok” dalam kehidupan kita: pergumulan keluarga, kekhawatiran, kegagalan, hubungan yang sulit, pelayanan yang terasa berat, atau doa yang belum terjawab. Jangan biarkan tembok tersebut membuat kita berhenti menyembah. Justru di tengah pergumulan, angkatlah hati kepada Tuhan. Penyembahan bukan berarti kita menyangkal masalah, melainkan menyatakan bahwa Tuhan tetap berdaulat di tengah masalah.
Israel harus berjalan mengelilingi Yerikho selama beberapa hari sebelum melihat tembok itu runtuh. Demikian pula, terkadang kita harus terus berdoa, menyembah, dan taat meskipun belum melihat perubahan. Tuhan sedang mengajar kita untuk percaya kepada-Nya.
Karena itu, tetaplah giat menyembah di tengah pergumulan. Jangan hanya menyembah ketika keadaan baik. Sembahlah Tuhan ketika jawaban belum datang, karena iman tidak bergantung pada keadaan. Ketika kita tetap menyembah dan taat, kita sedang menempatkan Tuhan di atas segala persoalan. Pada waktu-Nya, Dia sanggup meruntuhkan tembok yang tidak mampu kita runtuhkan sendiri. Kemenangan kita bukan terletak pada kekuatan kita, melainkan pada Allah yang kita sembah.
Minggu 27 September 2026
PESAN MINGGU INI 20 SEPTEMBER 2026
DOA MEMBUKA JALAN KESELAMATAN
“Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: ”Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.” Ia mendesak sampai kami menerimanya.” (Kisah Para Rasul 16:15)
Doa bukan sekadar aktivitas rohani untuk menyampaikan permohonan kepada Allah. Doa adalah persekutuan dengan Tuhan dan sarana yang dipakai-Nya untuk mengerjakan kehendak-Nya dalam kehidupan manusia. Salah satu karya terbesar yang dapat kita doakan adalah keselamatan orang-orang yang belum mengenal Kristus.
Dalam Kisah Para Rasul 16, Paulus dan rekan-rekannya tiba di Filipi. Di sana mereka bertemu dengan Lidia, seorang yang beribadah kepada Allah. Ketika Paulus memberitakan Injil, Tuhan membuka hati Lidia sehingga ia memperhatikan apa yang disampaikan Paulus. Peristiwa ini menunjukkan bahwa di balik pemberitaan Injil terdapat pekerjaan Allah yang membuka hati manusia. Manusia dapat mendengar firman, tetapi Roh Kuduslah yang menerangi hati sehingga seseorang mampu merespons anugerah keselamatan.
Karena itu, jangan pernah menganggap seseorang terlalu keras untuk diselamatkan. Mungkin kita memiliki anggota keluarga, sahabat, teman kerja, atau tetangga yang selama ini tampak tidak tertarik kepada Tuhan. Jangan berhenti berharap. Jangan hanya melihat keadaan mereka sekarang; lihatlah mereka melalui iman kepada Allah yang sanggup mengubah hati.
Doa syafaat adalah bentuk kasih yang nyata. Ketika kita menyebut nama seseorang di hadapan Tuhan, kita sedang menyerahkan hidupnya kepada Dia yang sanggup melakukan jauh lebih besar daripada kemampuan kita. Kita mungkin tidak mampu mengubah hati mereka, tetapi kita dapat membawa mereka kepada Tuhan dalam doa. Roh Kudus sanggup membuka pengertian, melembutkan hati, mengatur keadaan, mempertemukan mereka dengan orang yang tepat, dan membuka kesempatan untuk mendengar Injil.
Karena itu, marilah gereja menjadi gereja yang berdoa bagi keselamatan jiwa. Mulailah dari orang-orang terdekat: keluarga, teman, dan tetangga yang belum mengenal Kristus. Tuliskan nama mereka. Doakan dengan tekun. Percayalah kepada kuasa Tuhan. Sebab ketika umat Tuhan berdoa, Allah bekerja membuka jalan bagi keselamatan.
Minggu 20 September 2026
PESAN MINGGU INI 13 SEPTEMBER 2026
PENYEMBAH YANG MENUAI
Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!’”(Yesaya 6:8)
Penyembahan sejati tidak pernah berhenti pada pengalaman pribadi bersama Allah. Penyembahan yang benar selalu menghasilkan kehidupan yang diubahkan dan membawa dampak bagi orang lain. Dalam penglihatan Yesaya, ia terlebih dahulu melihat kemuliaan Tuhan yang bertakhta, mendengar pujian para serafim yang berseru, “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN Semesta Alam,” lalu menyadari keberdosaannya. Setelah mengalami penyucian melalui bara dari mezbah, Yesaya akhirnya merespons panggilan Tuhan dengan penuh penyerahan, “Ini aku, utuslah aku!”
Urutan ini sangat penting. Sebelum seseorang dipakai Tuhan untuk menuai jiwa-jiwa, ia harus terlebih dahulu menjadi penyembah yang mengalami hadirat, kekudusan, dan pemulihan Allah. Pelayanan yang menghasilkan penuaian bukan lahir dari kemampuan manusia, melainkan dari hati yang telah disentuh oleh kasih karunia Tuhan. Penyembahan membuka hati untuk diubahkan, dan hati yang diubahkan akan siap diutus.
Yesus juga mengajarkan bahwa tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Allah masih mencari orang-orang yang bersedia datang kepada-Nya sebelum pergi bagi-Nya. Dunia membutuhkan lebih banyak penyembah daripada sekadar pekerja. Ketika penyembahan menjadi gaya hidup, Roh Kudus memenuhi hati dengan kasih kepada Allah dan belas kasihan kepada sesama. Dari sanalah lahir keberanian untuk menjadi saksi Kristus di keluarga, tempat kerja, sekolah, maupun masyarakat.
Marilah kita tidak hanya datang beribadah setiap minggu, tetapi menjadikan seluruh hidup sebagai penyembahan kepada Tuhan. Saat kita hidup dalam hadirat-Nya, membiarkan-Nya menyucikan hati, dan taat pada panggilan-Nya, Tuhan akan memakai hidup kita sebagai alat-Nya untuk membawa banyak orang mengenal Kristus. Penyembah sejati bukan hanya menikmati hadirat Allah, tetapi juga dipakai-Nya untuk membawa penuaian bagi Kerajaan-Nya. Di tangan Tuhan, penyembahan yang tulus akan selalu menghasilkan buah yang kekal.
Minggu 13 September 2026
PESAN MINGGU INI 06 SEPTEMBER 2026
MEZBAH YANG TIDAK PERNAH PADAM
“Api di atas mezbah itu harus tetap menyala, janganlah dibiarkan padam.” (Imamat 6:12)
Perintah Tuhan kepada para imam agar menjaga api mezbah tetap menyala bukan sekadar aturan liturgi, melainkan lambang dari hubungan perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Api yang terus menyala melambangkan kekudusan Allah, penyembahan yang berkesinambungan, dan kesetiaan-Nya yang tidak pernah berubah. Imam bertanggung jawab menambahkan kayu setiap pagi, mengatur korban bakaran, serta memastikan api itu tidak pernah padam. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan rohani memerlukan pemeliharaan yang terus-menerus dan tidak dapat bergantung pada pengalaman masa lalu.
Dalam terang Perjanjian Baru, mezbah mengarahkan kita kepada Kristus, Sang Korban Sempurna, yang telah mempersembahkan diri-Nya sekali untuk selama-lamanya bagi penebusan dosa manusia. Karena pengorbanan-Nya, orang percaya dipanggil untuk mempersembahkan hidup sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah. Api mezbah kini berbicara tentang hati yang terus menyala oleh kasih kepada Tuhan, ketaatan kepada firman-Nya, dan karya Roh Kudus yang membentuk karakter orang percaya setiap hari.
Namun, api rohani dapat meredup ketika doa diabaikan, firman Tuhan tidak lagi menjadi makanan jiwa, atau hati dipenuhi oleh dosa, kepahitan, dan kesibukan dunia. Karena itu, seperti imam yang setia menambah kayu ke mezbah setiap pagi, kita pun harus membangun disiplin rohani melalui doa, pembacaan Alkitab, penyembahan, dan kehidupan yang taat. Roh Kudus memakai semua itu untuk memelihara semangat iman agar tetap berkobar.
Marilah kita menjaga mezbah hati kita agar tidak pernah padam. Biarlah kehidupan kita menjadi kesaksian yang memuliakan Tuhan, sehingga api kasih, iman, dan pengharapan terus menyala sampai Kristus datang kembali. Ketika mezbah hati tetap menyala, dunia akan melihat terang Kristus melalui hidup kita dan nama Tuhan dimuliakan di setiap langkah kehidupan.
Minggu 06 September 2026
PESAN MINGGU INI 30 AGUSTUS 2026
SUKACITA BESAR DALAM MENUAI
“Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita.” (Yohanes 4:36)
Menuai merupakan saat yang paling dinantikan oleh setiap petani. Setelah bekerja keras, menabur benih, merawat tanaman, dan melewati berbagai tantangan, tibalah waktu menikmati hasilnya dengan penuh sukacita. Demikian pula dalam kehidupan rohani. Tuhan memanggil setiap orang percaya untuk menjadi penuai di ladang-Nya. Kita dipanggil untuk membawa kabar keselamatan, menguatkan sesama, melayani dengan kasih, dan menuntun banyak orang semakin dekat kepada Kristus. Setiap benih Firman yang ditaburkan dengan setia akan menghasilkan tuaian pada waktu yang telah ditetapkan Tuhan.
Terkadang, perjalanan sebagai penuai tidaklah mudah. Ada penolakan, kelelahan, dan air mata. Tidak sedikit pelayanan yang tampaknya tidak segera membuahkan hasil. Namun Firman Tuhan mengingatkan bahwa setiap penuai bekerja bukan untuk pujian manusia, melainkan bagi Tuhan yang melihat segala sesuatu. Tidak ada doa yang dinaikkan dengan iman, tidak ada pelayanan yang dilakukan dengan kasih, dan tidak ada pengorbanan demi Kristus yang sia-sia. Allah sendiri menjanjikan upah bagi setiap orang yang setia mengerjakan ladang-Nya.
Karena itu, marilah kita hidup dalam pengharapan yang benar. Jangan menilai pelayanan hanya dari hasil yang terlihat, tetapi percayalah bahwa Tuhan sedang bekerja melalui setiap langkah ketaatan kita. Tetaplah menabur Firman, mengasihi sesama, melayani dengan sukacita, dan menjadi terang di mana pun Tuhan menempatkan kita. Sukacita seorang penuai bukan hanya ketika melihat hasil di dunia ini, tetapi terlebih lagi ketika mengetahui bahwa pekerjaannya menghasilkan buah bagi hidup yang kekal.
Kiranya hati kita semakin diteguhkan untuk tetap setia hingga akhir. Saat Kristus datang kembali, biarlah kita berdiri di hadapan-Nya dengan penuh sukacita, membawa buah dari kehidupan yang dipersembahkan bagi kemuliaan-Nya. Sebab setiap penuai yang setia akan menerima upah kekal dari Tuhan dan bersama-sama bersukacita di hadirat-Nya selama-lamanya.
Minggu 30 Agustus 2026




