Pesan Mingguan Temporary

PESAN MINGGU INI 15 MARET 2026

DARI PENONTON MENJADI PENUAI

“Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada-Nya, mereka meminta kepada-Nya supaya Ia tinggal pada mereka, dan Ia pun tinggal di situ dua hari lamanya. Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya, dan mereka berkata kepada perempuan itu: ‘Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang engkau katakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.” (Yohanes 4:40–42)

Ketika Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk memandang ladang yang sudah menguning, tentu pikiran mereka tertuju kepada jiwa-jiwa yang siap dituai dan dibawa kepada-Nya. Ladang yang dimaksud bukanlah ladang gandum secara harfiah, melainkan dunia dengan orang-orang berdosa yang membutuhkan keselamatan. Tuaian para murid adalah jiwa-jiwa yang siap datang kepada Kristus.

Saat Yesus mengarahkan mereka untuk melihat ladang yang siap dituai, Ia sedang memotivasi agar mereka tidak berpangku tangan. Ladang yang telah menguning harus segera dituai. Jika tidak, kesempatan bisa hilang, seperti gandum yang rontok karena terlambat dipanen. Para murid telah diajar dan dilatih oleh Yesus untuk bersaksi dan membawa orang kepada-Nya. Sekaranglah waktunya mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari dari Sang Guru Agung, Yesus Kristus.

Perempuan Samaria, dengan latar belakang hidupnya yang kelam, justru dipakai Tuhan untuk membawa banyak orang datang kepada Yesus. Orang-orang yang mendengar kesaksiannya tidak puas hanya mendengar; mereka ingin bertemu langsung dengan Yesus. Setelah berjumpa dengan-Nya, iman mereka semakin diteguhkan.

Hal ini menjadi pesan bagi setiap orang percaya:

  • Jangan hanya menjadi pendengar atau penonton.
  • Jangan hanya memandang ladang yang telah menguning.

Bertindaklah segera untuk terlibat dalam penuaian, sebab kesempatan yang berharga tidak selalu datang dua kali. MT
Minggu 15 Maret 2026


PESAN MINGGU INI 08 MARET 2026

MENJAWAB DUNIA YANG TERLUKA

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 17Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Timotius 3:16-17)

Rasul Paulus mengawali pembahasannya dengan menggambarkan keadaan manusia pada akhir zaman. Manusia menjadi egois dan tidak memiliki kepedulian terhadap nasib serta penderitaan orang lain. Karena cinta akan uang dan fokus hidup pada kekayaan, banyak orang menjadi korban, sehingga semakin banyak jiwa yang hilang dan terluka. Keadaan dunia pada akhir zaman membuat semakin banyak orang menjauh dari kebenaran sejati, lalu menciptakan dan membangun kebenaran menurut versi mereka sendiri.

Rasul Paulus menasihati Timotius agar tidak terlibat dalam dosa-dosa akhir zaman dan tidak menjadi korban kejahatan dari manusia-manusia yang telah terperosok dalam kebiasaan yang menjauh dari kebenaran. Fakta yang menyedihkan adalah bahwa mereka tetap beribadah dan mengaku sebagai orang Kristen, tetapi hanya secara lahiriah.

Timotius menyaksikan sendiri banyaknya orang yang terluka akibat dosa manusia akhir zaman. Sebenarnya, bukan hanya orang lain yang terluka, tetapi para pelaku kejahatan yang sangat egois itu pun adalah jiwa-jiwa yang terluka karena hidup menyimpang dari jalan yang telah ditetapkan Kristus.

Timotius adalah seorang anak muda yang tetap setia hidup sesuai dengan firman Tuhan. Ia adalah sosok anak Allah dan hamba Tuhan yang sangat berpotensi menjadi jawaban bagi kehidupan manusia di dunia yang bukan hanya terluka, tetapi juga saling melukai. Walaupun masih muda, Timotius taat kepada pesan bapak rohani dan seniornya, Rasul Paulus.

Rasul Paulus menganjurkan Timotius untuk tetap fokus dan taat kepada firman Tuhan. Firman Tuhan adalah standar hidup dan standar kebenaran yang diilhamkan Allah melalui hamba-hamba-Nya, yang berguna untuk mengajar. Oleh sebab itu, setialah menjalani kehidupan yang selaras dengan firman Allah. Firman Tuhan juga bermanfaat untuk menyatakan kesalahan dan memperbaiki kesalahan agar tetap hidup benar di jalan kebenaran.

Hanya dengan hidup sesuai tuntunan firman Tuhan, hidup akan menjadi kuat—tidak melukai dan tidak terluka. Karena itu, kita harus berjuang untuk menghidupi firman Tuhan agar kehadiran kita menjadi jawaban bagi manusia akhir zaman yang terluka, tetapi juga melukai. Sebab sesungguhnya pengikut Kristus adalah manusia kepunyaan Allah yang dipakai-Nya untuk menjadi jawaban bagi dunia yang terluka. MT
Minggu 08 Maret 2026


PESAN MINGGU INI 01 MARET 2026

KASIH YANG MENGGERAKKAN PENUAI

“Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” (2 Korintus 5:14-15)

Dalam Matius 9:36–38, para murid menyaksikan Yesus menolong banyak orang yang sakit parah dengan berbagai penyakit. Melihat wajah Yesus dan mendengar perkataan-Nya, mereka pun tahu bahwa Yesus bertindak menyembuhkan karena hati-Nya penuh belas kasihan kepada orang-orang yang menderita itu.

Di tengah kesibukan Yesus menyembuhkan karena banyaknya orang sakit, Ia berkata, Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” Dalam hal ini, Yesus mengajak para murid menjadi pekerja yang berbelas kasihan kepada manusia berdosa, yang dinyatakan Yesus sebagai jiwa-jiwa terlantar bagaikan domba tanpa gembala.

Yesus membawa para murid untuk melihat bahwa orang-orang yang terhilang adalah orang berdosa yang memiliki jiwa abadi yang sangat berharga, yang seharusnya menjadi penghuni surga, bukan neraka. Oleh sebab itu, Injil harus diberitakan kepada mereka agar diselamatkan dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Yesus tidak henti-hentinya mengajar dan melatih murid-murid-Nya untuk menjadi pekerja yang terlibat dalam pemberitaan Injil. Yesus tidak mengajarkan cara atau metode tertentu, tetapi fokus-Nya adalah memotivasi murid-murid-Nya agar memiliki belas kasihan. Nilai belas kasihan ini ditransformasikan Yesus kepada murid-murid-Nya melalui pengajaran dan keteladanan hidup-Nya.

Nilai hidup berbelas kasihan adalah dasar yang harus dimiliki oleh setiap pekerja yang memasuki pelayanan penuaian jiwa-jiwa bagi Kristus. Rasul Paulus menjelaskannya melalui kalimat, “Kasih Kristus yang menguasai kami.” Para pemberita Injil sejati tidak menjadikan pencapaian atau keyakinan akan keberhasilan pemberitaan Injil bergantung pada suatu metode tertentu. Seperti yang dinyatakan Rasul Paulus, kasih Kristus yang menguasai hatinyalah yang menjadi penggerak dan tenaga pendorong baginya untuk memberitakan Injil.

Ada banyak pekerja yang salah kaprah dalam hal mencari jiwa. Mereka tergerak mengajak orang lain menjadi anggota gereja tanpa upaya mengajak orang tersebut datang kepada Yesus. Untungnya, di gereja mereka mendengar Injil dan percaya kepada Yesus. Apakah salah mengajak orang menjadi anggota gereja? Tentu saja tidak salah, tetapi semuanya harus tetap digerakkan oleh kasih Kristus. MT
Minggu 01 Maret 2026


PESAN MINGGU INI 22 FEBRUARI 2026

MELIHAT LADANG BUKAN HAMBATAN

“Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Namun Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.” (Yohanes 4:35)

Bila saudara adalah seorang petani yang menanam padi di sawah, saudara tentu memahami bahwa masa panen tidak terjadi secara instan. Ada proses panjang yang harus dilalui dengan ketekunan agar hasil panen memuaskan. Proses tersebut bukan hanya membutuhkan modal, tetapi juga tenaga dan perhatian ekstra, termasuk memberantas hama yang dapat menjadi penghambat serius hingga menyebabkan gagal panen. Meski demikian, para petani tetap bersemangat menjalani seluruh proses itu karena mereka fokus pada tujuan akhir, yaitu panen. Mereka melihat ladang yang semula hijau perlahan berubah menjadi menguning dan siap dituai.

Ketika para murid menawarkan makanan kepada Yesus, Ia menjawab, “MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku.” Selanjutnya Yesus berkata, “Menurut kamu, empat bulan lagi tibalah musim menuai”. Tetapi Aku berkata kepadamu: “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan siap dituai.” Sesungguhnya, ladang gandum di wilayah itu masih menghijau dan secara alami masih membutuhkan waktu sekitar empat bulan untuk siap dipanen. Itulah fakta yang diketahui dan dilihat langsung oleh para murid. Namun, menurut Yesus, ladang tersebut sudah menguning dan siap dituai.

Mengapa terjadi perbedaan pandangan antara Yesus dan para murid terhadap objek yang sama? Sebelumnya, perbedaan pemahaman ini juga muncul mengenai makanan. Para murid memahami makanan sebagai sesuatu yang dimakan untuk mengenyangkan tubuh, sedangkan Yesus menyatakan bahwa makanan adalah melakukan kehendak Allah Bapa. Dengan demikian, jelas bahwa menurut Yesus, ladang melambangkan seluruh wilayah kehidupan manusia yang siap dijangkau oleh pekerjaan Allah.

Yesus sedang mengarahkan pandangan para murid agar tidak terfokus pada waktu, hambatan, atau kondisi yang belum ideal, melainkan pada kehendak Bapa yang harus segera dikerjakan. Jika terus melihat ladang yang masih hijau dan penuh potensi hambatan, seseorang akan cenderung menunda dan akhirnya tidak berbuat apa-apa. Sebaliknya, ketika melihat ladang yang sudah menguning, orang pasti akan segera bergerak untuk menuai sebagai bagian dari ketaatan kepada kehendak Bapa.MT
Minggu 22 Februari 2026


PESAN MINGGU INI 15 FEBRUARI 2026

KASIH DALAM PERBUATAN NYATA

“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1 Yohanes 3:18)

Sebuah gereja lokal mengalami krisis sehingga terjadi kemunduran yang cukup signifikan. Krisis kepemimpinan, krisis moral, dan krisis keuangan terjadi secara bersamaan. Beberapa jemaat yang mengasihi Tuhan dan gerejanya berinisiatif mengadakan sebuah pertemuan. Hasil diskusi mereka adalah meminta nasihat dan petunjuk kepada seorang yang bijaksana, yang juga mengasihi Tuhan.

Orang bijaksana itu mengatakan bahwa sesungguhnya mereka tidak menyadari bahwa di gereja lokal mereka terdapat sekelompok kecil orang yang merupakan malaikat-malaikat Kristus. “Katakanlah hal itu; itu sudah cukup,” demikian nasihatnya. Pernyataan tersebut disampaikan kepada jemaat dan kemudian tersebar menjadi kabar baik dari mulut ke mulut.

Berita itu ternyata memotivasi jemaat untuk hidup lebih baik, khususnya dalam kehidupan moral dan dalam praktik saling mengasihi melalui perbuatan nyata. Semangat memberi untuk mendukung pelayanan gereja meningkat, demikian pula semangat saling mengampuni dan saling menasihati. Satu tahun kemudian, hal-hal yang indah, baik, dan benar pun terjadi. Kemajuan dalam kehidupan moral, ekonomi, dan karakter yang baik menjadi kenyataan yang dialami dan dihidupi oleh jemaat.

Semua itu terjadi karena jemaat rindu menjadi malaikat-malaikat Kristus. Dengan mewujudkan kasih melalui perbuatan nyata serta membangun moral dan karakter yang baik, jemaat menjadi malaikat Kristus tanpa harus berstatus malaikat.

Kolose 1:27 menyatakan, “Kepada mereka Allah mau memberitahukan betapa kayanya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan.” Kalimat “Kristus ada di tengah-tengah kamu” mengandung pengertian bahwa Kristus selalu hadir di dalam diri setiap orang percaya dan juga di dalam gereja lokal sebagai komunitas orang percaya.

Jika Kristus berada di antara kita, maka kita akan memperlakukan sesama dalam gereja lokal sebagaimana kita memperlakukan Kristus. Dan jika Kristus ada di dalam kita, maka kita pun akan hidup dan bertindak seperti Kristus. Kristus yang ada di dalam dan di antara kita merupakan jaminan kemajuan kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai komunitas. Hidup di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita adalah rahasia kualitas hubungan dan kualitas kehidupan dalam gereja Tuhan, sehingga terbangun kemajuan dalam segala bidang kehidupan. MT
Minggu 15 Februari 2026


PESAN MINGGU INI 08 FEBRUARI 2026

SETIA SAMPAI TUAIAN TERAKHIR

“Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” (Galatia 6:8-9)

Ada dua hal yang saling bertentangan dan membingungkan jemaat Galatia, yaitu masalah Taurat dan anugerah, serta menabur dalam daging dan menabur dalam Roh :

  1. Masalah Taurat dan anugerah. Munculnya pengajaran dan ajaran baru merupakan pemberitaan dari pengajar yang menyimpang, yang mengajarkan bahwa keselamatan bukan oleh anugerah saja, tetapi juga dengan menaati ritual-ritual hukum Taurat, khususnya sunat. Jemaat yang sudah diselamatkan karena telah percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sebagian terseret oleh ajaran tersebut, tetapi lebih banyak yang bertahan dan tetap setia kepada kasih karunia Allah. Hal ini tidak boleh disepelekan, sehingga rasul Paulus segera menulis surat untuk meneguhkan iman jemaat Galatia. Dalam suratnya, Paulus memberi arahan agar jemaat tetap setia sebagai pengikut Kristus dan bersikap selektif dalam menerima ajaran yang baru. Bila ajaran tersebut bertentangan, maka harus segera ditolak dengan berpegang kepada anugerah Allah. Kita diselamatkan oleh anugerah Allah, bukan karena hukum Taurat.
  2. Soal menabur dalam daging dan menabur dalam Roh. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa mereka yang menabur dalam daging ditujukan kepada pengajar-pengajar yang menyimpang, karena motivasi mereka adalah mencari keuntungan materi dan ketenaran, walaupun harus mengorbankan kebenaran. Dampak dari kehadiran mereka adalah banyak jemaat yang berhenti terlibat dalam menabur kebaikan dan mendukung pemberitaan Injil. Mereka yang berhenti terlibat dalam mendukung pelayanan gereja ini juga dikategorikan sebagai menabur dalam daging. Mereka akan menuai kebinasaan dari keinginan dagingnya. Sebaliknya, mereka yang menabur dalam Roh adalah jemaat yang tetap setia hidup dalam kasih karunia Allah. Walaupun mereka ditawari ajaran yang menyimpang, mereka tetap setia mengikut Yesus dan terus terlibat dalam mendukung pemberitaan Injil serta pelayanan gereja. Mereka siap dilupakan dan ditolak, asalkan tetap hidup dalam kebenaran, dan tidak pernah berhenti menabur dalam Roh. Mereka melihat banyak hal buruk yang dilakukan oleh pemberita yang menabur dalam daging, tetapi mereka tidak menjadi lemah. Jika terus menabur dalam Roh, maka pada waktunya mereka akan menuai hidup yang kekal dari Roh. MT

Minggu 08 Februari 2026


PESAN MINGGU INI 01 FEBRUARI 2026

DIGERAKKAN OLEH AMANAT AGUNG

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20)

Amanat Agung bukanlah istilah yang secara langsung tertulis di dalam Alkitab. Istilah ini digunakan untuk memberi makna yang sangat berharga, penting, dan utama terhadap perintah Yesus kepada semua orang percaya—yang mula-mula dilaksanakan oleh para murid dan rasul—untuk memberitakan Injil, mengajak semua orang percaya kepada Yesus, dan memperoleh keselamatan yang kekal.

Dalam Amanat Agung terdapat tiga poin utama yang tidak dapat dipisahkan karena merupakan satu kesatuan yang utuh :

  1. Amanat Agung yang pertama adalah perintah untuk pergi dan memberitakan Injil, atau menjadikan semua bangsa murid Kristus. Perintah ini tidak hanya ditujukan kepada para murid atau rasul, tetapi kepada semua orang percaya. Inilah tanggung jawab dan sasaran penting bagi setiap orang yang telah menerima keselamatan di dalam Kristus. Injil keselamatan diberitakan kepada semua bangsa dan semua orang di muka bumi tanpa terkecuali, karena Yesus mengasihi semua orang. Amanat Agung inilah yang menjadi alasan gereja diutus ke dunia dan ditempatkan Allah di tengah-tengah masyarakat.
  2. Amanat Agung yang kedua adalah membaptis orang-orang yang percaya dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Pemberitaan Injil membawa orang berdosa kepada pertobatan dan pengakuan iman bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Iman tersebut dinyatakan secara nyata melalui baptisan sebagai deklarasi iman dan ketaatan. Karena itu, memberitakan Injil dan membaptis orang percaya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Amanat Agung.
  3. Amanat Agung yang ketiga adalah mengajar orang percaya untuk hidup mentaati segala perintah Yesus. Roh Kudus menuntun orang percaya untuk hidup dalam persekutuan gereja lokal sebagai komunitas iman.

Di dalam gereja lokal inilah ketiga aspek Amanat Agung dapat dilaksanakan dengan baik. Kesadaran akan Amanat Agung menegaskan bahwa tugas ini adalah panggilan gereja. Selama gereja digerakkan oleh Amanat Agung, gereja akan terus bertumbuh, melayani, dan berkarya bagi kemuliaan Tuhan. MT

Minggu 01 Februari 2026


PESAN MINGGU INI 25 JANUARI 2026

KARAKTER YANG BERBUAH JIWA-JIWA

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16)

Gereja hadir di tengah masyarakat tidak dapat dilepaskan dari tugas penjangkauan jiwa-jiwa untuk dibawa kepada Kristus. Dalam hal ini, gereja harus melakukan fungsinya sebagai saksi Kristus. Menjadi saksi Kristus melalui perkataan, perbuatan, dan kelakuan.

Bersaksi melalui perkataan atau pemberitaan biasa kita pahami dengan memberitakan Injil sebagai ketaatan kepada Amanat Agung Kristus. Khususnya dalam pemberitaan ini, disusul dengan janji penyertaan Kristus (Matius 28:19–20). Markus menulis dalam pasal 16:17 bahwa pemberita Injil disertai dengan tanda-tanda ajaib seperti yang dilakukan Yesus. Bersaksi melalui perkataan yang dimaksud adalah memperkatakan firman Tuhan dan karya Yesus yang menyelamatkan, kemudian mengajak pendengar percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi. Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa yang diperkatakan adalah kabar baik, sehingga perkataan haruslah terjaga agar tetap benar, baik, serta menyenangkan

Selanjutnya adalahbersaksi melalui perbuatan. Bersaksi melalui perbuatan adalah memberi bantuan sebagai bagian dari perbuatan baik kepada orang-orang yang membutuhkan. Bersaksi melalui perbuatan pernah menjadi tren gereja yang biasa disebut sosial gospel.

Kemudian, satu hal lagi yang perlu mendapat perhatian bagi gereja akhir zaman adalah bersaksi melalui kelakuan yang baik dan benar. Ketika Yesus mengajar, salah satu ajaran yang sangat penting kepada murid-murid-Nya adalah tentang garam dan terang dunia. Saat Yesus menyatakan, “Hendaklah terangmu bercahaya di depan orang,” Ia berbicara bukan hanya tentang perbuatan baik, tetapi juga karakter yang baik dan benar.

Dalam menjangkau jiwa, para saksi Kristus hendaklah lebih dulu berjuang membentuk diri menjadi sosok yang berkarakter baik dan benar. Kelemahan gereja akhir zaman adalah semakin langkanya para pemberita firman yang berkarakter baik dan benar, walaupun semakin bermunculan mereka yang hebat dan berkarisma. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan saksi Kristus yang berkarakter baik dan benar karena hal ini sangat berpotensi menjangkau jiwa bagi Kristus. MT
Minggu 25 Januari 2026


PESAN MINGGU INI 18 JANUARI 2026

HIDUP EFEKTIF MEMBAWA JIWA

“Ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.” (Yakobus 5:20)

Istilah membawa jiwa kepada Kristus sering mendapat kritik, karena kita tidak mungkin membawa jiwa seseorang kepada Kristus; hanya diri orang itulah yang dapat melakukannya. Yakobus ternyata cukup tepat memberi jawaban bahwa membawa jiwa adalah membawa orang berdosa kepada Kristus untuk memperoleh keselamatan. Bila disederhanakan lagi, hal ini adalah bersaksi memberitakan Injil secara bertema kepada orang lain; dengan kata lain, memberitakan Injil sampai berhasil. Berhasil dalam pengertian sampai penerima Injil itu percaya kepada Yesus. Tugas kita adalah memberitakan Injil, dan yang membuat orang percaya adalah karya Roh Kudus.

Ada dua hal yang sangat penting dalam hal membawa jiwa kepada Kristus, yaitu pemberitaan  dan pemberita. Pemberitaan  merupakan  berita yang  dibagikan  kepada  orang  berdosa  atau jiwa yang akan diselamatkan. Berita yang harus dibagikan adalah Injil atau kabar baik, yang boleh juga disebut sebagai berita sukacita. Injil harus diberitakan sebagai kebenaran sejati, yaitu jalan keselamatan satu-satunya, Yesus Kristus. Pendosa penerima anugerah keselamatan itu dibawa kepada Yesus, bukan kepada pemberita.

Kemudian, hal yang sangat penting adalah pemberitanya. Hidup pemberitalah yang pertama kali dilihat oleh jiwa yang mau dibawa kepada Yesus Kristus. Oleh karena itu, hidup pemberita haruslah hidup dalam kebenaran, sesuai dengan pemberitaannya. Tidak cukup hanya hidup baik dan benar saja, tetapi juga harus hidup dekat atau berhubungan intim dengan Yesus melalui kehidupan doa yang tekun. Bila pemberitaan sudah benar dan pemberitanya juga hidup benar, hal itu akan menjadi efektif dalam membawa jiwa kepada Kristus.

Namun, sangat perlu dipahami bahwa dalam hal membawa jiwa kepada Kristus tidak lepas dari karya Roh Kudus. Tujuan utama dari bersaksi adalah keselamatan jiwa. Jadi, pastikanlah terlebih dahulu bahwa jiwamu sudah selamat sebelum membawa jiwa kepada Kristus untuk memperoleh keselamatan.(MT)
Minggu 18 Januari 2026


PESAN MINGGU INI 11 JANUARI 2026

MENJAGA PERKATAAN DAN PERBUATAN

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” (Kolose 3:17)

Ada hal-hal yang berhubungan dengan perkataan dan perbuatan yang tidak dijelaskan secara tegas apakah salah atau benar untuk dikatakan dan dilakukan. Dalam hal ini, ada kesempatan bagi orang percaya untuk mengalami tuntunan Roh Kudus, karena Dialah Penuntun itu. Namun, rasul Paulus tetap memberi arahan agar semua orang percaya semakin belajar untuk menentukan sesuatu yang sifatnya abu-abu—apakah benar atau salah untuk dilakukan.

Arahan praktis rasul Paulus bukanlah hal yang mudah, tetapi sangat penting, dengan syarat harus didasari oleh ketulusan hati. Rasul Paulus menyatakan, “Segala sesuatu yang kamu lakukan dan katakan, lakukanlah semua dalam nama Tuhan Yesus sambil mengucap syukur.” Sesungguhnya, ada nilai-nilai hidup yang tidak secara tegas dinyatakan boleh atau tidak boleh dilakukan, dan untuk menentukan apakah benar atau tidak benar untuk dilakukan. Dalam hal ini, hendaklah semuanya dilakukan dalam nama Tuhan Yesus.

Hal ini berarti bahwa sebelum mengatakan dan melakukan sesuatu, hendaklah lebih dulu mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut :

  • Pertanyaan pertama: “Layakkah atau benarkah perbuatan ini dilakukan dalam nama Tuhan Yesus?” Dalam hal ini, bila dilakukan, cukup memadaikah untuk memuliakan Allah? Bila memadai, boleh dilakukan; bila tidak, janganlah dilakukan.
  • Pertanyaan kedua: “Dapatkah suatu kegiatan itu dilakukan dalam nama Tuhan Yesus?” Jadi, bila suatu kegiatan seperti syukuran ulang tahun dapat memuliakan Allah, boleh saja dilaksanakan, tentu kemasan acaranya dengan baik dan benar, serta tidak bertentangan dengan firman Tuhan.
  • Pertanyaan ketiga: “Apakah yang dilakukan sesuai dengan nilai-nilai Kekristenan?” Bila ternyata sesuai, lakukan saja; dan bila bertentangan, jangan dilakukan.
  • Pertanyaan keempat: “Apakah hal itu melemahkan atau menguatkan kehidupan iman?” Artinya, bila kegiatan dan perbuatan tersebut membangun kehidupan iman, lakukan saja; bila merusak, jangan dilakukan.

Jadi, bila ada suatu perbuatan yang tidak secara tegas dilarang atau diperintahkan dalam Alkitab, jangan kita segera berbuat atau langsung merasa berdosa untuk melakukannya. Tetapi bila layak dilakukan dalam nama Yesus untuk kemuliaan Allah, lakukanlah. Sebab bila Alkitab diam, kita perlu berhikmat; tetapi bila dengan tegas melarang atau memerintahkan, taatilah. MT
Minggu 11 Januari 2026


PESAN MINGGU INI 04 JANUARI 2026

ALLAH HADIR UNTUK MENYELAMATKAN KELUARGA

“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:” (Matius 1:21-23)

Lembaga pertama yang dibangun Allah bukanlah lembaga gereja ataupun lembaga negara, melainkan lembaga keluarga. Sebagai lembaga pertama dan terkecil, keluarga sangat penting bagi Allah, sehingga harus juga menjadi hal yang penting bagi umat-Nya. Berhubungan dengan hal itu, lembaga pertama yang terdampak akibat dosa pun adalah keluarga.

Adam dan Hawa menerima hukuman akibat dosa, yaitu maut atau keterpisahan dari Allah. Hukuman ini berlaku bagi seluruh manusia sepanjang zaman. Ada pula hukuman langsung yang harus diterima Adam dan Hawa, yaitu harus bersusah payah dan menderita dalam mencari nafkah. Keluarga Adam dan Hawa harus dibangun dengan perjuangan keras serta kesanggupan menghadapi berbagai pencobaan yang datang tanpa harus dicari.

Setelah anggota keluarga bertambah dengan kelahiran Kain dan Habel, masalah kembali muncul. Ketika mereka bertumbuh besar, terjadilah pertikaian akibat iri hati yang tidak terselesaikan, sehingga terjadi pembunuhan. Namun demikian, Allah tetap berinisiatif untuk melanjutkan kelangsungan keluarga. Kematian Habel, sebagai bukti nyata adanya kematian, direspons Allah dengan menghukum Kain dan memberikan Set sebagai pengganti Habel.

Walaupun manusia telah jatuh dalam dosa, Allah tetap memakai keluarga untuk melanjutkan kehidupan manusia. Injil Matius menyatakan bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa, dan keselamatan itu berlaku serta terbuka bagi semua orang. Yesus hadir dengan nama Imanuel, karena di dalam diri-Nya Allah menyertai manusia. Janji Yesus sebelum Ia naik ke surga adalah, “Aku menyertai kamu sampai kepada kesudahan zaman.” Dalam hal ini, Allah di dalam Yesus Kristus selalu menyertai orang percaya.

Ia hadir untuk menyertai umat-Nya, dan Ia hadir melalui sebuah keluarga, yaitu Yusuf dan Maria. Hal ini menjelaskan dengan sangat jelas bahwa Ia datang untuk menyelamatkan keluarga dan menyertai semua keluarga orang percaya. Karena itu, setiap orang percaya hendaklah menaruh iman kepada-Nya dan membuka hati untuk hidup selalu dalam penyertaan Allah. Semua keluarga umat Tuhan hendaklah senantiasa menyambut kehadiran-Nya, sebab Ia datang untuk menyelamatkan dan menyertai keluarga. MT
Minggu 04 Januari 2026