PESAN MINGGUAN 2021

Pesan Mingguan Tahun Lalu : Pesan Mingguan 2020


PESAN MINGGU INI 26 SEPTEMBER 2021

MEMPELAI KRISTUS

Wahyu 19:7-8 “Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!” [Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.] 

Mempelai Kristus adalah merupakan lambang dari gereja Kristus. Dalam Wahyu 19 ini ada 2 pendapat tentang gereja Tuhan sebagai mempelai Kristus.

Pertama adalah pendapat mengenai mempelai Kristus yang sudah berada di surga sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali ke dalam bumi. Hal itu berarti sebagian pendalam Alkitab menafsirkan bahwa gereja sudah diangkat ke surga sebelum kedatangan Kristus. Alasan yang mereka angkat untuk pendapat ini adalah bahwa mempelai sudah berpakaian lengkap untuk memasuki perjamuan kawin Anak Domba. Kemudian berpakaian lengkap sebagai penjelasan bahwa orang-orang kudus telah berkarakter benar dan hidup kudus adalah kondisi gereja Tuhan yang sudah berada dalam surga. Sudah jelas bila perilaku benar dan hidup kudus adalah merupakan keadaan gereja Tuhan setelah berada di dalam surga. Sedangkan kejadian dalam Wahyu 19 ini adalah kejadian yang dijelaskan terjadi sebelum kedatangan Yesus yang kedua kali ke dalam bumi.

Kedua adalah sebagian pendalam Alkitab menafsirkan bahwa mempelai Kristus dalam perkawinan anak domba terjadi setelah kedatangan Kristus yang kedua kali. Para pendalam Alkitab ini berpendapat tak mungkin ada pesta perkawinan anak domba sebelum kedatangan Yesus yang kedua. Kemudian mereka berpendapat bahwa pengantin atau gereja Tuhan bisa hidup benar atau berpakaian lengkap di bumi ini, dan sesungguhnya haruslah demikian.

Pertanyaannya sekarang adalah yang manakah yang benar? Dalam hal ini perlu kita bijaksana dalam pengertian bahwa pengertian dan penafsiran selalu tidak mutlak benar dan haruslah terbuka pada kenyataan mungkin salah. Itulah sebabnya firman Tuhan tidak memberi kepastian waktu tepatnya kedatangan Tuhan Yesus yang kedua. Sebab itu firman Tuhan berulang-ulang dan dengan berbagai cara menganjurkan orang percaya bersiap-siap. Bersiap-siap dengan cara tetap setia kepada Yesus dan tetap juga setia membangun hidup kerohanian dan karakter semakin hidup kudus dan benar. Jangan pernah ragu tetaplah bersemangat mengikut Kristus karena cepat atau lambat Dia akan datang, peraya atau tidak percaya Dia pasti datang. Teruslah berusaha memiliki dan mengenakan pakaian lenan halus sebagaimana seharusnya mempelai Kristus. Teruslah berjuang memperbaiki hidup melalui perbuatan-perbuatan benar. Seperti rasul Paulus menyatakan bahwa betul kita belum sempurna, tetapi kita sedang berjalan, terus berjalan menuju kepada kesempurnaan.

Menanti Yesus datang ke-dua kali, pastikan bahwa saudara sedang berjalan menuju kepada kesempurnaan itu. Perlu juga menepis pendapat tidak mungkin hidup benar di bumi ini. Kita justru haruslah berjuang hidup benar, sebab tanpa kebenaran pastilah surga hanya impian belaka. Benar harus! Sempunra tidak mungkin. Tetapi teruslah melangkah kepada kesempurnaan. (MT)
Minggu 26 September 2021


PESAN MINGGU INI 19 SEPTEMBER 2021

KESUCIAN DAN KEBANGUNAN ROHANI

2 Korintus 6:1-2 “Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima. Sebab Allah berfirman: “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.” Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu” 

Kebangunan rohani selalu dihubungkan dengan pencurahan kasih karunia Allah, hujan pertobatan dan penuaian jiwa-jiwa. Tentu peristiwa yang sangat dirindukan ini adalah kondisi kehidupan rohani Kristiani yang sangat menggairahkan. Kebangunan rohani ini adalah doa yang terus menerus dipanjatkan pengikut Kristus sepanjang zaman. Kita semua orang percaya sama seperti rasul Paulus sangat percaya bahwa semua orang yang percaya dan menerima pemberitaan Injil akan mengalami keselamatan. Saat pencurahan kasih karunia Allah atau masa perkenanan Allah tiba akan banyak orang yang diselamatkan. Setelah diselamatkan belum cukup, masih ada langkah kelanjutan agar kasih karunia Allah tidak menjadi sia-sia. Filipi 2:12 “Hai saudara-saudaraku yang kekasih kamu senantiasa taat, karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih tidak hadir, tetapi terlebih juga sekarang waktu aku tidak hadir”. Keselamatan bukan hanya diterima tetapi harus dikerjakan dalam pengertian harus mengisi keselamatan itu dengan baik dan benar. Orang yang diselamatkan bukan hanya bertobat dalam pengertian perubahan karakter, dari karakter yang tidak berkenan kepada Allah menjadi karakter yang berkenan kepada Allah. Tidak cukup menikmati perkenanan Allah harus dilanjutkan dengan perjuangan hidup berkenan kepada Allah. Mengerjakan keselamatan haruslah disertai dengan membangun intimitas dengan Kristus dan menerima kuasa-Nya agar mampu menentang keinginan berdosa serta mentaati tuntunan Roh Kudus untuk terus bergairah melakukan kebenaran sesuai dengan firman Allah.

Kebangunan rohani harus pula mendorong semua orang percaya hidup dalam kesucian. Kebangunan rohani tidak boleh dibiarkan berdampingan dengan kecerobohan rohani. Kebangunan rohani adalah merupakan anugerah yang indah, bukan anugerah yang berlebihan. Kebangunan rohani adalah merupakan anugerah yang dimuliakan bukan anugerah yang disia-siakan. Semua orang percaya yang sudah diselamatkan jangan dibiarkan hidup semaunya atas alasan hidup dalam anugerah Allah bila itu yang terjadi berarti terperangkap kepada sikap menyia-nyiakan anugerah Allah. Semua orang yang sudah diselamatkan harus didorong menghargai anugerah Allah dengan hidup dalam kekudusan. Hidup dalam kekudusan tak terpisahkan dari hidup selamat dalam Kristus. Hidup kudus adalah merupakan wujud rasa syukur kepada kasih Allah tanpa kekudusan adalah merupakan menyia-nyiakan karunia Allah. (MT)
Minggu 19 September 2021


PESAN MINGGU INI 12 SEPTEMBER 2021

HIDUP KUDUS DI AKHIR ZAMAN

Galatia 5:22-24 “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.”

Berbagai kondisi tanda akhir zaman adalah kejahatan semakin meningkat, manusia semakin cinta uang dan mengabaikan ibadah dan pengabdian kepada Allah. Akibatnya adalah yang jahat semakin jahat. Tetapi di samping tanda-tanda yang negatif ada juga tanda-tanda yang positif. Tanda-tanda yang positif adalah terjadinya penuaian jiwa-jiwa dan juga terjadinya hujan pertobatan. Akibat positifnya tentu adalah yang baik akan semakin baik. Dengan demikian pada akhir zaman ini kita dihadapkan kepada 2 pilihan, sehingga hidup semakin jahat atau semakin baik adalah merupakan suatu keputusan yang harus dipenuhi dan dituntun Roh Kudus. Bila sudah dipenuhi Roh Kudus sudah pasti Roh Kudus menuntun membuat keputusan secara benar dan tepat yaitu hidup benar dan baik agar ke depan hidup yang kita jalani adalah semakin baik, semakin benar dan semakin kudus. Berjalan dalam tuntunan Roh Kudus berarti memberi keleluasaan Roh Kudus menghasilkan buah-buah di dalam dan melalui hidup kita. Buah-buah Roh Kudus adalah juga merupakan nilai-nilai kehidupan yang menjadi fokus utama dalam kehidupan pengikut Kristus yang hidup taat dan pelaku firman Tuhan.

Akhir zaman bagi pengikut Kristus yang setia menjadi kesempatan untuk hidup semakin kudus. Rasul Paulus memberi nasehat sebagai hal penting menjadi pegangan hidup para pengikut Kristus di akhir zaman ini. Kesadaran yang kuat bahwa kita adalah milik Kristus memberi motivasi yang kuat untuk membangun hidup di tengah manusia yang semakin jahat. Seorang milik Kristus menyadari bahwa dirinya bukan miliknya apalagi milik dunia. Kepemilikan Kristus atas diri kita adalah kekuatan Kristus yang nyata meraih diri kita untuk semakin dekat kepada-Nya. Sebagai milik Kristus kita terpanggil untuk menyalibkan keinginan daging dan segala hawa nafsu yang bertentangan dengan hidup yang dinyatakan oleh Kristus.

Dengan demikian perlu kita pahami menjadi milik Kristus tidak otomatis kita hidup seperti Kristus tetapi perlu meneladani perjuangan Kristus yang nyata tersalib untuk kita. Sama halnya dengan hidup dipenuhi Roh Kudus tidak otomatis kita menyatakan buah-buah Roh Kudus dalam dan melalui hidup kita. Haruslah kita siap dituntun Roh Kudus dan juga berjuang untuk terus hidup peka dan taat kepada tuntunan-Nya. Jadi hanya dengan mentaati Kristus dan mentaati tuntunan Roh Kudus kita dapat hidup kudus pada akhir zaman ini. (MT)
Minggu 12 September 2021


PESAN MINGGU INI 05 SEPTEMBER 2021

BERJAGA-JAGA DI AKHIR ZAMAN

Matius 25:12-13 “Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”

Perumpamaan sepuluh gadis yang terbagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok bijaksana dan kelompok bodoh adalah ajaran Yesus mengenai sikap yang tepat dan benar menyambut kedatangan-Nya yang kedua kali atau akhir zaman. Gadis bijaksana bukan saja mempunyai pelita yang menyala tetapi juga sangat berjaga-jaga akan kemungkinan kedatangan sang mempelai yang sewaktu-waktu bisa datang secara tiba-tiba. Gadis bijaksana selalu siap dengan minyak cadangan. Berbeda dengan gadis bodoh yang berpuas diri dengan pelita yang menyala tanpa ada minyak cadangan. Saat pelita padam karena kehabisan minyak barulah mereka pergi mencarinya. Saat kondisi pelita padam dan mereka mencari minyak mempelai datang dan para gadis bodoh yang tak siap karena tidak berjaga-jaga akhirnya tertolak.

Dalam hal menanti akhir jaman harus disikapi dengan berjaga-jaga, dalam pengertian pelita terus menyala dengan minyak cadangan yang selalu tersedia. Pelita yang terus menyala dan tersedianya minyak cadangan perlunya kesetiaan dalam menunggu sampai Dia datang dengan pengertian setia sampai akhir. Pelita yang terus menyala adalah merupakan wujud yang tampak luar atau semangat yang terus membela baik dalam doa dan ibadah juga semangat hidup dalam kebenaran dan mengabdikan diri sebagai saksi Kristus. Sedangkan minyak dalam perumpamaan ini adalah melambangkan iman yang sejati yang juga nyata melalui hidup dalam kebenaran dan selalu terbuka atas kehadiran dan tuntunan Roh Kudus dalam hidup setiap saat.

Melalui perumpamaan gadis yang bijaksana dan gadis yang bodoh ini kita dibukakan akan tiga kenyataan yang selalu ada dalam gereja Tuhan:

  1. Kenyataan akan adanya perbedaan sikap dalam hal menanti akhir zaman. Ada yang berjaga-jaga karena memperhitungkan kedatangan Tuhan atau akhir zaman itu bisa datang pada waktu yang tak terduga. Konsep yang selalu dikembangkan adalah “tak lama lagi Tuhan-Ku datanglah”. Dia pun akan selalu menjaga hidupnya agar hubungannya dengan Kristus tetap dibangun semakin akrab.
  2. Kenyataan bahwa dalam gereja ada yang sibuk dengan hidup dunia dengan anggapan Yesus belum akan datang atau akhir zaman itu belum jelas kapan terjadi sebab dari zaman Yesus di bumi ini sudah dinyatakan sudah dekat dan tak lama lagi.
  3. Kenyataan yang terjadi pada akhir zaman bahwa yang berjaga-jaga dan tak berjaga-jaga, bahwa yang mengatakan sebentar lagi dan masih lama akan sama-sama terkejut akan fakta kedatangan Yesus dan akhir zaman.

Jadi betul juga nasehat pengikut Kristus yang bijak dengan pernyataan bijak “Teruslah bekerja cerdas dan bekerja keras seakan-akan Yesus masih lama datang tetapi dalam waktu yang sama hiduplah kudus benar seakan-akan besok Yesus akan datang”. (MT)
Minggu 05 September 2021


PESAN MINGGU INI 29 AGUSTUS 2021

MENGEMBANGKAN POTENSI DIRI

Roma 12:8 “Jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita”.

Allah memberi talenta kepada manusia dengan jumlah yang berbeda-beda. Bukan jumlah talenta itu yang penting tetapi bagaimana talenta itu diterima, dihargai dan dikembangkan, itulah hal yang utama. Satu talenta yang dikembangkan jauh lebih berguna dari lima talenta yang disimpan. Roh Kudus memberi karunia kepada orang percaya dengan karunia yang berbeda-beda. Bukan masalah didalami atau dipahami tetapi bagaimana karunia itu dioperasikan dalam melayani sesama.

Apakah talenta dan karunia itu sama atau berbeda? Jawabannya adalah sama dan berbeda. Sama karena sumbernya sama tetapi berbeda dalam pengertian bahwa talenta adalah potensi diri yang menyertai manusia itu atau dibawa manusia sejak lahir dan sifatnya adalah universal. Sedangkan karunia adalah pemberian Allah kepada orang percaya untuk perlengkapan rohani dalam pelayanan dan sifatnya adalah khusus untuk perlayanan gereja atau pekerjaan Tuhan. Bila talenta dapat disebut potensi diri dalam menjalani kehidupan sedangkan karunia adalah perlengkapan rohani yang diberikan Allah untuk melengkapi umat-Nya dalam melayani Tuhan dan melayani sesama. Tetapi judul “Mengembangkan potensi diri” dalam renungan dan pesan ini dihubungkan  dengan karunia rohani dalam pelayanan. Dalam hal ini karunia pelayanan tentu saja adalah potensi rohani atau potensi Allah yang dikaruniakan Allah untuk memperlengkapi hambanya, yang tidak akan pernah menjadi potensi diri dari orang percaya. Tetapi semua orang percaya dapat menggunakan dan mengoperasikan karunia itu dengan baik dan maksimal agar nama Tuhan dipermuliakan. Terimalah karunia menasehati dengan memperkatakan firman Tuhan dengan taat dan sungguh-sungguh. Firman Tuhan akan membangkitkan iman dan memotivasi pendengar untuk semakin menyerahkan diri kepada Tuhan.

Mari kita terus berjuang untuk membagi berkat kepada sesama, karena umat yang menerima karunia berbagi serta terus mengoperasikannya pasti semakin berpotensi untuk berbagi karena Allah menggenapi janji berkat yang melimpah kepadanya. Para hamba-Nya yang diberi karunia memimpin akan selalu disertai dengan kerinduan dan kemampuan untuk mensejahterakan kerohanian sesama. Jadi karunia akan tetap menjadi karunia tidak akan pernah menjadi potensi diri. Bila kemudian ada yang menyatakan dan mengubahnya menjadi potensi diri hal itu adalah sikap mencuri kemuliaan Allah. Potensi diri adalah talenta yang bisa kita kembangkan dan dapat kita gunakan untuk kemuliaan Tuhan serta melayani Tuhan dan sesama. Tetapi semua anak Tuhan yang terus mengembangkan potensi diri dengan baik biasanya terbuka juga kepada karunia Allah dan terus sungguh-sungguh mengoperasikannya untuk melayani Tuhan dan sesama. (MT)
Minggu 29 Agustus 2021


PESAN MINGGU INI 22 AGUSTUS 2021

MENJAGA PERGAULAN

1 Korintus 15:33-34 “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu”

Manusia adalah makhluk sosial yang tak mungkin hidup sendiri, karena semua manusia membutuhkan manusia yang lain dalam melanjutkan kehidupannya. Jeritan hati manusia yang tak bisa di dengar adalah “Aku membutuhkan aku yang lain”. Jadi manusia sangat membutuhkan suatu komunitas dalam mengembangkan hidupnya, hanya saja perlu memilih komunitas yang baik dan benar tempat kita bersosialisasi dengan orang lain. Dalam kehidupan para pengikut Kristus sangat penting untuk mengetahui bahwa Yesus bukan hanya menyelamatkan manusia berdosa tetapi juga membawa orang yang diselamatkan itu untuk hidup bersekutu dengan orang percaya lain.

Dari awal berdirinya gereja Roh Kudus telah menuntun orang percaya untuk hidup bersama dalam komunitas yang benar. Tetapi dalam perkembangannya jauh ke depan tak terhindarkan bahwa orang percaya itu bersekutu dengan dunia luar yang tak selalu terdekteksi keadaan baik buruknya komunitas tresebut. Keadaan ini sudah jelas terjadi dihadapan rasul Paulus sehingga membuat suatu pernyataan yang sangat bernilai abadi dan perlu mendapat perhatian dari pengikut Kristus sepanjang zaman “Janganlah sesat. Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Peringatan rasul Paulus ini sangat tegas untuk mengingatkan pengikut Kristus agar selektif dalam memilih teman untuk bergaul. Rasul Paulus dalam hal ini bukanlah sedang mengusulkan pendapatnya tetapi dia mendasari nasehatnya itu dengan firman Tuhan. Amsal 22:24-35 “Janganlah berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah. Supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri.” Dalam hal ini firman Tuhan memerintahkan kita jangan bergaul dengan orang-orang yang tak mampu menguasai dan memimpin diri sendiri, karena berdampak kepada perilaku diri orang yang bergaul dengan mereka. Rasul Paulus tidak bermaksud memerintah orang percaya harus bergaul dengan orang percaya biar aman. Tetapi justru dia mengingatkan agar pengikut Kristus hati-hati juga memilih teman bergaul dalam komunitas orang percaya karena faktanya ada juga di antara mereka yang tidak mengenal Allah.

Jadi pergaulan dengan orang-orang yang bukan saja percaya kepada Allah tetapi sungguh-sungguh mengenal Allah. Rasul Paulus sangat paham bila seseorang mengenal Allah dalam Yesus Kristus pasti hati-hati dengan perilakunya. Dia tetap manusia yang mempunyai kelemahan dan kekurangan, tetapi dia akan terus berjuang memperbaiki perilakunya. Dan bila bergaul dengannya berarti akan sama-sama terus belajar semakin baik dalam bersikap. (MT)
Minggu 22 Agustus 2021


PESAN MINGGU INI 15 AGUSTUS 2021

BERKARYA BAGI BANGSA

Roma 13:4 “Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat”.

Nabi Yeremia mengingatkan bangsa Yehuda yang terbuang ke Babel agar melakukan dua hal penting untuk bangsa Babel yang telah menawarkan mereka sebagai bangsa tawanan tetapi dari pihak Allah menyatakan umat-Nya terbuang ke Babel:

  1. Bangsa Yehuda harus berdoa untuk bangsa babel tempat mereka terbuang. Berdoa berarti memohon campur tangan Allah untuk pembangunan bangsa Babel. Tentu tidak mudah bagi bangsa pilihan Allah mendoakan bangsa yang bukan saja menjajah Yehuda. Tetapi menawan dan mengangkut bangsa itu sebagai tawanan perang. Sebagai tawanan tentu saja orang Babel menjadikan mereka pekerja keras untuk membangun kato-kato Babel, sekaligus membangun perekonomian bangsa Babel. Mungkin saja bangsa Yehuda mengingat kondisi nenek moyang mereka yang diperbudak di Mesir selama ratusan tahun sebelum Allah memakai Musa memimpin keluar dari negeri perbudakan itu. Tetapi firman Tuhan memerintahkan mereka harus berdoa untuk bangsa penyembah berhala yang menawan dan tentu saja memperbudak mereka. Mendoakan dapat juga diartikan mengasihi, dan dapat juga diartikan melibatkan diri dalam setiap usaha pembangunan bangsa Babel.
  2. Mengusahakan kesejahteraan Babel, karena kesejahteraan Babel adalah kesejahteraan mereka juga. Dalam hal ini orang Yehuda diperintahkan bekerja keras, bekerja cerdas dan tulus. Berarti bangsa Yehuda harus bekerja tanpa harus menuntut keadilan. Tujuan mereka bekerja keras adalah menyejahterakan bangsa penjajah. Tentu saja sangat sulit bagi orang Yehuda. Tetapi sepertinya Yehuda taat saja. Mereka diperbudak, tetapi firman Tuhan itu membuat mereka tidak bermental budak.

Dalam perkembangan sejarah membuktikan umat Israel unggul dari semua bangsa termasuk dari bangsa-bangsa yang pernah memperbudak mereka. Firman Allah tidak berubah, tetap memerintahkan agar umat-Nya tunduk dan taat kepada pemerintah di mana umat Tuhan sebagai warga negara. Perintah tunduk kepada pemerintah sama saja perintah untuk terlibat dalam pembangunan bangsa di mana umat Tuhan sebagai warga negara. Pemerintah dengan segala kekurangannya adalah hamba Allah untuk kebaikan umat-Nya. Mungkin saja sikap pemerintah kurang adil kepada umat Tuhan dalam satu bangsa karena kondisi masyarakat suatu bangsa. Tetapi tetaplah menjadi warga negara yang baik yang tunduk kepada pemerintah dan  mentaati undang-undang negara di mana umat Tuhan menjadi warganya. Terus berkarya mengusahakan kesejahteraan bangsa di mana umat Tuhan hidup. Terus berkarya bekerja lebih keras dan lebih cerdas walaupun dipersulit. Ke depan sejarah akan membuktikan umat Tuhan yang terus berkarya akan terbentuk lebih unggul dari yang lain. (MT)
Minggu 15 Agustus 2021


PESAN MINGGU INI 08 AGUSTUS 2021

MENGHORMATI ORANGTUA

Keluaran 21:15-17  “Siapa yang memukul ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati. Siapa yang menculik seorang manusia, baik ia telah menjualnya, baik orang itu masih terdapat padanya, ia pasti dihukum mati. Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya, ia pasti dihukum mati.”

Sudah sangat jelas kita ketahui bahwa berkat dan usia lanjut adalah merupakan janji Allah bagi yang menghormati orangtua. Kita menghormati orangtua tentu saja karena jasa-jasa orangtua  membesarkan melalui perjuangan hidup dan tak jarang melalui pengorbanan. Tetapi sesungguhnya yang lebih benar dan tepat adalah kita menghormati orangtua karena mereka adalah orangtua kita. Menghormati orangtua adalah ketaatan kepada firman Tuhan bukan membalas jasa orangtua semata sebab membalas jasa adalah satu hal sedangkan menghormati adalah hal lain. Faktanya banyak juga orangtua yang tidak bertanggung jawab membesarkan anak-anaknya. Tidak sedikit juga anak yang menderita karena kurang mendapat kasih dan perhatian yang sangat dibutuhkan oleh seorang anak dalam pertumbuhannya sampai dewasa. Ada banyak alasan seorang anak tidak menghormati orangtuanya. Bahkan ada yang merasa dan membuat pernyataan tak ada alasan baginya untuk menghormati orangtuanya. Lebih mengenaskan lagi bahwa ada anak yang mengatakan bahwa menghormati orangtua adalah merupakan sikap yang tidak adil.

Orangtua yang gagal menjadi orangtua bukanlah hal yang baru tetapi sudah ada sejak zaman Perjanjian Lama, sehingga firman Tuhan telah berinisiatif untuk melindunginya. Jadi Alkitab bukan hanya memerintahkan menghormati orangtua tetapi juga melarang bersikap kurang hormat dan kurang ajar terhadap orangtua. Siapa memukul ayahnya atau ibunya pastilah ia dihukum mati. Tentu ada alasan yang cukup kuat dari seorang anak memukul orangtuanya. Sama halnya dengan Absalom yang mempunyai alasan yang kuat mengusir ayahnya Daud dari istana. Daud yang menyadari adanya faktor kesalahannya sebagai orangtua berusaha menghindari bentrok dengan anaknya. Tetapi Absalom tetap saja menemui ajalnya secara tragis walaupun tak divonis hukuman mati sesuai dengan hukum yang berlaku. Kemudian firman Tuhan juga mengatakan “Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya, ia pasti akan dihukum mati”. Firman Tuhan juga melindungi orangtua dari kata-kata kasar dan kata-kata yang mengutuk orangtua oleh anak-anaknya. Betul ada banyak alasan seorang anak berkata-kata kasar kepada orangtuanya, tetapi firman Tuhan jelas seorang anak haruslah bersikap hormat melalui kata-kata dan perbuatan terhadap orang tuanya. Menghormati orangtua adalah perintah yang harus ditaati dan bersikap kurang ajar kepada orangtua melalui perkataan dan tindakan adalah larangan yang harus dipatuhi. Hormat kepada orangtua diberkati Tuhan dengan kesejahteraan dan usia lanjut sedangkan durhaka kepada orangtua dinanti oleh penderitaan dan kematian. Pilihan dan putuskanlah menghormati. (MT)
Minggu 08 Agustus 2021


PESAN MINGGU INI 01 AGUSTUS 2021

GENERASI BERPRESTASI

1 Timotius 4:16 “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.”

Rasul Paulus sangat menyadari bahwa alih generasi tak mungkin dihindari. Saat menulis suratnya kepada Timotius rasul Paulus mungkin masih belum terlalu tua tetapi sangat menyadari kematian bisa saja datang secara tiba-tiba kepadanya. Itulah sebabnya dalam surat-surat penggembalaannya cenderung memberi pesan-pesan penting kepada generasi berikutnya. Rasul Paulus sangat berharap bila generasi penerusnya menjadi pelayan Tuhan yang jauh lebih baik dan lebih berani dari dirinya sendiri. Hal itu sangat jelas melalui pesan-pesan pentingnya kepada Timotius. “Awasilah dirimu dan awasilah ajaranmu”. Pesan yang mengandung pengertian tingkatkanlah potensi dirimu dan kualitas ajaranmu. Boleh juga diartikan jangan pernah berhenti belajar.

Dalam 2 Timotius 3:15-16, Rasul Paulus membuat pernyataan bahwa Timotius sudah sejak kecil mengenal kitab suci. Jelas bahwa Timotius adalah seorang yang gemar membaca sebagai syarat utama dalam hal belajar. Suatu keputusan yang paling tepat untuk meningkatkan potensi diri dalam pelayanan. Sama seperti Rasul Paulus. Timotius mengerti penting dan vitalnya kehidupan tekun berdoa tetapi berdoa bukanlah pengganti belajar melainkan memberi gairah dan meningkatkan kualitas belajar.

Alkitab adalah Firman Allah yang tertulis yang dianugerahkan Allah untuk dibaca dan dipelajari. Tuhan Yesus saja melawan iblis yang menyalahgunakan Firman dengan memperjelas dan memperluas jangkauan Firman itu menggunakan Firman yang tertulis. Ada kecenderungan hamba-hamba yang terkategorikan hamba Tuhan besar menggunakan penglihatan dan nubuat mendongkrak popularitasnya. Cara ini sangat digemari jemaat zaman now. Tetapi hal-hal seperti ini perlu disikapi dengan menguji apakah sesuai dengan firman Tuhan. Dan hanya orang tekun belajarlah yang punya kapasitas menguji nubuat dan penglihatan. Belajar untuk meningkatkan potensi diri adalah keputusan yang diambil serta terus tekun dan disiplin untuk mempraktekkannya dalam hidup sehari-hari. Mengawasi diri dan ajaran adalah satu kesatuan sama halnya mengetahui dan melaksanakan tak boleh dipisahkan. Dan dampaknya sangat berharga, bermanfaat dan berkualitas yaitu menyelamatkan diri dan menyelamatkan penerima ajaran.

Rasul Paulus tidak puas prestatif sendiri, tetapi memastikan bahwa generasi setelah dirinya haruslah berprestasi dan lebih  berprestasi dari dirinya sediri. Biasanya satu generasi yang berkanjang kepada penglihatan, nubuat dan mujizat akan meninggalkan generasi yang lemah mudah goyah, syukur-syukur tidak jadi hilang. Tetapi generasi yang tekun belajar dan berhasil meninggalkan kepada generasi berikutnya akan menjadi generasi penerus yang kuat dan mempunyai prestasi yang meningkat. (MT)
Minggu 01 Agustus 2021


PESAN MINGGU INI 25 JULI 2021

MENABUR KEBAJIKAN

Matius 25:40, 45 “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku”.

Matius 25 adalah topik penting yang dibicarakan Yesus sebelum penderitaan-Nya. Bagian penting dalam topik itu adalah bagian yang membicarakan sikap Yesus kepada pengikut-Nya pada saat Yesus datang kedua kali sebagai hakim. Bagian dalam penghakiman itu adalah Yesus menyatakan sikap-Nya kepada pengikut-pengikut-Nya yang selama hidup menabur kebajikan kepada sesama. Yesus memberkati dan menempatkan mereka di sebelah kanan-Nya karena mereka berbuat kebajikan kepada Yesus. Pengikut Kristus yang diberkati tidak merasa melakukan kebajikan kepada Yesus, karena mereka merasa melakukan kebaikan apa yang harus mereka lakukan terhadap sesama sebagai pengikut Kristus. Ternyata Yesus yang melambangkan diri-Nya sebagai Raja mengatakan bahwa segala kebajikan yang mereka lakukan kepada sesama adalah melakukannya kepada Tuhan. Tetapi kepada yang di sebelah kiri-Nya Yesus menyatakan hal yang sangat berbeda, Yesus berkata “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke api yang kekal yang telah tersedia untuk iblis dan malakat-malaikatnya”. Orang di sebelah kirinya pun merasa raja tak pernah mengalami kesulitan dan wajar saja mereka tak berbuat apa-apa. Raja yang adalah Yesus yang menjadi hakim pada masa penghakiman menjawab “Kamu tidak melakukan kebajikan untuk Aku”. Dalam hal ini berarti mereka tidak melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan.

Kemudian ada dua hal penting yang perlu kita pahami:

  1. Yesus membedakan domba dan kambing. Domba adalah gambaran orang percaya yang taat walaupun banyak kekurangan dan kelemahan. Sedangkan kambing adalah lambang orang percaya yang suka melawan dan memberontak. Domba dan kambing gambaran orang percaya yang sama-sama tahu kebajikan yang harus dia lakukan tetapi kambing tak melakukannya.
  2. Yesus membedakan  orang percaya yang ada di sebelah kanan dan orang percaya di sebelah kiri. Sebelah kanan adalah orang percaya yang dipercaya oleh Yesus.

Jadilah orang taat, dipercaya Yesus. Pastikan setia menabur kebajikan. Sebab itu teruskanlah-teruskanlah kau begitu berbuat kebajikan. Teruskan-teruskanlah kau begitu, tetap setia. Lakukanlah kebajikan dengan setia kepada sesama, karena sesungguhnya hal itu adalah menabur kebajikan  untuk kemuliaan Allah. (MT)
Minggu 25 Juli 2021


PESAN MINGGU INI 18 JULI 2021

KESEHATAN KEUANGAN

Kejadian 41:49 “Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung”

Dalam kejadian 39:2 tertulis karena Allah menyertai Yusuf sehingga dia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya. Kemudian dilanjutkan dengan proses perjalanan hidupnya hingga menjadi orang penting di istana raja Firaun. Kemudian dalam pengaturannya atas logistik bangsa Mesir, Yusuf sangat berhasil membuat perbekalan satu bangsa terjamin bahkan masih mencoba berbagi dengan bangsa lain. Hal itu terjadi karena selama 7 tahun masa kelimpahan hasil pertanian disimpan dalam persiapan untuk masa paceklik yang akan terjadi pada 7 tahun setelah masa kelimpahan. Dengan demikian kesehatan perbekalan dan ekonomi Mesir sangat terjamin dalam pimpinan Yusuf. Tentu saja hal itu mungkin karena Allah menyertai Yusuf.

Kita dapat belajar dari Yusuf berkaitan dengan usaha untuk membangun kesehatan keuangan dalam keluarga atau keuangan secara pribadi. Perlu juga dijelaskan keuangan yang sehat itu seperti apa ya. Keuangan yang sehat tidaklah keuangan yang melimpah. Sebab kalau diartikan demikian orang yang mempunyai uang secukupnya berarti keuangannya tidak sehat. Keuangan yang sehat adalah keuangan yang cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari dan dapat menanggulangi kebutuhan yang bersifat insidensial seperti siap saat penyakit menimpa anggota keluarga. Berkaca pada fakta karya Yusuf untuk menyehatkan perbekalan dan ekonomi Mesir maka hal yang prinsip dilakukan untuk mengupayakan kesehatan keuangan adalah tidak menghambur-hamburkan uang saat hidup dalam kelimpahan. Artinya adalah betapa pentingnya hidup hemat dan berbagi. Hemat dan berbagi sepertinya adalah dua hal yang bertentangan tetapi sesungguhnya tidak demikian. Dalam pimpinan Yusuf, Mesir adalah bangsa yang berbagi justru masa sukar sehingga tetap harus menghemat. Sudah dapat dipastikan juga pada masa limpah Yusuf tetap berbagi dan tetap menghemat.

Penerapannya sekarang adalah memahami dan mempraktekkan betapa pentingnya menabung agar kesehatan keuangan tetap terjamin. Semua berkat yang diperoleh dikelola sebaik-baiknya, jangan dihamburkan kepada hal yang tak bermanfaat. Perlu menabung untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan masa sukar yang biasanya datang secara tiba-tiba. Faktanya ada banyak orang yang uangnya melimpah tetapi keuangannya tidak sehat. Hal itu terjadi karena pengelolahan yang salah. Tujuh(7) tahun masa kelimpahan di Mesir tak membuat bangsa itu menghambur tetapi justru menyimpan dengan cukup ketat, sehingga pada masa sukar mereka betul-betul sudah siap. Jadi kesehatan keuangan bukanlah soal banyaknya perolehan tetapi adalah soal bijaknya pengelolahan. (MT)
Minggu 18 Juli 2021


PESAN MINGGU INI 11 JULI 2021

INTEGRITAS DALAM PEKERJAAN

1 Samuel 17:15 “Tetapi Daud selalu pulang dari pada Saul untuk menggembalakan domba ayahnya di Betlehem”.

Pekerjaan utama Daud adalah sebagai gembala walaupun menggembalakan domba keluarganya. Penugasan penggembalaan itu diterima dari ayahnya. Statusnya sebagai anak bungsu tidak dijadikan alasan menolak penugasan itu, tetapi diterima dan dikerjakan secara bertanggung jawab. Tanpa disangka-sangka Samuel mengurapinya menjadi raja Israel menggantikan raja Saul.

Berselang sementara waktu Daud dipanggil lagi ke istana Saul sebagai penghibur dan penyemangat hidup raja Saul, karena Roh Tuhan telah meninggalkan raja Saul. Permainan kecapi yang dipakai Daud mengiringi Mazmurnya berhasil menyemangati Saul. Saul tidak tahu sama sekali, bila Daud telah diurapi imam Samuel menjadi raja menggantikannya atas perintah Allah. Daud sendiri tidak menjadikan fakta pengurapannya itu menjadi alasan untuk mengubah sikapnya terhadap kakak-kakaknya dan terhadap raja Saul. Tidak juga kepada ayahnya. Daud tetap pada pekerjaan utamanya sebagai gembala. Istana tak mampu menahannya untuk terus pergi ke padang  gurun menggembalakan domba-dombanya. Saat Isai ayahnya menugaskannya membawa bekal untuk kakak-kakaknya yang sudah 40 hari berkemah di medan perang bersiap-siap menghadapi orang Filistin dengan pahlawan tunggal Goliat yang menantang orang Israel yang berani menghadapinya. Daud taat kepada ayahnya. Melihat kesombongan Goliat, keberanian Daud tiba-tiba timbul dan menawarkan diri kepada Saul untuk menghadapi Goliat. Karena Daud menghadapi Goliat atas nama Allah, dia sangat gemilang mengalahkan Goliat yang membuat tentara Filistin mundur dan terkalahkan. Selanjutnya atas petunjuk Yonatan anak Saul, Daud memerangi Filistin dan menjadi pahlawan pemenang untuk bangsanya. Kepulangannya dari medan laga disambut putri-putri dengan pujian sesuai fakta kemenangannya. Hal itu membuat raja Saul iri hati dan hampir saja berhasil membunuh Daud yang sedang bermain kecapi mengiringi Mazmur untuk menghibur raja Saul.

Dalam perjalanan sejarah selanjutnya Daud harus mengalami berbagai proses yang sangat menyulitkan dirinya sebelum dia menjadi raja kedua bangsa Israel untuk menggantikan raja Saul. Melalui perjalanan karirnya dari seorang gembala menjadi raja menjelaskan bahwa Daud mempunyai integritas karena Dia hidup takut dan bersandar kepada Allah. Kemudian Daud mengerjakan pekerjaan dengan tulus dan penuh tanggung jawab atas semua pekerjaannya. Hal pentingnya lagi dia tidak menjadi sombong atas keberhasilannya dan tak menuntut balas atas semua jasanya. Kemudian dia menghadapi pemrosesan dirinya dengan sabar dan tabah. (MT)
Minggu 11 Juli 2021


PESAN MINGGU INI 04 JULI 2021

HIKMAT UNTUK HIDUP SUKSES

Matius 10:16-17 “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya”

Semua pengikut Kristus adalah umat terutus ke dalam dunia, dan terutus seperti domba ke tengah-tengah serigala. Sebagai umat terutus tentu semuanya terus berkarya untuk mencapai sukses sama seperti manusia pada umumnya. Tetapi mungkinkah mencapai sukses bila hidup selalu terancam? Jawabannya adalah sangat mungkin. Lebih jelasnya lagi rasul Paulus mengumpamakan umat terutus itu bagaikan pendatang di dunia. Jadi jelas-jelas harus terus berjuang dalam kondisi hambatan dan kesulitan ganda yaitu bagaikan domba ditengah serigala dan juga hanyalah sebagai pendatang. Berarti harus berhadapan dengan kekuatan yang mengancam dan juga dengan kecurigaan penduduk asli. Tetapi Tuhan Yesus yang mengutus tidak menutup mata terhadap kesulitan yang harus dihadapi umat yang Dia utus. Dia tetap pada prinsip-Nya “Dalam kondisi apapun janganlah takut karena Dia yang mengutus adalah Tuhan yang selalu siap menyertai”. Jadi penting untuk memastikan diri tidak perlu takut walaupun realitanya harus berhadapan dengan kondisi yang menakutkan. Rasa takut yang terkendali justru biasanya memotivasi untuk lebih hati-hati dan lebih cerdas.

Tuhan Yesus sendiri memerintahkan agar hidup berhikmat dengan sikap cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Agak sulit dipahami untuk hidup seperti ular. Ada satu hal yang menjelaskan kecerdikan seekor ular saat terpukul hampir mati. Seekor ular yang hampir mati kelihatan sudah tak mungkin lagi hidup tetapi dia selalu berusaha menggerakkan ekornya walaupun perlahan tetapi tetap ada gerakan. Hal itu dilakukan agar tetap ada energi kehidupan pada tubuhnya untuk tetap hidup. Jadi pesannya adalah jangan pernah berhenti. Tetap bergerak, terus cari solusi dan berpikir cerdas serta bertindak kreatif untuk memperoleh energi dalam menjalani kehidupan. Faktanya orang terancam selalu memperoleh jalan keluar dan pendatang selalu lebih maju dari penduduk asli. Hal itu terjadi karena terus berjuang dan terus bergerak tak mau diam. Cerdik seperti ular, harus pula didampingi sikap tulus seperti merpati. Ketulusan yang dimiliki merpati selalu berhubungnan dengan kesetiaan.

Betul hidup sebagai umat terutus adalah hal yang tidak mudah, karena selalu disertai oleh rasa takut. Betul juga kata Salim Said seorang pengamat politik Indonesia. Israel sukses karena ada ketakutan terhadap serangan negara-negara tetangga dan Indonesia jauh dari sukses karena tak ada yang ditakuti. Bahkan Tuhan pun tidak ditakuti. (MT)
Minggu 04 Juli 2021


PESAN MINGGU INI 27 JUNI 2021

ORANGTUA TELADAN

Amsal 3:1-2 “Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku,
karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu.”

Daud sangat layak disebut sebagai sumber tradisi bermazmur dan anaknya Salomo tepat juga ditetapkan sebagai sumber tradisi berhikmat. Namun demikian Amsal yang merupakan bagian dari Alkitab bukanlah semuanya tulisan Salomo sama dengan Mazmur tidak semuanya Mazmur Daud. Tetapi Amsal pasal tiga ini hampir semua para pembaca dan pencinta Alkitab menyatakan adalah Amsal yang ditulis Raja Salomo sebelum dia terlibat dalam kejatuhan. Salomo adalah seorang anak Raja Daud yang dipersiapkan Daud untuk menjadi penggantinya. Daud memberi banyak nasehat berharga untuk mengajar Salomo. Dalam menasehati Salomo, Raja Daud cukup berhati-hati karena Raja Daud mengenal diri sebagai seorang bapa yang mempunyai banyak kelemahan. Ternyata bagi Salomo Raja Daud sungguh adalah ayah dan orang tua teladan. Salomo menyadari bila ayahnya adalah manusia yang bisa salah bukan Tuhan yang tidak pernah salah. Salomo tidak terpaku pada fakta kelemahan ayahnya tetapi membuka mata lebar-lebar agar secara terang benderang melihat kenyataan bahwa Daud ayahnya mempunyai banyak hal baik dan benar yang perlu diteladani.

Salah satunya adalah kesungguhan Daud mengajar dan menasehati Salomo sebagai anak yang dipersiapkan menjadi raja umat Israel. Nasehat raja Daud sangat mengena kepada Salomo karena nasehat yang diberikan adalah hidup takut akan Tuhan dan taat akan firman Tuhan. Saat Salomo menjadi raja menggantikan ayahnya dia pun meneladani ayahnya dalam menasehati anaknya. Salomo pun memberi nasehat yang bersumber dari firman Tuhan. Salomo mengajar anaknya untuk hidup takut kepada Tuhan. Kemudian Salomo menasehati agar mentaati dan mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Raja Salomo tidak lupa menjelaskan ada janji Allah bagi anak yang mentaati dan menghormati orang tuanya. Allah akan memberi panjang umur dan damai sejahtera bagi semua anaknya yang menghormati dan menaati orang tua akan hidup sehat agar beroleh hidup yang lebih lama dan sejahtera yang berkelimpahan.

Melalui sikap Salomo meneladani ayahnya dan menasehati anaknya memberi pesan yang kuat bagi semua orang tua betapa pentingnya orang tua membangun diri agar mempunyai sesuatu yang baik dan benar untuk diteladani anak-anaknya. Menjadi teladan tentulah terbaik tetapi jangan lupa juga menasehati anak-anak dengan nasehat yang sesuai dengan firman Tuhan. Menjadi anak pun hendaklah meneladani hal-hal yang benar dari orang tua serta melakukan nasehatnya.(MT)
Minggu 27 Juni 2021


PESAN MINGGU INI 20 JUNI 2021

KOMUNIKASI DI ERA DIGITAL

Ulangan 6:6-7  “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”

Tidak dapat disangkal bahwa komunikasi dalam keluarga di era digital ini adalah salah satu yang terdampak negarif, pada hal nilai-nilai hidup yang benar justru dapat di-implementasikan dengan baik melalui komunikasi dalam keluarga. Jadi di era digital ini komunikasi dalam keluarga perlu mendapat perhatian yang sangat serius. Perlu disadari bahwa anak-anak di era digital ini sangat intensif berkomunikasi dengan dunia luar. Tidak heran bila mereka mendapat masukan yang berpotensi memberi nilai-nilai hidup yang buruk. Tentu saja adalah hal yang mustahil menutup diri dari kenyataan atau menolak media sosial justru perlu dimanfaatkan dengan baik secara maksimal, dengan pengertian menggunakannya sebagai media komunikasi untuk membangun hubungan dalam rangka menanamkan sesuai dengan firman Tuhan dalam Ulangan 6:1-26, bahwa nilai hidup mengasihi Allah haruslah ditanamkan secara sungguh-sungguh kepada anak-anak dalam semua keluarga umat beriman. Dikomunikasikan secara serius dan berkesinambungan agar firman Allah tersimpan dengan baik dalam hati anak-anak.

Rasul Paulus menandaskan “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu” (Kolose 3:16). Hal itu dapat terjadi dan dimiliki bila firman Tuhan dikomunikasikan selalu secara berulang-ulang dalam keluarga. Komunikasi kepada dunia luar yang sangat intensif kepada anak-anak diera digital ini haruslah diimbangi dengan komunikasi yang berkualitas dalam keluarga. Kehidupan spiritual harus semakin ditingkatkan dalam keluarga istimewa melalui keteladanan hidup spiritual orangtua. Keteladanan yang baik dan benar akan menciptakan komunikasi dalam keluarga. Dalam era digital ini harus diarahkan kepada praktek penyampaian firman Tuhan untuk mengajar anak-anak takut akan Tuhan. Allah sangat mendambakan persekutuan dengan umat-Nya sehingga Dia memberikan firman-Nya  untuk mengikatkan diri-Nya dengan umat-Nya.

Perintah mengasihi Allah adalah perintah untuk terus membangun komunikasi dengan Allah. Orangtualah yang harus pertama dan utama menanggapi kasih Allah itu dengan menerapkan kasih kepada anak-anaknya. Bila sudah tercipta hidup saling mengasihi antar anggota dalam keluarga sebagai wujud mengasihi Allah maka semua anggota keluarga telah siap berkomunikasi secara baik dan benar ke dunia di era digital ini. (MT)
Minggu 20 Juni 2021


PESAN MINGGU INI 13 JUNI 2021

GENERASI ANAK PANAH

Mazmur 127:4-5 “Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang”.

Generasi anak panah boleh disimpulkan sebagai istilah baru yang sangat relevan untuk anak muda pada era milenial ini. Jadi generasi anak panah dapat juga disebut sebagai generasi milenial. Bila pemazmur menyatakan hanyalah sebagai sifat mengumpamakan, tetapi sekarang telah menjadi fakta. Sebagai perumpamaan, pemazmur ingin menyatakan bahwa orang percaya dewasa harus menerima kehadiran anak dalam rumah tangga adalah karunia Allah yang sangat berharga. Hal itu berarti menuntut tanggung jawab yang bijaksana dan kesetiaan dari semua orangtua. Orangtua harus mengarahkan anak ke tujuan yang benar sesuai dengan firman Allah. Rasul Paulus menjelaskan bahwa orangtua bertanggungjawab memberi asuhan dan didikan yang benar terhadap anak-anak (Efesus 6:4).

Dalam pengasuhan hati seorang bapa hendaklah tertuju kepada anak-anaknya, artinya semua orangtua harus mempunyai hati seorang bapa. Kasih kepada anak membuat seorang bapa melindungi anaknya dari pengaruh-pengaruh sistem dunia yang jahat, tetapi juga membawa anak kepada Kristus. Seorang anak yang diasuh dan dididik dalam pengenalan kepada Kristus inilah seumpama anak panah yang diarahkan pada tujuan yang tepat dan benar. Jadi dibuat dulu lingkaran sebagai titik tembak kemudian anak panah dilepaskan. Bukan sebaliknya, anak panah ditembakkan sembarangan kemudian dilingkari. Bila sudah jelas tujuannya maka anak panah yang dilepaskan akan tepat sasaran. Sekiranya tidak tepat sudah pasti tak melenceng jauh dari sasaran. Tetapi bila anak panah adalah merupakan suatu istilah pada generasi maka hal itu berbicara mengenai kecepatan. Bila anak muda sudah diarahkan pada sasaran yang benar dan tepat maka anak muda menjadi generasi anak panah. Dalam hal ini anak mudalah yang harus bergerak cepat mengaktifkan diri sendiri.

Tidak zamannya lagi anak muda menyalah-nyalahkan generasi sebelumnya, bila itu yang terjadi berarti dia gagal menjadi bagian dari generasi anak panah Dia bukan generasi anak panah melainkan generasi anak mama. Anak muda pasti mengenal generasi sebelum dia  yang lambat dan banyak kekurangan. Tetapi tak zaman lagi untuk mempermasalahkannya karena dia adalah generasi milenial. BIla dia terus berkutat mempermasalahkan generasi sebelum dia, berarti dia gagal menjadi generasi milenial. (MT)
Minggu 13 Juni 2021


PESAN MINGGU INI 06 JUNI 2021

KARAKTER DIBENTUK DARI KELUARGA

Matius 19:14 “Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”

Belakangan ini sangat marak wacana agar pendidikan agama dihilangkan dari sekolah, karena pembinaan iman dan karakter adalah tanggung jawab keluarga. Terus terang saya sebagai guru agama Kristen sangat setuju dengan wacana ini. Fakta di lapangan pada sekolah-sekolah negeri ada banyak yang melaksanakan pendidikan agama Islam tetapi pendidikan agama Kristen tidak ada karena guru agamanya tidak ada. Itulah sebabnya kehadiran guru agama Kristen di sekolah negeri menjadi sangat penting, karena bila tidak ada guru agamanya sering mereka diwajibkan ikut pendidikan agama lain. Bila dalam tingkat pendidikan SD dan SMP tidak jarang mereka mereka dibuli. Itulah sebabnya kehadiran guru agama Kristen sangat dibutuhkan. Jadi bila tak ada pendidikan agama apapun di sekolah itu lebih baik agar tanggung jawab itu diambil alih keluarga. 

Para keluarga Kristen boleh saja menyerahkan anaknya ke lembaga pendidikan yang menyelenggarakan Pendidikan Agama Kristen dan kepada gereja untuk mengikuti sekolah minggu  tetapi harus tetap berpegang kepada prinsip bahwa tanggung jawab utama pembinaan iman dan karakter anak adalah keluarga. Ada yang berpendapat bahwa anak lahir dengan hati bagaikan kertas putih dan lingkunganlah yang kemudian membentuk anak ini. Tentu pendapat ini tidak benar berdasarkan iman kristen yang secara tegas menyatakan bahwa semua manusia terlahir dengan hati yang sudah berdosa. Tetapi perlu juga direspon dengan positif untuk memotivasi semua keluarga Kristen agar serius dalam membentuk karakter anak.

Ada tiga lingkungan yang memberi konstribusi dalam pembentukan seorang anak yaitu keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat di mana seorang anak bertumbuh. Jelas bahwa keluarga adalah lingkungan yang pertama dan utama yang membentuk iman dan karakter seorang anak. 

Dalam Ulangan 6:6-7, sangat jelas diperintahkan agar orangtua mendidik anak untuk mengasihi Allah dan takut kepada Allah. Ketika Yesus menyatakan agar semua orang percaya membawa anak-anak kepada-Nya adalah merupakan perintah agar setiap keluarga khususnya para orangtua membentuk anak-anak untuk datang kepada Yesus. Anak-anak yang dimotivasi datang kepada Yesus melalui ajaran dan keteladanan merupakan pembentukan karakter yang sangat benar dan tepat. Yesus menyatakan bahwa anak-anak yang terbentuk dengan karakter yang benar dan baik dalam Kristus adalah realita kerajaan sorga. (MT)
Minggu 06 Juni 2021


PESAN MINGGU INI 30 MEI 2021

PENGURAPAN UNTUK MELAYANI

1 Yohanes 2:27 “Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu — dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta — dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia”.

“Pengurapan” yang dimaksudkan oleh rasul Yohanes adalah Roh Kudus yang diterima oleh orang percaya sebagai syarat utama untuk melayani. Pengurapan yang dialami para rasul pada pentakosta di Yerusalem bukanlah monopoli mereka melainkan adalah untuk semua orang percaya. Perlu juga diyakini dan diterima bahwa pengurapan itu bukanlah peristiwa sekali tetapi akan dan selalu terjadi secara berkesinambungan kepada orang percaya sepanjang zaman. Jadi tidak perlu menetapkan tidak perlu ditentang karena ada alasan berdasarkan fakta persitiwa bersejarah sebagai data untuk menetapkannya. Semua orang percaya berhak membuat pengalamannya menerima Roh Kudus (Pengurapan) sebagai hari pentakosta kesekian, karena setiap orang percaya yang mengalami pengalaman spiritual menerima pengurapan bisa saja berulang-ulang karena bersifat berkesinambungan.

Tetapi berdasarkan 1 Yohanes 2:27, ada tiga hal penting yang menjelaskan “Pengurapan” ada dan sangat dibutuhkan untuk melayani:

  1. Pengurapan membuat pelayan Tuhan tidak perlu lagi diajar orang lain. Diajar di sini adalah diindoktrinisasi sedangkan orang lain adalah pengajar-pengajar palsu yang mempunyai kecenderungan mendiktekan ajarannya. Jadi tidak melarang pelayan Tuhan belajar dari orang lain seperti para rasul. Justru orang percaya khususnya para pelayan Tuhan harus terus mempelajari kebenaran firman Allah dengan cara saling belajar dan menasehati seorang dengan yang lain.
  2. Semua orang percaya dan para pelayan Tuhan harus memperlengkapi diri agar terhindar dari ajaran atau doktrin yang salah. Haruslah tetap mendalami penyataan Alkitabiah dan memberi diri tetap dalam “pengurapan” atau dipenuhi Roh Kudus.
  3.  “Tetap tinggal di dalam Dia”. Bila para pelayan Tuhan dan semua orang percaya terus mempelajari kebenaran firman Tuhan dan mengalami penyataan Alkitab serta memberi diri dituntun dan dipenuhi oleh Roh Kudus sudah pasti akan tetap hidup di dalam Kristus.

Tidak ada cara yang lebih baik dari ketiga hal di atas. Bila disingkat berarti semua orang percaya hendaklah menerima pengurapan setiap hari. Pengurapan dalam arti dituntun dan dipenuhi Roh Kudus adalah janji Allah di dalam Yesus Kristus yang selalu baru. (MT)

Minggu 30 Mei 2021


PESAN MINGGU INI 23 MEI 2021

LAWATAN ROH KUDUS

Kisah Rasul 2:42-43 “Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

Kisah Para Rasul sangat tepat bila disebut kisah lawatan Roh Kudus, karena pasal pertama sampai pasal terakhir adalah merupakan fakta pembuktian lawatan Roh Kudus umat Allah Perjanjian Baru atau gereja Tuhan. Fakta lawatan Roh Kudus bukan hanya milik Kisah Para Rasul dalam pengertian berhenti setelah kurun waktu pelayanan para rasul sudah berakhir bersamaan dengan kematian para rasul. Lawatan Roh Kudus adalah janji Allah kepada Gereja-Nya yang terus digenapi sepanjang zaman selama gereja terus terbuka kepada Roh Kudus. Gereja bukanlah gereja sejati bila menutup diri kepada lawatan Roh Kudus. Lawatan Roh Kudus kepada orang percaya dalam Kisah Para Rasul adalah contoh yang terus harus dikobarkan sepanjang zaman oleh gereja Tuhan. 

Melalui Kisah Para Rasul dapatlah kita mempelajari hal-hal yang nyata sebagai pembuktian lawatan Roh Kudus:

  1. Bila Injil diberitakan akan terjadi pula pertobatan. Para Rasul mentaati perintah Yesus untuk memberitakan Injil. Saat Injil diberitakan lawatan Roh Kudus nyata membuat pendengar Injil itu bertobat.
  2. Orang percaya bertekun dalam pengajaran Rasul artinya ada kerinduan dan kesungguhan untuk mempelajari dan mendalami firman Tuhan. Perlu diketahui tujuan gereja zaman rasul mempelajari firman Tuhan bukan hanya supaya tahu banyak firman tetapi supaya mereka berperilaku sesuai dengan firman Tuhan.
  3. Pelayanan para rasul disertai tanda-tanda mujizat. Tetapi tanda-tanda mujizat tentu tidaklah peristiwa yang berdiri sendiri oleh kuasa yang dimiliki oleh para rasul. Hal yang mendukung sehingga terjadi mujizat itu adalah kesatuan hati orang percaya bersatu dan bersekutu dalam doa. 

Lawatan Roh Kudus bukan hanya dialami para rasul yang pada saat itu menjadi  ujung tombak dalam pemberitaan Injil. Lawatan Roh Kudus dialami oleh semua pengikut Kristus yang bersehati dan tekun berdoa. Dokter Lukas sangat tepat mencatat hal penting perkataan Petrus dalam ayat 39 “Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh…”. Jadi janji lawatan Roh Kudus bukan saja janji Allah yang tergenapi selama Injil terus diberitakan dan orang percata terus sehati dan bersekutu dalam doa secara sungguh-sungguh dan tekun. Dan hal penting juga adalah orang percaya harus terus belajar firman bukan saja supaya tahu banyak tetapi supaya hidup sesuai firman Tuhan. (MT)
Minggu 23 Mei 2021


PESAN MINGGU INI 16 MEI 2021

DIUBAH DALAM HADIRAT-NYA

Lukas 19:8 “Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

Pandangan masyarakat Yahudi mengenai seseorang pemungut cukai biasanya sangat buruk karena bekerja sebagai perpanjangan tangan orang Romawi sebagai bangsa penjajah. Padahal sebagai pemungut cukai Zakheus melakukan dan menekuninya sebagai karier. Bagi Zakheus menjadi pemungut cukai mungkin saja sebagai pengabdian yang sangat beresiko mengganggu kenyamanan hidupnya. Buktinya dia cukup tertolak dari masyarakat karena dituduh sebagai antek asing oleh bangsanya sendiri. Ada kemungkinan bahwa dirinya tidak menemukan kesalahan pada kariernya sebagai pemungut cukai. Bukanlah Zakheus satu-satunya orang Yahudi yang menjadi pemungut cukai. Tetapi ada kemungkinan pemungut cukai lainnya nyaman saja walaupun tersingkir dari pergaulan. Karena secara finansial pemungut cukai adalah karier yang sangat berkelas dan mendatangkan banyak uang. Berbeda dengan Zakheus yang mulai melihat ada hal yang salah dengan kariernya. Dia tentu berusaha melepaskan diri dari kondisi tersingkir dari pergaulan dengan sesama, tetapi saat dia berjuang untuk berubah dan memperbaiki diri dia gagal. Kehadiran Yesus ke kotanya menjadi kesempatan baginya untuk berubah. Tetapi perawakannya yang pendek menjadi hambatan baginya bertemu dengan Yesus. Zakheus tidak menyerah, dia berusaha  melakukan suatu tindakan yang ekstrim untuk bertemu dengan Yesus. Pertemuannya dengan Yesus sungguh-sungguh membuat perubahan radikal dalam hidupnya.

Belajar dari pengalaman hidup Zakheus ini dapatlah kita menyimpulkan bahwa untuk mengalami perubahan hidup ada langkah-langkah yang perlu kita jalani:

  1. Pertama mengalami pertemuan pribadi dengan Yesus. Ada banyak penghalang untuk bertemu dengan Yesus antara lain adalah diri sendiri. Diri sendiri haruslah sadar sangat membutuhkan Yesus sehingga penghalang lain akan dapat diatasi.
  2. Setelah bertemu dengan Yesus dilanjutkan dengan mentaati Yesus. Ketaatan Zakheus dinyatakan melalui sikap hati terbuka kepada Yesus dan juga meng-ia-kan semua yang dikatakan Yesus. Hal itu telah membuat perubahan yang nyata dalam diri Zakheus.

Tetapi perubahan menjadi perubahan sejati hanyalah bila aktif. Perubahan Zakheus adalah perubahan aktif yang diwujudkan melalui komitmen yang ditindaklanjuti dengan membayar semua kesalahan yang pernah dilakukan sebelum bertemu dengan Yesus. Zakheus mengalami perubahan yang radikal dari seorang yang suka memperkaya diri mejadi seorang yang suka berbagi.(MT)
Minggu 16 Mei 2021


PESAN MINGGU INI 09 MEI 2021

MENGALAHKAN GODAAN DOSA

Efesus 6:11, 18 “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;  dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus”

Setiap orang Kristen digoda atau tergoda untuk melakukan kesalahan dan dosa. Rasul Paulus menyatakan sebagai “tipu muslihat iblis”. Dan harus dilawan dengan tegas dan tekun. Untuk melawannya tidak cukup dengan kata-kata tanpa senjata harus dengan konfrontasi langsung atau berperang dengan perlengkapan senjata lengkap. Jadi menurut Rasul Paulus dalam menghadapi tipu muslihat iblis atau mengalahkan dosa pengikut Kristus harus siap memasuki peperangan. Peperangan bukan melawan fisik yang nyata tetapi melawan sistem duniawi dan roh di udara. Artinya harus siap memasuki arena peperangan rohani. Karena peperangan rohani maka untuk berperang berarti haruslah mengaktifkan dan mengoperasikan iman. Dalam hal ini perlu pengakuan bahwa siapapun kita tak akan pernah mampu tanpa penyertaan dan campur tangan Tuhan. Tuhan berjanji Tuhan akan berperang untuk kamu dan kamu akan diam saja (Keluaran 14:14). Janji Allah yang meyakinkan kita untuk terus maju seperti umat Israel yang melangkahkan kaki menuju dan menyeberang laut merah.

Rasul Paulus memerintahkan agar kita mempergunakan perisai iman untuk menahan serangan musuh dan pedang roh untuk menyerang. Dalam bertahan berarti harus menguasai diri dengan tidak melakukan kesalahan atau perbuatan di luar kehendak Tuhan sedangkan menyerang haruslah melakukan perbuatan benar yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Selanjutnya untuk mengalahkan godaan dosa haruslah hidup sesuai dengan firman Tuhan. Mazmur 119:10-11 “Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.”

Rasul Paulus mengatakan ketopong keselamatan dan pedang roh adalah firman Allah jadi pastikan bahwa cara pandang dan pola pikir haruslah sesuai dengan firman Tuhan. Jadi seperti pemazmur, kita haruslah memenuhi hati dan pikiran dengan firman Tuhan. Kemudian untuk mengalahkan godaan dosa semua pengikut Kristus harus telah memasuki kehidupan doa yang tekun dan sungguh-sungguh, oleh Rasul Paulus mengistilahkannya dengan “berdoa dalam Roh”. Berdoa dalam Roh dapat juga diartikan berdoa setiap waktu tanpa dibatasi dengan waktu-waktu tertentu dan tempat-tempat tertentu. Doa bukan sekedar senjata tetapi bagian dari peperangan yang menjamin kemenangan melawan godaan dosa. (MT)
Minggu 09 Mei 2021


PESAN MINGGU INI 02 MEI 2021

PUJIAN DAN DOA MENGUBAH HATI

1 Tesalonika 5:16-18 “Bersukacitalah senantiasa. “Tetaplah berdoa. “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Puji-pujian kepada Allah dan sikap tekun berdoa adalah dua nilai kerohanian Kristen yang tak terpisahkan. Kedua nilai ini adalah kegiatan iman yang membangun hubungan erat dengan Allah. Pujian kepada Allah dan doa adalah memfokuskan hati dan pikiran kepada Allah. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Tesalonika yang ditinggalkan secara terpaksa oleh kemarahan dan kebencian orang Yahudi. Boleh juga disimpulkan bahwa jemaat di Tesalonika ditinggalkan Paulus sebelum waktunya, Tetapi faktanya gereja tetap berdiri dan bertumbuh. Padahal orang percaya hanya tahu sangat sedikit tentang Kekristenan. Paulus mengetahui perkembangan dan situasi itulah yang mendorong Paulus menulis suratnya kepada jemaat Tesalonika. Surat Paulus ini sangat padat dengan doktrin dan kehidupan Kristen. Paulus tidak merayu mereka dengan kalimat-kalimat yang halus tetapi memberi perintah secara tegas. 

Rasul Paulus mengetahui secara jelas jemaat Tesalonika sedang diperhadapkan kepada berbagai masalah yang serba sulit, tetapi justru diperintahkan untuk bersukacita senantiasa. Dalam hal ini terkesasn rasul Paulus kurang memahami situasi jemaat, tetapi sesungguhnya justru dia sangat bersimpati. Untuk itu Paulus sedang memberi solusi terbaik bagi jemaat Tesalonika untuk memenangkan persoalan dan berbagai kesulitan yang menerpa mereka. Jemaat haruslah mempunyai hati yang besar sehingga  mampu bersukacita senantiasa. Dalam hal ini orang percaya bukan dikerdilkan kesulitan melainkan dibesarkan kesulitan, bukan dilemahkan penderitaan tetapi justru dikuatkan oleh penderitaan.

Paulus juga memerintahkan jemaat agar tetap berdoa. Bukan berarti terus menerus tanpa henti mengucapkan kata-kata doa yang formal. Tetap berdoa adalah selalu memposisikan diri di hadapan Allah untuk mendambakan kasih, karunia, berkat dan penyertaan-Nya. Tetap berdoa dapat juga diartikan mengucapkan kata-kata memberkati orang lain sepanjang hari dan juga memanjatkan doa sebagai permohonan kepada Tuhan setiap ada kesempatan sepanjang hari. Berdoa dalam bentuk pujian dan penyembahan terus terjaga dengan baik bukan saja membuat hati terang tetapi membangun hati semakin tulus dan bersih. Dengan kata lain berdoa dan memuji Tuhan akan membangun hati karena terjadi perubahan hati yang jelas kearah yang lebih dan semakin baik. Jadi pujian dan doa yang fokus kepada Allah secara pasti akan mengubah hati semakin baik dan semakin bersih serta semakin besar. (MT)
Minggu 02 Mei 2021


PESAN MINGGU INI 25 APRIL 2021

PERKATAAN BERKAT

Yohanes 3:9-10 “Nikodemus menjawab, katanya: “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” “Jawab Yesus: “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?”

Manusia mempunyai kecenderungan berdosa atau bersalah saat berbicara atau berkata-kata sehingga ada pernyataan banyak bicara banyak kesalahan, sedikit bicara sedikit kesalahan. Bahkan ada kata-kata bijak “Diam adalah emas”. Tetapi berbicara adalah suatu keharusan, bahkan lebih banyak hal-hal baik dan berguna yang dapat dihasilkan karena banyak berbicara. Jadi bukanlah berbicara yang salah melainkan bagaimana seorang berbicara dan hal-hal apa yang dibicarakan. Perkataan yang diucapkan bisa menjadi wujud kedirian seseorang karena perkataan adalah ungkapan kehendak yang mengalir dari hati. Bila Yakobus mengumpamakan lidah seperti api adalah mengajak orang percaya dapat mengendalikan lidah atau mengatur perkataannya. Bila seseorang mampu mengendalikan lidahnya berarti bijaksana dalam berkata-kata.

Orang percaya dewasa pasti selalu menyerahkan diri untuk dibimbing Roh Kudus agar mampu menguasai lidah. Menguasai lidah bukanlah hal yang mudah, perlu kerja keras dan belajar serius agar mampu menguasainya. Tetapi menurut Yakobus menguasai lidah saja belum cukup tetapi harus dilanjutkan dengan menggunakan lidah dengan benar agar terbiasa memproduksi perkataan-perkataan yang memberkati. Nabi Yesaya mengatakan bahwa Allah sendirilah yang memberikan kepadanya lidah dan telinga seorang murid agar mampu memproduksi kata yang memberkati dan mendengarkan seperti seorang murid (Yesaya 50:4). Dalam hal ini mengajarkan bahwa berbicara dan mendengar adalah hal yang harus sejalan dan sebaiknya haruslah lebih banyak mendengar daripada berbicara. Bila umat Tuhan banyak mendengarkan akan terbentuk menjadi seorang yang mempunyai perkataan yang memberkati.

Para pemazmur menggunakan lidahnya dengan perkataan-perkataan indah untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Hal itu adalah salah satu cara menggunakan lidah atau mengeluarkan kata-kata secara benar. Perkataan yang memberkati Tuhan adalah merupakan kata puja yang membangun hubungan secara benar dan baik dengan Tuhan. Perkataan berkat adalah juga perkataan baik dan benar yang berpotensi membangun hubungan dengan sesama juga memberkati diri sendiri. Amsal 21:23 “Siapa yang memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari kesukaran”. Jadi perkataan berkat akan memberkati semua pihak. Memberkati Tuhan, memberkati sesama dan memberkati diri sendiri. (MT)
Minggu 25 April 2021


PESAN MINGGU INI 18 APRIL 2021

OPTIMIS DAN ANTUSIAS

Yosua 1:8-9 “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.”

Mendapat tugas memimpin Israel menggantikan Musa, seharusnya tak perlu mengejutkan Yosua. Empat puluh (40) tahun menjadi tangan kanan Musa selama pengembaraan adalah kesempatan yang sangat berpotensi memproses Yosua menjadi seorang pemimpin. Tetapi kepergian Musa ke puncak bukit Nebo menyambut kematiannya cukup telak memukul perasaan Yosua, hingga cukup dalam untuk melemahkan semangatnya. Pada saat-saat dia belum selesai berkabung atas kepergian Musa, Allah memperbaharui perintah-Nya agar Yosua melanjutkan kepemimpinan Musa memimpin Israel memasuki negeri Perjanjian. Untuk kesekian kali firman Tuhan menyapanya dengan berkata “Jangan kecut dan tawar hati sebab Tuhan, Allahmu menyertai engkau kemanapun engkau pergi”. Tuhan mengetahui situasi hati Yosua, sehingga disemangati agar tetap bersemangat seperti saat-saat dia mendampingi Musa memimpin umat Israel. Ketika Allah berjanji “Aku menyertaimu, seperti Aku menyertai Musa”. Yosua langsung bersemangat. Optimis dan Antusias menguasai dirinya dalam memimpin bangsa yang sesungguhnya adalah bangsa yang sulit dipimpin. 

Hal yang sama dialami para murid Yesus ketika Yesus memastikan penyertaan-Nya dengan janji yang menggugah hati para murid”. Aku menyertai kamu sampai kesudahan alam. Siapapun yang yakin akan penyertaan Tuhan dalam hidup sehari-hari dan dalam pelayanan pasti akan optimis dan antusias dalam berkarya dan melayani. Hanya perlu juga menyadari bahwa optimisme dan antusiasme haruslah tetap terkontrol. Perintah bertindak hati-hati harus menyertai semangat yang berapi-api, dan iman yang sejati harus menyertai optimis dan percaya diri. Cara tepat adalah “merenungkan firman Tuhan siang dan malam”. Merenungkan adalah memikirkan secara mendalam dan membicarakan Firman itu kepada diri sendiri. Dan lebih tepatnya lagi menerapkan Firman itu dalam perilaku setiap hari. Seperti Yosua dan para murid tetaplah berpegang teguh kepada janji penyertaan Tuhan. Janji-Nya itu adalah warisan sejati bagi orang percaya. Generasi Yosua ke generasi para rasul sudah sulit untuk di telusuri, karena generasi yang berlalu akan terganti oleh generasi yang baru. Generasi terus melaju tetapi firman Tuhan atau janji Tuhan terus berlaku karena selalu baru. (MT)
Minggu 18 April 2021


PESAN MINGGU INI 11 APRIL 2021

DISIPLIN DIRI

Ibrani 12:10 “Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.”

Ibrani 12 ini adalah satu pasal yang sangat berkonsentrasi pada pembangunan iman dan pembangunan moral yang hanya dapat dicapai melalui disiplin diri. Untuk terus fokus kepada disiplin diri ada tiga hal yang harus kita terima sebagai perintah Allah yang harus ditaati:

  1. Kita harus mewajibkan diri memasuki arena perlombaan. Istilah perlombaan ini adalah pesan untuk mewajibkan diri mengikuti aturan yang berlaku dalam suatu perlombaan. Bila dihubungkan dengan perlombaan iman berarti harus taat firman sebagai peraturan resmi dalam pembangunan iman dan juga menjadi standar moral dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perlombaan ini dibutuhkan pula ketabahan, kesabaran dan kekuatan menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa terjadi karena upaya mewajibkan diri taat akan firman Tuhan.
  2. Mata yang tertuju kepada Yesus artinya fokus menjadikan Yesus teladan hidup dalam berperilaku. Teladan dalam mentaati dan setia kepada firman Allah. Dalam kenyataan tidak sedikit orang yang kita tuakan dan hormati seperti pendeta atau para pemimpin lainnya sangat mengecewakan dalam hal berperilaku. Kita akan tetap bersemangat membangun kehidupan karena Yesus adalah teladan kita dalam bersikap dan juga dalam hal kekudusan.
  3. Menghargai didikan Tuhan. Salah satu cara yang digunakan Allah untuk mendidik umat-Nya adalah mengijinkan umat-Nya memasuki situasi sulit, Allah mengijinkan umat-Nya menderita menghadapi berbagai kesukaran adalah untuk mendidik. Allah mendidik karena kita adalah anak-Nya, sehingga Dia memberi jaminan kasih dan perhatian-Nya saat kita tabah menghadapinya. Saat kita tabah menghadapi kita pun terbentuk mengalami keindahan penyertaan Allah dan terhindari dari dosa-dosa dunia ini. Bila bapa kita di dunia ini mendidik kita hanya sementara, karena bisa sudah dewasa kita dilepas. Tetapi Tuhan mendidik kita seumur hidup karena tujuan-Nya adalah agar kita hidup seperti Yesus. Perlu juga kita ingat bahwa Dia mendidik dan menghajar kita dengan caranya yang benar dan tepat. Dan Dia mendidik bahkan menghajar kita adalah untuk kebaikan kita sendiri.

Sebab itu pastikan bahwa saudara dan saya sudah bertekad disiplin diri sesuai dengan firman Tuhan dan selalu siap menerima didikan Tuhan. (MT)
Minggu 11 April 2021


PESAN MINGGU INI 04 APRIL 2021

HIDUP MEMULIAKAN TUHAN

Yohanes 12:23, 28 “Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. Bapa, muliakanlah nama-Mu! Maka terdengarlah suara dari sorga: Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!”

Pada saat Andreas dan Filipus memberitahukan bahwa ada beberapa orang Yunani yang beribadah (proselit), ingin bertemu dengan Yesus, kedua murid-Nya ini tentu agak bingung karena Yesus merespon dengan berkata “Sudah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan…” rupanya sikap beberapa orang Yunani ini telah memberikan suatu penjelasan bahwa saat Yesus dimuliakan telah tiba. Yesus berbicara mengenai kematian-Nya. Hal itu berarti kematian Yesus bukanlah tragedi yang perlu ditangisi dan disesali. Yesus ingin menjelaskan kepada murid-murid-Nya bahwa jalan menuju kemenangan adalah melalui penderitaan dan melalui kematian selanjutnya Yesus berkata bahwa untuk memperoleh kehidupan tidak perlu takut kehilangan nyawa karena faktanya orang yang mati-matian mempertahankan nyawa karena takut mati justru sering menjadi mati beneran. Orang yang tidak takut kehilangan nyawanya adalah orang yang menilai hal-hal surgawi atau kekekalan jauh lebih penting dari hal-hal duniawi yang bersifat sementara.

Pada saat Yesus menjelaskan banyak hal kepada murid-murid-Nya tentang hal-hal kematian-Nya tiba-tiba murid-murid Yesus termasuk orang-orang Yunani dan beberapa orang disekitar Yesus mendengar suara Allah Bapa mengenai Yesus: “Aku telah memuliakan-Nya dan Aku akan memuliakan-Nya lagi”. Allah Bapa berbicara tentang karya Yesus termasuk kematian dan kebangkitan-Nya. Faktanya seluruh hidup Yesus secara utuh adalah untuk memuliakan Bapa di surga dan Allah pun memuliakan dan akan memuliakan-Nya. Yesus sendiri menyatakan bahwa kematian-Nya adalah merupakan fakta bahwa Dia sedang memuliakan dan dimuliakan Allah. Yesus sendiri menghubungkan hidup memuliakan-Nya adalah melayani dan mengikuti-Nya. Sampai sekarang pun hal itu tetap berlaku dengan tetap hidup beriman kepada Yesus dengan wujud melayani dan mengikuti Dia.

Teruslah berkomitmen beriman kepadanya. Hal itu berarti mentaati semua ajaran-Nya dan tetap berada dalam hadirat-Nya. Memuliakan Dia berarti mengikut Dia serta siap menyangkal diri dan memikul salib-Nya. Kristus adalah lambang penderitaan lambang kehinaan dan lambang kematian. Sebagai pengikut Kristus kita betul-betul harus siap menderita seumur hidup dalam perjuangan melawan dosa mungkin saja kita akan terus menerima ejekan dan penganiayaan dari dunia agama tetaplah setia karena dengan setialah wujud memuliakan Kristus dan beroleh kemuliaan dari Kristus. (MT)
Minggu 04 April 2021


PESAN MINGGU INI 28 MARET 2021

RENDAH HATI DAN SABAR

2 Korintus 6:9-10 “Sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati;“sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.”

Rendah hati dan sabar adalah dua karakter yang tidak populer pada akhir zaman, karena dianggap tidak lagi memadai untuk mengikuti lajunya perkembangan zaman. Rendah hati dianggap akan selalu kalah dalam kompetisi sedangkan sabar akan selalu tertinggal dalam kemajuan teknologi yang semakin maju dengan pesat. Tentu itu adalah pendapat umum yang sangat dipengaruhi sistem nilai duniawi. Bila dibandingkan dengan sistem dunia sudah pasti sangat berbeda dengan sistem Kerajaan Allah sehingga tepat disimpulkan sebagai kerajaan yang sungsang. Sistem duniawi selalu berubah termasuk nilai-nilai kehidupan juga selalu berubah-ubah sesuai perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan kebutuhan serta selera manusia. Sedangkan sistem dan nilai Kerajaan Allah tidak berubah karena standar moral dan juga standar nilainya adalah kebenaran absolut yaitu firman Tuhan. Sebab itu rendah hati adalah karakter yang tidak akan menjadi usang melainkan tetap teguh dan selalu memberkati hidup orang yang rendah hati itu sendiri termasuk semua orang-orang yang hidup bersamanya dan di sekitarnya.

Ada lagi hal yang pasti bagi orang yang rendah hati yaitu tidak akan mudah jatuh dan sekiranya mengalami kejatuhan dalam hal-hal tertentu tidak akan berbahaya dan tidak terlalu sakit. Kekuatan orang rendah hati bukanlah kekuatan yang meledak-ledak melainkan kekuatan yang senyap.

Teman dekatnya karakter rendah hati adalah sabar. Sabar adalah merupakan karakter yang semakin langka. Sistem dunia ini boleh disimpulkan sangat menuntut segala sesuatu serba cepat. Itulah sebabnya kesabaran dianggap sudah tidak cocok lagi. Padahal perlu dipahami bahwa sabar bukan berarti lambat. Orang yang sabar justru sering lebih cepat dari orang yang tidak sabar. Ada lagi hal yang nyata dalam diri orang yang berkarakter sabar yaitu pantang mundur. Mungkin dia lambat tetapi tekun. Berbeda dengan orang yang tidak sabar yang betul sangat cepat tetapi hambatan kecil sering membuatnya berhenti dan juga mundur. Ada betulnya kata bijak orangtua bahwa kekuatan kalah dari ketekunan. Betul juga pernyataan seorang tokoh ternama Abraham Lincoln, aku bukan seorang pelari yang cepat, tetapi aku adalah pejalan kaki yang terus melangkah. Dan sekali melangkah pantang baginya berhenti apalagi mundur. Itulah bukti suatu kesabaran. (MT)
Minggu 28 Maret 2021


PESAN MINGGU INI 21 MARET 2021

MENJALIN HUBUNGAN KASIH

Ibrani 13:1-2 “Peliharalah kasih persaudaraan! Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat”

Ada perbedaan pendapat mengenai penulis kitab Ibrani ini, tetapi sangat sepakat bila penulisnya adalah seorang rasul yang teraniaya dan ditujukan kepada pengikut Kristus yang sedang teraniaya. Dalam pesannya penulis memnberi motivasi agar pengikut Kristus tetap setia hidup beriman dan juga tetap setia menjalin hubungan kasih kepada sesama seiman. Keadaan yang tak menentu dialami pengikut Kristus karena penganiayaan seakan-akan bebas melakukan tindakan-tindakan tak manusiawi kepada pengikut Kristus. Tidak jarang para pengikut Kristus terpaksa meninggalkan rumahnya karena ancaman akan keselamatan mereka.

Dalam hal inilah penulis menasehati pengikut Kristus untuk terus memelihara kasih persaudaraan. Kasih persaudaraan yang dimaksud adalah kasih sesama pengikut Kristus karena mempunyai Bapa surgawi yang sama. Ada hal-hal yang dinasehatkan dalam hal memelihara kasih persaudaraan ini. Pengikut Kristus dinasehati agar:

  • mewujudkan kasih dengan cara menyapa satu dengan yang lain sebagai saudara di dalam Kristus. Kelihatannya sangat sepele tetapi pada saat itu sapaan sebagai saudara dalam kristus adalah hal yang sangat penting karena saling menyemangati dalam menghadapi aniaya. Bila orang percaya bersekutu adalah merupakan kekuatan yang membuat penganiaya berpikir dua kali untuk menganiaya.
  • Hal paling penting dalam persaudaraan atau kasih persaudaraan adalah adanya persekutuan sekumpulan orang percaya yang sama-sama sujud memanjatkan doa dengan sepakat (Matius 18:19).

Tuhan Yesus sendiri telah menyatakan indahnya persekutuan dalam Kristus. Dia akan selalu hadir dalam persekutuan umat-Nya dan mengabulkan doa yang disepakati bersama. Sudah pasti kesepatan dalam persekutuan umat-Nya akan terwujud bila umat terus menjalin hubungan kasih. Kemudian wujud dari menjalin hubungan kasih itu adalah memberi tumpangan. Kondisi dan situasi penganiayaan memaksa orang Kristen terpaksa mengungsi untuk menyelamatkan diri. Di luar rumah berbahaya bagi mereka, sebab itu memberi tumpangan adalah wujud kasih yang paling nyata. Tidak heran bila memberi tumpangan dengan hati yang tulus dan mengasihi disejajarkan dengan menjamu malaikat. Karena di antara orang-orang yang mengungsi itu ada para pemberita Injil yang mengabdi hidupnya sepenuhnya kepada Kristus tanpa pamer diri sebagai hamba Tuhan. Jadi memberi tumpangan adalah wujud utama dalam menjalin hubungan kasih.(MT)
Minggu 21 Maret 2021


PESAN MINGGU INI 14 MARET 2021

KASIH DAN PENGAMPUNAN (EFESUS 4:25-32)

Efesus 4:32 “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

Perikop firman Tuhan dalam Efesus 4:17-32 adalah merupakan nilai-nilai kebenaran yang mau tidak mau harus diwujudkan pengikut Kristus yang sudah lahir baru. Wujudnya adalah melalui perilaku dalam hidup sehari-hari. Rasul Paulus melihat dan mengetahui fakta bahwa dalam kalangan pengikut Kristus masih banyak yang walaupun merasa sudah hidup baru tetapi masih mempunyai perilaku dalam hidup yang lama. Kehidupan seperti ini menurut Paulus adalah anak-anak Tuhan yang mendukakan Roh Kudus karena mengabaikan pimpinan Roh Kudus untuk hidup mengasihi Allah dan sesama. Bila terus menerus menjalani hidup seperti ini sangat berpotensi menghujat Roh Kudus karena terbiasa hidup tanpa kasih dan tak hidup dalam pengampunan. Faktanya banyak pengikut Kristus yang mempunyai kesalahpahaman mengenai “Hidup mendukakan Roh Kudus”. Orang yang mendukakan Roh Kudus diukur hanya melalui kata-kata dan pola ibadah serta ketidakterlibatan dalam pelayanan.

Menurut rasul Paulus orang yang mendukakan Roh Kudus nyata melalui perilaku yang jauh dari hidup mengasihi dan mengampuni. Pastikan bahwa diri kita tidak jatuh kepada kesalahan “mendukakan Roh Kudus” dengan:

  • Membangun sikap ramah kepada saudara di dalam Kristus. Ramah tidaklah selalu banyak berbicara atau mengumbar tawa ria. Ramah adalah sikap hati yang menyambut, yang betul nyata melalui tindakan dan raut wajah yang menerima siapa saja dengan apa adanya.
  • Kemudian penuh kasih mesra. Kasih yang bersumber dari ketulusan hati dan dinyatakan pula dengan kehangatan jiwa karena selalu rindu mempunyai hubungan yang baik dengan siapa saja.

Keramahan dan kasih mesra dapat terbangun karena selalu bersedia mengampuni. Kesalahan-kesalahan betul-betul tak akan hilang dari suatu komunitas. Kesalahan bisa hanya bersifat salah paham bisa juga berupa kesalahan melalui tindakan yang nyata. Ada kecenderungan kita menentukan adanya kesalahan-kesalahan saudara kita terlalu sulit untuk diampuni. Pendapat itu jelas selalu karena semua kesalahan selalu bersifat manusiawi dan selalu bersifat terampuni. Standar kita mengampuni adalah seperti Yesus telah mengampuni kita. Perlu juga kita ketahui secara pasti bahwa kita semua berpotensi melakukan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan orang lain kepada kita. Jadi tak ada alasan untuk tidak mengampuni siapapun yang melakukan kesalahan kepada kita. Ingat! Orang yang terus-terusan menyimpan kesalahan orang bersalah, sesungguhnya dia sedang melukai diri sendiri. (MT)
Minggu 14 Maret 2021


PESAN MINGGU INI 07 MARET 2021

MURAH HATI (2 KORINTUS 8:1-7)

2 Korintus 8:2-3 “Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.“Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.”

Rasul Paulus memuji nilai kemurahan hati yang diwujudkan oleh jemaat Makedonia. Jemaat Makedonia ini dapat dijadikan sebagai teladan dalam kemurahan hati, rasul Paulus bahkan menyimpulkan kemiskinan tidak menghalangi mereka memberi dukungan berupa harta mereka yang sangat terbatas untuk membantu para orang-orang kudus. Orang-orang kudus adalah merupakan sebutan mereka kepada para rasul, para pemberita Injil dan para hamba Tuhan yang memberikan diri mereka aktif dalam pelayanan rohani. Sangat beralasan bila rasul Paulus menyatakan jemaat Makedonia kaya dalam kemurahan. Murah hati itu adalah salah satu yang dinyatakan Yesus berbahagia tetapi juga salah satu yang didaftarkan oleh rasul Paulus sebagai buah-buah Roh Kudus. Dalam hal ini jelas Yesus memotivasi semua pengikut Kristus untuk memperjuangkannya atau membangun diri agar terbentuk menjadi seorang yang murah hati. Tetapi hal itu tidak mudah, Itulah sebabnya rasul Paulus mendaftarkannya sebagai buah-buah Roh Kudus. Berarti tidak cukup hanya memperjuangkan dan membangun diri harus juga mempersembahkan atau membuka hati untuk dipenuhi Roh Kudus. Sebenarnya konsep hidup berjemaat telah potensial membangun seseorang yang menjadi murah hati. Karena berjemaat adalah membangun hubungan dengan Allah dan juga mempraktekkan hidup memberi persembahan, perpuluhan dan pemberian-pemberian lainnya. Dalam konsep hidup berjemaat ini bukanlah ritual agama melainkan ketaatan kepada firman Tuhan.

Ada beberapa hal yang mendasari kita membangun diri menjadi seorang yang murah hati, antara lain:

  1. adalah kita adalah milik Allah jadi segala sesuatu yang kita miliki adalah sesuatu yang dipercayakan Allah kepada kita. Mungkin kita berkata bahwa milik kita adalah usaha kita atau hasil kerja kita. Tetapi ingat modal kerja dan kesempatan kerja adalah juga pemberian Allah.
  2. Kemudian putuskanlah secara tegas bahwa kita hidup untuk Tuhan bukan untuk uang. Dengan demikian hati kita terikat dengan Tuhan bukan dengan uang.
  3. Selanjutnya penting kita tahu bila kita memberi sudah pasti ada sesama kita yang tertolong dan berbahagia, dan kebahagiaan mereka adalah juga kebahagiaan kita. Dan memberi itu adalah wujud dari mengasihi, karena orang yang mengasihi pasti memberi walaupun orang yang memberi belum tentu mengasihi.
  4. Akhirnya saat kita memberi baik sebagai persembahan mendukung pelayanan gereja maupun memberi kepada perseorangan, kita bukan hanya menaburkan uang tetapi juga iman, waktu dengan demikian kita menuai hal-hal yang baik dan benar bagi kemuliaan Tuhan pada waktu yang ditetapkan Tuhan. (MT)

Minggu 07 Maret 2021


PESAN MINGGU INI 28 FEBRUARI 2021

HIDUP SALEH

2 Petrus 2:8-9 “sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa –“maka nyata, bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman”

Pada saat gereja berumur ± 35 tahun ternyata gereja di Asia kecil sudah disamakan dengan kejahatan manusia pada zaman Lot. Pengaruh budaya manusia dengan sistem duniawi cukup kuat memasuki kehidupan gereja bersama dengan bermunculannya guru-guru atau pengajar palsu. Paling tidak ada dua ajaran yang menyimpang yang boleh disebut bidat Kristen yang sudah muncul pada zaman rasul dan terus berlanjut sampai sekarang dan terus akan membayangi kehidupan gereja selama dunia belum berakhir:

  1. Hedonisme suatu paham yang menempatkan kenikmatan dunia dan kesuksesan secara materi menjadi ukuran atau standar kebenaran. Bersamaan dengan hedonisme bermunculan pula teologi sukses yang mengajarkan bahwa berkat Allah dan penyertaan Allah menjadi tujuan dalam pengertian berkat dan penyertaan Allah haruslah terbukti melalui materi yang berlimpah. Untuk mencapai kesuskesan maka tidak segan-segan menafsirkan firman Tuhan secara serampangan agar kesuksesan secara materi dapat digapai.
  2. Paham hypergrace atau anugerah yang berlebihan sehingga gereja sangat terbuka kepada kehidupan yang sangat berdosa. Paham yang menyimpang ini mengartikan anugerah Allah yang luar biasa sehingga membebaskan orang percaya berbuat dosa karena selalu ada anugerah Allah dan pengampunan yang berlimpah.

Hedonisme dan hypergrace ini biasanya adalah paham yang berdampingan. Di tengah-tengah keadaan berdosa inilah pengikut Kristus dianjurkan Petrus untuk menjalani dan memperjuangkan kehidupan yang saleh. Tentu sulit menerima kenyataan bila kehidupan berdosa menjadi hal yang biasa terjadi di tengah maraknya kehidupan beragama. Lebih buruknya lagi justru kebaikan Tuhan dijadikan menjadi alasan untuk hidup dalam dosa. Dalam hal ini kita dapat belajar kepada Lot. Allah menyelamatkan Lot karena dia tetap mempertahankan kehidupan yang saleh di tengah-tengah maraknya kehidupan berdosa. Dia sangat menderita menyaksikan orang-orang yang hidup tanpa hukum di lingkungannya. Lot terus berjuang mempertahankan kehidupan yang saleh walaupun hal itu tidak mudah. Belakangan ini pun kita dihadapkan kepada kondisi yang sama. Tetapi teruslah berjuang dan yakinlah bahwa Allah akan selalu nyata dan membuktikan penyertaan-Nya. Teruslah melangkah dan memperjuangkan hidup benar dan saleh, karena Allah tetap mempunyai rencana terindah bagi umat-Nya yang setia dan hidup sesuai kehendak-Nya. (MT)
Minggu 28 Februari 2021


PESAN MINGGU INI 21 FEBRUARI 2021

MENGHARGAI WAKTU

Pengkhotbah 3:10-11 “Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya. “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”

Waktu adalah pemberian Allah yang sempurna kepada semua umat manusia yang ada di dunia yang fana ini. Ada perbedaan yang sangat tajam mengenai konsep waktu dalam pandangan dunia dengan konsep waktu dalam penjelasan Alkitab. Dalam pandangan dunia waktu itu adalah bersifat siklus yang tak menentu sehingga selalu saja bersifat pengulangan. Dalam hal ini tujuan tidak jelas dan cenderung tidak ada. Sedangkan dalam pandangan Alkitab waktu itu bersifat linear atau tegak lurus. Waktu di dunia ini bagi orang percaya ada awal dan ada akhir sehingga tujuan jelas. Alkitab itu sendiri menjadi fakta bahwa waktu itu adalah linear. Melalui peristiwa Alkitab kita melihat fakta bahwa Allah bergerak mengatur sejarah perjalanan manusia di dunia ini mulai dari penciptaan, mengawali tujuan-Nya, melanjutkan tujuan-Nya dan mencapai tujuan-Nya. Dan dalam perjalanan waktu yang bersifat linear itu, Allah berdaulat dalam mengisi dan menentukan saat-saat dan juga juga mengizinkan peristiwa-peristiwa yang mengisi waktu tersebut. Berdasarkan pengalaman itulah raja Salomo mengatakan untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya (Pengkotbah 3:1).

Semua peristiwa yang mengisi waktu itu adalah seizin Allah berdasarkan kedaulatannya. Waktu (kronos adalah bersifat periode dan dalam kronos itu selalu ada waktu Tuhan (kairos) suatu saat-saat kesempatan dan keputusan Allah berbuat sesuatu).

Dalam pimpinan Allah kita dapat menghadapi segala peristiwa peristiwa yang menyenangkan atau menyakitkan, memudahkan atau menyulitkan sebagai kairos (waktu Tuhan), saat-saat Allah memberi kesempatan dan memutuskan sesuatu untuk kebaikan dan mendewasakan anak-anak-Nya. Karena waktu adalah linear dan bersifat sementara di bumi ini maka semua anak Tuhan harus menghargainya dengan cara mengisinya dengan baik. Tetap hidup sesuai kehendak Allah menghadapi segala kemungkinan karena “Dia membuat segala sesuatu indah pada waktunya”. Berhati-hati agar segala tindakan dalam waktu yang singkat itu, tidak keluar dari kehendak Allah. Juga dalam mengisi waktu yang singkat itu perlu kita meresponi dan menghargai sebaik-baiknya “Kekekalan yang diberikan ke dalam hati kita”. Teruslah pupuk keinginan mendalam akan sesuatu yang jauh lebih berharga dari hal-hal yang bersifat duniawi yang sementara. Hal itu berarti di dunia yang sementara ini, kita harus terus membangun kehidupan dengan terus melakukan perbuatan yang bernilai kekekalan. (MT)
Minggu 21 Februari 2021


PESAN MINGGU INI 14 FEBRUARI 2021

HIDUP JUJUR

Amsal 13:3, 6,11 “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan. “Kebenaran menjaga orang yang saleh jalannya, tetapi kefasikan mencelakakan orang berdosa. “Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya.”

Raja Salomo menulis Amsal pada masa-masa telah dewasa dan telah berhasil dalam hampir segala pencapaian yang ingin dicapai oleh manusia pada umumnya. Dalam pengalaman panjang sebagai pemimpin bangsa Israel dia telah belajar sangat banyak mengenai karakter-karakter manusia. Salah satu karakter yang sangat mempesona dirinya adalah karakter jujur. Dia menyadari hidup jujur itu bukanlah dilahirkan tetapi diperjuangkan. Karena harus diperjuangkan melalui pembelajaran seumur hidup, maka raja yang terkenal dengan hikmatnya ini mengangkat topik hidup jujur ini menjadi bagian penting dalam nasehat-nasehatnya kepada anak-anak muda sebagai generasi yang menerima tongkat estafet dari generasinya yang sudah semakin tua dan segera akan berlalu. Kita sangat paham bahwa sifat jujur adalah sifat atau karakter utama dan menonjol dari seorang yang berintegritas.

Dalam satu pasal ini saja raja Salomo menjelaskan tiga kali bagaimana kehidupan orang-orang yang jujur:

  1. Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, artinya bahwa orang jujur tidak akan pernah mengijinkan hati dan pikirannya dipimpin oleh keinginan-keinginannya yang terkadang menyimpang dari nilai-nilai ketulusan. Hal itu berarti dia akan berjuang untuk menyelaraskan hati, pikiran, perkataan dan perbuatan. Kejujuran dikontraskan dengan penghianat yang disesatkan oleh kecurangannya.
  2. Orang jujur dilepaskan oleh kebenarannya. Dalam Hal ini jujur tidak boleh juga menyimpang dari kebenaran. Jadi kebenaran Firman yang ada dalam hati, pikiran dan perkataannya itulah yang terwujud dalam tindakan dan perbuatan. Jadi bukan hanya jujur tetapi harus juga baik dan benar.
  3. Berkat orang jujur memperkembangkan kota artinya orang jujur selalu mengarahkan hati dan pikiran serta perkataan dan perbuatan untuk memperbaiki dan membangun. Orang yang biasanya selalu berhadapan dengan orang fasik yang selalu berusaha merusak segala sesuatu yang sudah diperbaiki dan dibangunnya. Tetapi biasanya orang jujur tak akan berhenti berbuat karena kejujuran tidak akan pernah berhenti menunjukkan kejujurannya. Kejujuran atau orang jujur justru membuktikan diri dan tertantang saat dikhianati oleh orang-orang curang dan orang-orang fasik.

Perlu diingat orang-orang jujur akan tetap merasa damai dan sejahtera kendatipun dihadapkan kepada berbagai kesulitan.(MT)
Minggu 14 Februari 2021


PESAN MINGGU INI 07 FEBRUARI 2021

MANUSIA BARU

Efesus 4:20-23 “Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu”

Sebelum membahas mengenai manusia baru rasul Paulus menerangkan perilaku buruk orang-orang yang tidak mengenal Allah. Rasul Paulus menyebutkan bahwa manusia yang tidak mengenal Allah sebagai manusia lama yang dikontraskan dengan manusia baru. Rasul Paulus sedang mengingatkan orang percaya di Efesus tentang kondisi kehidupan dan perilaku mereka sebelum mengenal Allah (Efesus 4:17-19). Sebelum mengenal Allah atau hidup di luar Tuhan memikirkan hal yang sia-sia karena orientasi hidupnya adalah dunia, kekayaan dan ketenaran serta kedudukan. Semua itu sia-sia karena bersifat sementara yang pada saatnya akan berlalu. Orang yang jauh dari persekutuan dengan Tuhan memiliki pengertian yang tidak jelas dan tidak pasti mengenai hal tujuan hidup atau pengertian mereka gelap. Lebih jelasnya rasul Paulus mengatakan mereka bodoh dan degil serta perperasaan tumpul. Wujud dari semuanya itu adalah dikalahkan oleh hawa nafsu, serakah dan melakukan berbagai kecemaran. Kabar baiknya adalah bahwa orang percaya tidaklah sama melainkan tampil dengan karakter yang berbeda. Perbedaan itu terjadi karena belajar mengenal dan semakin mengenal Kristus.

Orang percaya di Efesus telah mengenal Allah dan hidup dalam persekutuan dengan Allah di dalam Kristus dan itulah awal dimulainya status “Manusia Baru”. Perlu diingat bahwa manusia baru bukan suatu status langsung jadi, bukan pula peristiwa mistis yang tiba-tiba menjadi seorang yang berubah secara adikodrati seakan-akan kakinya tidak lagi meginjak bumi. “Tetapi kamu bukan lagi demikian (manusia lama), kamu sudah belajar mengenal Kristus (manusia baru) Efesus 4:20. Ketika seseorang menerima Yesus menjadi Tuhan dan juruselamatnya dia betul telah hidup baru karena dilahirkan kembali menjadi anak Tuhan (Yohanes 1:12). Tetapi hal itu belum cukup. Dia harus memulai hidup menjadi manusia baru dengan terus belajar mengenal dan semakin mengenal Kristus.

Bila orang percaya belajar mengenal Kristus tentu saja disertai dengan hidup semakin akrab bersekutu dengan Kristus, sudah pasti cepat atau lambat manusia lama dengan segala karakter buruknya akan dibuang. Kita semakin mengenal dan melakukan firman Tuhan serta membangun kehidupan doa dan ibadah. Jangan lupa pula saling bersekutu dengan sesama agar tercipta kondisi saling membangun. (MT)
Minggu 07 Februari 2021


PESAN MINGGU INI 31 JANUARI 2021

PEMBERITAAN INJIL DIMULAI

Lukas 4:14-15 “Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.”

Tiga orang penulis Injil sinoptik sama-sama memberi informasi yang sama yaitu setelah menang atas cobaan iblis, Yesus tampil di Galilea. Matius menyoroti tentang peristiwa Yohanes pembaptis ditangkap dan Yesus menyingkir ke Galilea untuk menggenapi firman Allah yang dinubuatkan nabi Yesaya (Yesaya 8:23; 9:1). Walaupun penggenapan itu sepertinya kurang penting tetapi hal-hal sepele pun yang sudah dinubuatkan tentang Yesus tetap tergenapi. Bila hal-hal sepele saja dinubuatkan dan digenapi pastilah hal-hal penting apalagi yang utama pasti dinubuatkan dan digenapi. Sangat jelas bahwa Allah berkarya melalui perencanaan dan melaksanakan serta menuntaskan rencana-Nya dengan sempurna. Matius sangat tegas mengatakan kepada orang Yahudi bahwa Yesus datang adalah untuk mengenapi hukum Taurat dan sebagai penggenapan janji Allah melalui nubuat-nubuat para nabi. Markus pun menulis bahwa setelah Yesus dicobai, Dia tampil di Galilea untuk memberitakan Injil.

Secara jelas Markus menyatakan Injil adalah kabar baik yang perlu secepatnya didengar oleh semua manusia. Markus memberitakan bahwa Allah telah bertindak langsung untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan akibat dosa. Tindakan Allah itu adalah melalui karya Tuhan Yesus Kristus. Markus memberitakan bahwa Yesus mulai karya-Nya dari Galilea yang datang dengan kuasa yang nyata. Bukan hanya melalui pernyataan kuasa, tetapi juga melalui ajaran kebenaran yang menjadi standar moral, jadi sangat jelas mengajak semua orang haruslah bertobat karena sudah sangat jauh melenceng dari kebenaran. Tetapi pertobatan yang dimaksud haruslah berdasarkan iman supaya menuntun kepada keselamatan, melepaskan dari kuasa dosa dan iblis serta menuntun dan membawa kepada kehidupan yang kekal. Markus secara tegas menyatakan kepada orang Roma bahwa untuk menyelamatkan manusia Yesus melakukan karya yang luar biasa hingga rela mengorbankan diri-Nya. Lukas yang menulis Injilnya sepertinya fokus kepada orang Yunani. Injil Lukas sangat tertata dengan rapi dan mempunyai nilai historis yang luar biasa, tepat, faktual dan dapat diberi nilai sempurna. Lukas memahami minat orang Yunani yang sangat filosofis sangat menyukai pemberitaan yang bernilai adikodrati. Lukas menjelaskan bahwa pemberitaan Injil yang dimulai Yesus dari Galilea adalah bagian dari kuasa Roh Kudus. Jadi sangat jelas campur tangan Allah dan kuasa Roh Kudus sejak awal pemberitaan Injil. (MT)
Minggu 31 Januari 2021


PESAN MINGGU INI 24 JANUARI 2021

MENANG ATAS PENCOBAAN

Ibrani 4:15 “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”

Yesus Imam Besar bukan mempersembahkan korban penghapusan dosa berupa lembu tidak bercacat, melainkan pengorbanan diri-Nya menjadi korban sempurna untuk menghapus dosa dan menyelamatkan manusia yang berdosa. Jabatan imam besar adalah jabatan abadi Tuhan Yesus yang terus-menerus duduk di sebelah kanan Allah Bapa mendoakan dan membela umat-Nya. Sebagai imam besar abadi dia terus-menerus ada sebagai pengantara abadi karena dalam nama-Nya kita selalu dapat menikmati penyertaan-Nya selalu dan setiap saat. Dan Dia bukan saja mengetahui kelemahan-kelemahan umat-Nya melainkan juga turut merasakannya. Karena faktanya Yesus dicobai tetapi Dia menang, tidak kalah terhadap pencobaan. Hal Yesus dicobai berhubungan dengan fakta Yesus dicobai iblis. Yang kisahnya ditulis oleh Matius dan Lukas dengan sangat jelas.

Walaupun Yesus Allah yang menjadi manusia yang hidup tanpa dosa tetap saja menjalani kewajiban agama dan mengalami pengalaman hidup yang dialami oleh semua manusia. Yesus disunat dan dibaptis walaupun kedua ritual agamawi ini merupakan tanda pertobatan yang tidak perlu dijalani Yesus. Tetapi karena 2 ritual agama ini diperintahkan Tuhan maka Yesus mentaatinya. Yesus pun tidak menolak untuk berpuasa karena berpuasa adalah juga suatu kegiatan agama yang Alkitabiah dan mempunyai suatu nilai kebenaran untuk membangun kehidupan kerohanian Yesus sudah sempurna, jadi tidak perlu dibangun lagi melalui berpuasa. Tetapi Yesus mentaati semuanya sebagai teladan abadi bagi orang percaya. Selanjutnya Yesus dicobai oleh iblis. Dalam hal ini pun Yesus menjalani proses pencobaan ini dengan sungguh-sungguh. Yesus tidak menganggap pencobaan ini sebagai hal yang sepele walaupun sesungguhnya Dia sudah menang sebelum dicobai. Yesus memberi keteladanan bahwa manusia beriman khususnya pengikut Kristus harus selalu siap menghadapi iblis. Karena iblis selalu menuduh dan berusaha membinasakan pengikut Kristus.

Bukan penderitaan atas sakit penyakit yang paling berpotensi membinasakan orang percaya. Iblis justru menawarkan berbagai kemampuan, ketenaran dan kekayaan agar orang percaya tunduk dan sujud kepadanya. Tuhan Yesus memberi keteladanan bahwa apapun yang ditawarkan iblis haruslah berpegang teguh untuk mentaati dan hidup sesuai firman Tuhan. Hanya dengan keteguhan hati inilah kita tidak jatuh dalam dosa. Seperti Yesus dicobai iblis dengan menawarkan tiga hal yaitu mengubah batu menjadi roti (kemampuan), melompat dari ketinggian (kehebatan) dan memiliki kekayaan, Yesus tetap berpegang teguh. Bukan kemampuan, kehebatan dan kekayaan tetapi Bapa dan firman-Nyalah yang utama.(MT)
Minggu 24 Januari 2021


PESAN MINGGU INI 17 JANUARI 2021

MENGGENAPKAN KEHENDAK BAPA

Lukas 3:21-22 “Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

Berita pertobatan Yohanes pembaptis menadapat sambutan yang baik dari masyarakat Yehuda dan mereka pun memberikan diri dibaptis sebagai tanda pertobatan. Yohanes pembaptis sangat antusias melaksanakan tugas pelayanan memberitakan berita pertobatan, hingga tanpa kenal lelah dia terus berkotbah di padang belantara. Kemudian dia melanjutkan membaptis para petobat baru itu di sungai Yordan. Tetapi betapa dia terkejut ketika Yesus juga datang kepadanya untuk minta dibaptis. Yohanes pembaptis mengetahui dan mengenal Yesus dengan baik. Tentang Yesus Yohanes pembaptis mengakui dihadapan orang banyak bahwa setelah dia, Yesus akan menindaklanjuti pelayanannya, dan membuka sepatu Yesus saja Yohanes tidak layak. Yohanes pembaptis membaptis dengan air sebagai tanda pertobatan sedangkan Yesus membaptis dengan Roh Kudus bukan hanya sebagai tanda tetapi sebagai fakta yang menuntun dan mengurapi hidup. Selanjutnya Yohanes mengenal Yesus sebagai Allah yang menjadi manusia. Bukan manusia yang berdosa melainkan manusia yang sempurna karena hidup tanpa dosa. Jadi menurut Yohanes Pembaptis tidak ada relevansi baptisan Yohanes dengan Yesus. Kalaupun terjadi pembaptisan haruslah dibalik yaitu Yesus lah yang akan membatis Yohanes. Tetapi Yesus menjawab Yohanes “Biarlah hal itu terjadi karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Matius 3:19).

Jadi Yesus dibaptis bukan sebagai tanda pertobatan melainkan menggenapan kehendak Allah. Yesus tidak wajib dibaptis dan juga tidak perlu dibaptis, tetapi bukanlah masalah wajib dan perlu tetapi adalah soal penggenapan kehendak Allah. Yohanes pembaptispun membaptis Yesus untuk keperluan kehendak Allah, dan ternyata ketika kehendak Allah dilakukan, Allah pun memproklamirkan kepada Yohanes pembaptis bahwa Yesus adalah anak Allah. Yohanes melihat fenomena langit terbuka di atas Yesus dan Roh Kudus dengan lambang merpati atas Yesus dan mendengar suara Allah yang mengatakan suatu pernyataan “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi kepada-Mulah Aku berkenan”. Manifestasi yang luar biasa ini terjadi karena Yohanes membaptis sebagai bentuk pelayanannya untuk melakukan kehendak Allah dan Yesus dibaptis untuk menggenapkan kehendak Allah. Dan dalam kisah Yesus dibaptis telah menyingkapkan ke-Esaan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus secara nyata dan sangat jelas. Ke-Esaan yang manunggal dan tak terpisahkan. (MT)
Minggu 17 Januari 2021


PESAN MINGGU INI 10 JANUARI 2021

INDAHNYA TANGGUNG JAWAB

Lukas 2:39-40 “Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.“Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.”

Yusuf dan Maria sangat sadar bahwa Yesus adalah Anak Allah yang dipercayakan Allah berada dalam pengasuhan mereka. Yusuf bisa saja berpikir bila Yesus dapat bertumbuh dengan baik tanpa pengasuhan yang sungguh-sungguh mereka lakukan. Tetapi faktanya Yusuf tetap mengasuh dan mendidik Yesus sebagai anak yang dipercayakan kepada mereka. Yusuf dan Maria tetap bertindak sebagai orangtua yang bertanggungjawab mengasuh dan membesarkan Yesus. Mereka tidak mau melewatkan dan menyia-nyiakan indahnya tanggungjawab. Dengan sungguh-sungguh tanpa sedikit keraguan Yusuf membawa Yesus ke Bait Allah pada saat Yesus baru berumur delapan hari. Dalam acara penyerahan yang disertai penyunatan itu, kedua orangtua yang sedang melakukan tanggungjawabnya ini kembali dikejutkan oleh sikap Simeon dan Hana dalam hal menyambut sang bayi Yesus. Kekaguman demi kekaguman telah menyertai Yusuf dan Maria setiap melakukan tanggungjawab mereka sebagai orangtua yang dipercayakan Allah untuk mengasuh Yesus. Pertemuan Simeon dengan bayi Yesus telah membuatnya siap menghadapi kematian karena yakin akan keselamatannya. Pertemuan Hana dengan bayi Yesus membuatnya langsung bersemangat memberitakan kehadiran Yesus disertai uacapan syukur kepada Allah. Faktanya Yusuf dan Maria bukan saja menikmati keindahan dan keajaiban dalam melaksanakan tanggungjawab mengasuh Yesus. Mereka juga harus siap melakukan hal-hal melelahkan dan beresiko untuk menyelamatkan bayi Yesus.

Setelah melakukan kewajiban agama terhadap Yesus mereka kembali ke Nazaret. Hampir dua tahun kemudian mereka harus pula membawa Yesus ke Mesir untuk menyelamatkannya dari kekejaman raja Herodes yang mau membunuhnya. Setelah Herodes mati mereka harus kembali lagi ke Galilea. Pergi ke Mesir dan pulang lagi adalah perjalanan jauh yang membutuhkan banyak biaya. Di samping sangat melelahkan tentu juga sangat beresiko karena harus melalui zona yang sangat berbahaya. Semua tanggungjawab itu dilaksanakan dengan sangat baik. Mereka menemukan keindahan dalam tanggungjawab itu. Karena saat Yusuf dan Maria melihat pertumbuhan Yesus segala kesulitan yang mereka lewati menjadi suatu pengalaman yang indah dan menyenangkan. Yesus bertumbuh sebagai seorang manusia yang sempurna, Yesus bertambah besar dan menjadi kuat serta penuh hikmat. Yesus berada dalam pengasuhan orang tua yang tepat yang mengasuhnya bertumbuh dengan baik menjadi manusia yang sempurna. Dalam hal ini Yusuf dan Maria betul-betul menikmati indahnya tanggung jawab. (MT)
Minggu 10 Januari 2021


PESAN MINGGU INI 03 JANUARI 2021

 

HIDUP HARUS TERUS MELAJU

Pengkhotbah 3:11 “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir”.

Kita mengawali tahun 2021 ini dengan kondisi sulit dan dibayang-bayangi keadaan yang penuh tanda tanya karena covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda untuk berakhir. Belum lagi situasi politik yang tak menentu dan kondisi ekonomi yang memburuk di negeri tercinta. Tetapi bila kita mencoba merenungkan firman Tuhan dalam Pengkotbah 3 betul juga bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya. Bila kita berada pada waktu sekarang dengan keadaan seperti sekarang tentu bukanlah nasib buruk yang harus diterima melainkan keadaan buruk yang harus dihadapi. Karena apapun yang terjadi hidup harus terus melaju.

Bila kita berjuang hanya berdasarkan kekuatan dan upaya kita yang terbatas bisa-bisa kita kecewa berat. Itulah sebabnya dalam kondisi apapun haruslah terus bersandar kepada Allah.

  • Bersandar kepada Allah memang bukan suatu pilihan melainkan perintah Tuhan yang harus ditaati, tetapi dapat juga diterima sebagai panggilan hidup yang terus dihargai sebagai anugerah Allah.
  • Bersandar kepada Allah sebagai anugerah Allah berarti adalah kesempatan yang indah untuk mengalami pernyataan dan pertolongan Allah.

Barangkali saudara adalah bagian dari orang percaya yang sudah sangat terbiasa dengan kalimat “Hidup berharap kepada Allah”. Sehingga menganggapnya sebagai kalimat klise atau merupakan kalimat agamawi belaka. Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap kepada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. (1 Timotius 6:7). Jelas bukan? Firman Allah menyatakan dengan tegas agar umat-Nya dalam kondisi apapun tetaplah berharap kepada Allah. Bila dikaruniai kekayaan bukan untuk diharapkan tetapi untuk dinikmati dan disyukuri. Jadi baik orang kaya maupun orang miskin sama-sama menjalani hidup dan sama-sama sujud hidup menyembah dan berharap kepada Allah. Karena berbagai peristiwa yang menyenangkan dan menyulitkan ada waktunya. Bila sekarang situasinya menyulitkan hadapi sajalah dengan tabah karena Allah akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Lagi pula situasi-situasi sulit sifatnya sementara karena sebesar apapun badai pasti akan berlalu. Bahkan faktanya badai hanya numpang lewat, walaupun segala sesuatu yang dilewati menjadi porak-poranda. Setelah itu akan menjadi indah. Indah bukan sembarang waktu, bukan juga sepanjang waktu, tetapi pada waktunya Tuhan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya. (MT)
Minggu 03 Januari 2021