DISELAMATKAN UNTUK MENJADI PENUAI
Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. Dan setelah ia makan, pulihlah kekuatannya Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. (Kisah Para Rasul 9:18-20)
Perubahan hidup Rasul Paulus sungguh mengagumkan dan menggembarkan banyak orang percaya, termasuk para rasul. Pertobatan Rasul Paulus bukan terjadi dalam suatu kebaktian kebangunan rohani di tempat ibadah atau di lapangan terbuka, melainkan di jalanan. Bukan pula saat ia sedang beribadah dan berdoa, tetapi justru ketika ia sedang meluapkan kebenciannya kepada para pengikut Kristus.
Baginya, pengikut Kristus adalah penghujat Allah yang harus dilawan. Namun justru pada saat itulah ia bertemu dengan Kristus. Perubahan yang radikal itu terjadi ketika Paulus berjumpa dengan Yesus. Perubahan hidup Paulus setelah pertemuannya dengan Yesus menjadi bukti bahwa Yesus hidup dan masih terus berkarya.
Pertemuan Paulus dengan Yesus berlanjut hingga ia dibaptis sebagai tanda memproklamasikan keselamatannya. Paulus diselamatkan, dipanggil, dan diutus untuk menjadi penuai. Ia adalah seorang penganiaya orang percaya yang diselamatkan untuk mengajak banyak orang menjadi percaya.
Pertobatan dan perubahan hidup radikal Rasul Paulus dilanjutkan dengan mengamalkan panggilannya untuk memberitakan Injil dan juga untuk menderita bagi Kristus. Panggilan untuk memberitakan Injil menguasai seluruh kehidupan Paulus secara total. Ia memberitakan Injil dengan penuh sukacita. Bahkan dalam 1 Korintus 9:16, ia menyatakan bahwa memberitakan Injil adalah suatu keharusan. Dengan tegas ia berkata, “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.”
Panggilan untuk memberitakan Injil bagi Rasul Paulus juga disertai dengan panggilan untuk menderita bagi Kristus. Sejak awal pertobatannya, Yesus telah menyatakan bahwa Paulus akan mengalami banyak penderitaan karena nama-Nya. Dalam hal ini, Yesus menunjukkan bahwa pemberitaan Injil dan penderitaan adalah dua hal yang berjalan seiring.
Sesungguhnya, menderita karena nama-Nya menjadi pertanda perkenanan Allah atas hamba-Nya. Hal itu merupakan fakta yang dicatat dengan jelas dalam pelayanan para rasul di Kisah Para Rasul.
Karena itu, perlu dipahami bahwa menuai jiwa-jiwa tanpa adanya konsep penderitaan karena nama Yesus patut dipertanyakan dalam terang perkenanan Allah atas suatu pelayanan. MT
Minggu 29 Maret 2026




