Kamis 15 Oktober 2026
MENDENGAR SEBELUM BERBICARA
Sabda Renungan : “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yakobus 1:19)
Memberitakan Injil tidak selalu dimulai dengan berbicara. Kadang-kadang dimulai dengan mendengar.
Kita hidup di zaman ketika banyak orang ingin didengar. Mereka memiliki cerita, pertanyaan, ketakutan, dan pergumulan yang mungkin selama ini mereka simpan sendiri. Namun tidak semua memiliki seseorang yang benar-benar mau mendengarkan.
Yakobus mengingatkan kita untuk cepat mendengar dan lambat berkata-kata. Ini bukan berarti kita tidak boleh berbicara tentang Injil. Sebaliknya, mendengar membantu kita memahami bagaimana kita dapat menyampaikan kabar baik dengan penuh kasih dan relevan dengan keadaan seseorang.
Ketika seseorang bercerita tentang masalah keluarganya, jangan langsung memotong dengan nasihat. Ketika seseorang menceritakan ketakutannya, jangan langsung mengatakan bahwa ia kurang iman. Dengarkan terlebih dahulu. Dengan mendengar, kita dapat mengetahui apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi.
Mungkin di balik kemarahan ada luka. Di balik kekhawatiran ada ketakutan. Di balik pertanyaan tentang Tuhan ada pengalaman yang belum terselesaikan. Setelah mendengar dengan sungguh-sungguh, kita dapat meminta hikmat Tuhan untuk menentukan kapan dan bagaimana membagikan Injil.
Mendengar bukan berarti menyetujui semua hal yang dikatakan seseorang. Mendengar berarti menghargai pribadi tersebut dan memberikan ruang untuk berbicara.
Ketika seseorang merasa didengar, hubungan mulai terbentuk. Dan hubungan dapat menjadi jembatan bagi Injil.
Kesimpulan : Salah satu cara terbaik untuk membuka pintu bagi Injil adalah belajar mendengar dengan sungguh-sungguh. Sebelum berbicara kepada seseorang tentang Kristus, belajarlah terlebih dahulu memahami kehidupannya.
Doa : “Tuhan, berikan aku telinga yang mau mendengar dan hati yang mau memahami. Jauhkan aku dari sikap terburu-buru menghakimi. Berikan hikmat agar melalui percakapan yang sederhana, aku dapat menjadi saksi-Mu. Amin.”




