Selasa 19 Mei 2026
BAHASA ROH DAN MISTERI IMAN
Sabda Renungan : “Dan ketika Paulus menumpangkan tangan atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa Roh dan bernubuat.”(Kisah Para Rasul 19:6)
Tema bahasa Roh adalah tema teologis yang belum tuntas dibahas hingga abad ke-21 ini. Menurut saya, hal itu mungkin tidak akan pernah benar-benar tuntas, apalagi jika dibawa ke dalam perdebatan teologis. Karena itu, tidak perlu kita bingung. Biarlah tema bahasa Roh tetap menjadi salah satu misteri teologis yang tidak sepenuhnya terjawab. Tidak semua pertanyaan harus memiliki jawaban yang sempurna.
Di dalam Yesus, kita tetap dapat bertumbuh dan hidup dalam damai meskipun ada pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Para rasul pun mengalami penderitaan dalam pelayanan, yang tentu menimbulkan pertanyaan seperti, “Mengapa hal ini harus terjadi?” Namun, hingga akhir hidup mereka, banyak dari pertanyaan itu tidak pernah terjawab. Meski demikian, mereka tetap hidup produktif dalam pelayanan.
Khususnya rasul Yohanes yang dibuang ke Pulau Patmos. Ia tentu bisa saja bertanya, “Mengapa Yesus membiarkan hal ini terjadi?” Sampai akhir hidupnya, pertanyaan itu mungkin tetap tidak terjawab. Namun, justru dalam pembuangan itulah ia menjadi sangat produktif dengan menulis Kitab Wahyu. Kitab tersebut merupakan wujud pengalaman spiritualnya dalam hidup bersama penyertaan Yesus.
Demikian juga rasul Paulus yang mungkin bertanya, “Mengapa Tuhan Yesus membiarkan aku dipenjara?” Hidup dengan pertanyaan yang tidak terjawab justru menunjukkan bahwa Injil tidak terhenti oleh tembok penjara. Dalam pelayanannya, rasul Paulus menjelajahi berbagai daerah, termasuk Efesus. Di sana, ia bertemu dengan sekelompok orang percaya yang belum menerima Roh Kudus. Melalui penjelasan yang sederhana, mereka akhirnya menerima Roh Kudus. “Dan ketika Paulus menumpangkan tangan atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa Roh dan bernubuat” (Kisah Para Rasul 19:6).
Pengalaman berbahasa Roh di Efesus ini terjadi sekitar 25 tahun setelah pencurahan Roh Kudus pertama di Yerusalem. Hal ini menunjukkan bahwa karya Roh Kudus tetap konsisten dari awal hingga waktu-waktu berikutnya. Pencurahan Roh Kudus sering kali ditandai dengan bahasa Roh.
Dari dalam penjara, rasul Paulus juga menulis surat kepada jemaat di Efesus. Surat itu bukanlah jawaban atas kontroversi doktrinal, melainkan luapan syukur yang melimpah. Demikian pula, bahasa Roh dapat menjadi ungkapan syukur yang melimpah kepada Tuhan. Karena itu, hiduplah dalam iman, meskipun tidak semua hal terjawab.MT
Hidup beriman tidak menuntut semua jawaban; bahasa Roh dan pelayanan tetap berjalan sebagai ungkapan syukur di tengah misteri iman.





