Senin 18 Mei 2026
SARANA PEMBERIAN ALLAH
Sabda Renungan : “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru.” (Markus 16:17)
Tuhan Yesus mengutus murid-murid-Nya dengan memberikan kuasa untuk menyatakan tanda-tanda yang menyertai pelayanan dalam penjangkauan. Tanda-tanda itu antara lain: mengusir setan-setan, berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru, kebal terhadap ular dan racun yang mematikan, serta menyembuhkan berbagai penyakit dalam nama Tuhan Yesus.
Ada satu tanda yang hingga kini masih cukup kontroversial, yaitu berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru, yang dalam bahasa aslinya disebut glosalia. Glosalia yang dimaksud adalah bahasa lidah atau bahasa Roh. Sampai sekarang, sebagian gereja mempraktikkan bahasa Roh, sementara sebagian lainnya tidak. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika bahasa Roh sering menimbulkan kebingungan, terlebih ketika dibawa ke dalam perdebatan teologis.
Tidak sedikit teolog yang menyimpulkan bahwa praktik bahasa lidah merupakan hal yang menyimpang. Ada pula yang menuduh bahwa orang yang berbahasa lidah bukan berasal dari Tuhan, melainkan merupakan realitas psikis yang bermasalah. Bahkan, lebih ekstrem lagi, ada pendeta yang secara terang-terangan menyatakan bahwa bahasa lidah bukan berasal dari Tuhan, melainkan dari setan. Sungguh disayangkan.
Sampai saat ini, belum ada dogma gereja yang secara jelas merumuskan tentang bahasa lidah untuk menjawab keingintahuan jemaat Tuhan. Dalam kenyataannya, terdapat banyak praktik bahasa Roh yang membingungkan, misalnya melebih-lebihkan bahasa Roh dibandingkan karunia yang lain. Hal ini juga sering menimbulkan kebingungan dan bahkan mengacaukan persekutuan. Entah benar atau tidak, ada pula yang mengatakan bahwa terdapat hamba Tuhan yang mengajarkan bahasa Roh seperti mengajarkan bahasa sehari-hari, misalnya bahasa Indonesia. Membingungkan, bukan?
Namun, kebingungan tersebut tidak akan menggagalkan janji Allah. Tanda-tanda itu beragam dan tidak harus semuanya dialami. Apa pun bentuknya, tanda-tanda tersebut jangan pernah dijadikan sebagai ritual agama, apalagi sebagai ukuran kerohanian seseorang. Sebab, tanda-tanda itu bukanlah tujuan, melainkan sarana yang Allah berikan dalam memberitakan Injil.
Mencoba membuat doktrin mengenai bahasa lidah bukanlah hal yang tepat. Bahasa lidah bukan untuk didoktrinkan, melainkan untuk diterima dan dialami. Namun demikian, diperlukan kejujuran agar tidak sekadar ikut-ikutan. Bahasa lidah, seperti halnya tanda-tanda lain seperti mukjizat kesembuhan, dapat saja disalahgunakan—bahkan mungkin menjadi yang paling mudah dimanipulasi. MT
Tanda rohani bukan tujuan, melainkan sarana; bijaklah menyikapi bahasa lidah dengan iman dan tidak menjadikannya ukuran kerohanian seseorang sejati.





