Kamis 30 April 2026
HIDUP YANG MEMULIAKAN ALLAH MEMALUI PUJIAN
Sabda Renungan : “Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN.” (Mazmur 113:3)
Seorang rohaniawan Katolik pernah berkata bahwa banyak manusia tidak memberikan kepada Allah apa yang justru diberikan oleh hewan dan tumbuhan. Memang, manusia tidak dapat memahami bunyi hewan, bahkan tidak mendengar suara tumbuhan. Kita sering menganggap suara hewan hanyalah kegaduhan, dan tumbuhan tidak bersuara. Namun, Alkitab menyatakan bahwa hewan dan tumbuhan pun menggemakan pujian untuk memuliakan Allah.
Allah layak dipuji karena kemuliaan-Nya. Umat-Nya memuji Dia sebagai pengakuan atas kemuliaan tersebut. Ia memang mulia, dan kemuliaan-Nya tidak bergantung pada apa pun di luar diri-Nya.
Sebagai perbandingan, seorang hakim tampak mulia karena mengenakan toga; ketika toganya dilepas, ia kembali menjadi orang biasa. Seorang polisi disegani karena seragamnya; ketika seragam itu dilepas, wibawanya pun berkurang. Namun, berbeda dengan Allah—Ia selalu mulia. Kemuliaan-Nya tidak pernah lepas, karena tidak mungkin dilepaskan.
Karena itu, dari terbit hingga terbenamnya matahari, kita patut memuji Dia. Artinya, kita seharusnya senantiasa hidup dalam pujian, sebab Allah selalu mulia. Ia telah memberikan akal budi kepada kita untuk memahami kemuliaan-Nya, sehingga kita terdorong untuk memuji-Nya.
Dalam setiap aspek kehidupan, kita dapat memuji Tuhan: saat bangun pagi, saat memulai pekerjaan, saat pulang ke rumah, bahkan ketika makan bersama keluarga. Pujian bukan hanya bagian dari ibadah, tetapi juga gaya hidup orang percaya.
Pemazmur berkata: “Ya Allahku, aku berseru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi aku tidak tenang. Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian umat Israel.” (Mazmur 22:3–4)
Ketika kita merasa seolah-olah ditinggalkan, justru saat itulah kita perlu memuji Dia, sebab Allah hadir di dalam pujian umat-Nya.
Hidup yang terus memuji Allah hanya dapat dijalani oleh orang yang rendah hati. Orang yang rendah hati rindu memuliakan Allah, bukan dirinya sendiri. Sebaliknya, kesombongan akan mendorong seseorang mencari kemuliaan bagi diri sendiri. Padahal, kehormatan sejati bukanlah sesuatu yang dapat diraih dengan usaha manusia, melainkan pemberian Allah kepada mereka yang setia memuji-Nya. Ketika kita memuji Dia, Allah pun menyatakan kemuliaan-Nya melalui hidup kita. MT
Allah layak dipuji selalu, dan orang rendah hati hidup memuliakan-Nya dalam setiap keadaan hidupnya.





