Jumat 24 April 2026
MEMANCARKAN KEMULIAAN ALLAH
Sabda Renungan : “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” (2 Korintus 3:18)
Allah menyatakan kemuliaan-Nya melalui alam, kemah suci, bait suci, dan secara sempurna melalui Yesus Kristus. Namun, Allah juga menyatakan kemuliaan-Nya melalui gereja-Nya. Gereja dirancang sebagai komunitas yang unik, yang mencerminkan kemuliaan Allah, sehingga dunia dapat melihat kemuliaan-Nya melalui kehidupan umat percaya.
Rasul Paulus menyebut pelayanan Musa, yang menyampaikan Taurat kepada umat Israel, sebagai pelayanan yang memimpin kepada kematian. Namun demikian, kemuliaan Allah tetap menyertainya. Sebaliknya, pelayanan Kristus yang dilanjutkan oleh gereja adalah pelayanan Roh yang memimpin kepada kehidupan. Oleh karena itu, kemuliaan Allah yang dinyatakan melalui gereja jauh lebih besar.
Kemuliaan Allah adalah kehadiran-Nya di tengah umat-Nya. Kehadiran ini bukan sekadar penghias atau penghibur, melainkan untuk membangun kehidupan umat. Pelayanan Taurat disampaikan melalui tulisan pada loh batu, sedangkan pelayanan dalam Kristus diteguhkan oleh darah-Nya, dan Roh Kudus menuliskan kebenaran itu di dalam hati manusia. Dengan demikian, kemuliaan Allah dinyatakan dengan lebih nyata.
Kita perlu menyadari bahwa kemuliaan Allah bukan berasal dari manusia, melainkan dipancarkan melalui kehidupan orang percaya. Oleh sebab itu, kedekatan dengan Allah menjadi kunci agar seseorang dapat memancarkan kemuliaan-Nya.
Di atas gunung, Musa melihat kemuliaan Allah, meskipun hanya sebagian kecil, karena tidak seorang pun dapat melihat Allah sepenuhnya tanpa mengalami kematian. Ketika Musa turun dari gunung, wajahnya bercahaya karena ia baru saja berjumpa dengan Allah. Namun, seiring waktu dan jarak, cahaya itu semakin memudar.
Walaupun sinarnya memudar, hal itu tetap membuat umat takut dan menghormati Allah. Ketika Musa menghadapi kesulitan, ia kembali naik ke gunung untuk berjumpa dengan Allah dan memperoleh pembaruan kemuliaan. Namun, setelah kembali ke tengah umat, sinar itu kembali berkurang.
Karena itu, untuk terus memancarkan kemuliaan Allah, syarat utamanya adalah hidup dekat dengan-Nya setiap waktu. MT
Kemuliaan Allah dipancarkan melalui hidup yang dekat dengan-Nya; semakin intim dengan Tuhan, semakin nyata kemuliaan-Nya terlihat dalam kehidupan orang percaya.





