Selasa 21 April 2026
MEMULIAKAN ALLAH MELALUI NYANYIAN
Sabda Renungan : “Baiklah aku menyanyi bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.” (Keluaran 15:1)
Umat Israel di bawah pimpinan Musa memuliakan Allah melalui nyanyian. Memuliakan Allah lewat nyanyian merupakan hal yang bersifat universal. Nyanyian yang mereka kumandangkan menggunakan kalimat-kalimat puitis yang kaya makna dan terbuka terhadap berbagai penafsiran.
Nyanyian Musa dinyanyikan untuk merayakan kemenangan Allah atas Mesir di Laut Teberau. Dalam nyanyian tersebut, umat menyatakan pujian, pengagungan, dan rasa syukur kepada Allah. Firaun memang telah membebaskan Israel dengan mengizinkan mereka keluar dari Mesir. Namun, peristiwa ini juga melambangkan kemenangan umat Allah atas kuasa dosa.
Seperti Firaun yang tidak rela melepaskan Israel, demikian pula iblis tidak menghendaki umat Allah hidup dalam kebebasan. Ia terus berusaha menarik mereka kembali kepada kehidupan lama. Selama kita hidup di dunia ini, kebebasan yang telah dianugerahkan Allah akan terus diuji. Namun, Allah senantiasa menyertai umat-Nya.
Di tengah perjalanan iman tersebut, umat Tuhan dipanggil untuk terus menyatakan kemuliaan Allah, salah satunya melalui nyanyian. Nyanyian menjadi ungkapan pemujaan, penyembahan, dan pengagungan kepada Allah.
Raja Daud berkata: Mazmur 40:4 “Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita…”
Nyanyian adalah pemberian Tuhan yang harus digunakan untuk memuliakan-Nya. Bahkan, melalui nyanyian, banyak orang dapat tersentuh, menjadi takut akan Tuhan, dan akhirnya percaya kepada-Nya.
Karena itu, memuliakan Allah melalui nyanyian tidak boleh dianggap sepele. Sebaliknya, hal ini perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh, baik secara pribadi maupun dalam persekutuan jemaat. Mazmur 101 mengajarkan umat untuk menyanyikan kasih dan kesetiaan Allah yang tidak pernah berakhir.
Nyanyian Musa yang kita baca hari ini bahkan dikutip kembali dalam Wahyu 15:3 sebagai nyanyian kemenangan umat tebusan. Hal ini menunjukkan bahwa “Nyanyian Musa” menjadi nyanyian abadi, karena berisi penyembahan yang tulus atas kasih karunia Allah yang tidak pernah berakhir bagi umat-Nya. MT
Nyanyian adalah sarana memuliakan Allah; melalui pujian, umat menyatakan syukur, iman, dan kemenangan Tuhan yang menyertai hidup selamanya.






