Jumat 13 Maret 2026
KOMUNITAS YANG MENGANDALKAN TUHAN
Sabda Renungan : “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu,” (Daniel 3:17-18)
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego bukanlah orang yang tidak taat kepada otoritas Raja Nebukadnezar. Mereka menghargai raja yang telah memberi kesempatan kepada mereka untuk bekerja di istana kerajaan. Itu adalah kesempatan yang sangat berharga, terlebih karena mereka adalah pemuda tawanan yang dibuang ke Babel sebagai bagian dari disiplin Allah atas bangsa pilihan-Nya agar berhenti mempraktikkan penyembahan berhala.
Dalam kenyataannya, ketika Allah mengizinkan mereka terbuang, justru Nebukadnezar mengangkat mereka ke posisi terhormat. Namun kemudian, mereka dihadapkan pada pilihan yang sulit: taat kepada Allah yang mengizinkan mereka tertawan, atau taat kepada Nebukadnezar yang telah mengangkat mereka bekerja di kerajaan.
Ketika Raja Nebukadnezar memerintahkan semua penduduk untuk menyembah patung lambang kebesarannya, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego berdiskusi untuk menentukan sikap. Nebukadnezar bukanlah pemimpin pertama ataupun terakhir yang mencoba memakai agama demi tujuan politik dan meninggikan dirinya sendiri. Setelah saling berbagi dan menguatkan, komunitas kecil yang terdiri dari tiga orang ini memilih untuk tetap setia kepada Allah dan menolak menaati perintah raja dalam hal penyembahan.
Mereka sadar bahwa sekalipun wajib menghormati pemimpin, kewajiban utama mereka adalah menaati, mengasihi, dan menyembah Allah. Mereka menolak memberikan penghormatan ilahi kepada patung atau penguasa dunia. Dengan tegas mereka menyatakan kesetiaan kepada Allah, baik mendapat pertolongan maupun tidak.
Hidup saling mendukung dalam komunitas membuat iman mereka semakin teguh untuk mengandalkan dan menaati Allah tanpa menghiraukan risiko. Mereka menempatkan ketaatan dan kepercayaan kepada Allah di atas kedudukan, kehormatan, dan keselamatan diri. MT
Kesetiaan kepada Allah harus diutamakan di atas kekuasaan dunia, dengan iman teguh dan saling menguatkan dalam komunitas.




