Selasa 03 Maret 2026
KESETIAAN DI TENGAH KEPAHITAN HIDUP
Sabda Renungan : “Tetapi Rut berkata: ‘Janganlah mendesak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau, sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam; bangsamu adalah bangsaku dan Allahmu adalah Allahku.”(Rut 1:16)
Tidak sedikit pengkhotbah menjelaskan bahwa Elimelekh menderita karena ia meninggalkan Betlehem. Saya tidak mengetahui secara pasti apakah kisah ini melatarbelakangi terciptanya sebuah nyanyian gereja Pentakosta pada tahun 1950 berjudul “Jangan Kau Tinggalkan Betlehem”. Namun, menurut saya, Elimelekh dan keluarganya memiliki alasan yang cukup tepat untuk meninggalkan Betlehem. Pada masa itu, tepatnya pada zaman hakim-hakim, terjadi kelaparan hebat serta kemurtadan umat Tuhan di Betlehem. Oleh karena itu, Moab—yang berpenduduk orang kafir—menjadi tujuan mereka.
Tidak dijelaskan secara pasti penyebabnya, tetapi yang jelas Elimelekh dan kedua anaknya, yang memperistri Orpa dan Rut, putri-putri Moab, meninggal di negeri itu. Sejak saat itu, Naomi dan Rut menjadi tokoh utama dalam kitab ini. Naomi menerima kesusahan tersebut sebagai hukuman dari Tuhan dengan berkata, “Sebab tangan Tuhan teracung terhadap aku.”
Naomi bahkan menyatakan bahwa Tuhan telah memusuhinya, lalu memutuskan untuk kembali ke Betlehem. Keputusan untuk kembali ke Betlehem adalah langkah yang tepat, tetapi pernyataannya seolah-olah Allah memusuhinya tampaknya lebih merupakan luapan perasaan akibat kepedihan yang mendalam. Sesungguhnya, Naomi adalah seorang yang setia kepada Allah. Penderitaan orang yang setia kepada Allah tidak berarti ia ditinggalkan atau dimusuhi-Nya. Allah tetap menyertai, sekalipun keadaan di sekeliling dan peristiwa yang dialami terasa sangat sulit. Allah tetap berdaulat atas segala keadaan.
Hal ini terbukti dari keberhasilan Naomi membawa kedua menantunya mengenal dan beriman kepada Allah. Iman Naomi telah terpancar melalui perkataan dan perbuatannya, meskipun yang paling menangkap dan menghidupinya adalah Rut. Iman Rut kepada Allah begitu mengakar, sehingga ia dengan setia mengikuti Naomi pulang ke Betlehem.
Kehadiran mereka di Betlehem disambut dengan baik. Namun sekali lagi Naomi berkata, “Janganlah sebutkan aku Naomi, sebutkan aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah banyak melakukan yang pahit kepadaku.” Sesungguhnya, melalui pernyataan ini Naomi justru mengakui kemahakuasaan Allah yang mengatur jalan hidupnya. Ia siap menerima segala perubahan yang menimpanya dengan tetap setia kepada Allah.
Kisah keluarga Elimelekh ini menghadirkan seorang tokoh iman bernama Rut, yang oleh Allah diubahkan dari seorang kafir menjadi teladan iman yang sejati. MT
Kesetiaan kepada Allah tetap teruji dalam penderitaan, karena Allah Mahakuasa sanggup mengubah kepahitan menjadi berkat dan iman sejati.





