Senin 02 Maret 2026
MENANTI JANJI ALLAH DENGAN TAAT DAN SETIA
Sabda Renungan : “Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: ‘Akulah Allah Yang Mahakuasa; hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.” (Kej. 17:1)
Abram mempunyai alasan untuk meragukan kuasa Allah. Betapa tidak, setelah sekian lama janji Allah untuk menjadikannya bangsa yang besar tetaplah hanya sebuah janji. Tidak mengherankan jika Sarai melakukan sesuatu untuk mewujudkan janji Allah menjadi kenyataan. Sarai berkorban dengan memberikan hambanya, Hagar, kepada Abram agar melalui dialah Abram memperoleh keturunan.
Abram dan Sarai bekerja sama untuk mewujudkan janji Allah. Hal ini serupa dengan pandangan sebagian umat beriman pada akhir zaman ini: “Allah mempunyai bagian-Nya, tetapi kita pun harus melakukan bagian kita untuk mewujudkannya.” Dua puluh empat tahun telah berlalu, tetapi wujud janji Allah belum juga nyata. Pada saat usia Ismael sudah tiga belas tahun, Abram merasa yakin bahwa usahanya untuk mewujudkan janji Allah telah tepat.
Janji Allah untuk menjadikannya suatu bangsa yang besar tidak lagi terlalu dipegangnya. Abram merasa bahwa ia telah turut memberikan kontribusi dalam penggenapan janji Allah. Ketika Abram sudah merasa nyaman dan tidak perlu lagi menunggu janji Allah, Allah justru menampakkan diri kepadanya, membawa berita sekaligus memberikan tuntunan.
Allah menyatakan diri sebagai El Shaddai, Allah Yang Mahakuasa. Allah mampu melakukan segala sesuatu, dan tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Karena Dia adalah Allah Yang Mahakuasa, Dia pasti akan menggenapi janji-Nya. Allah sungguh-sungguh akan menepati janji-Nya, justru pada saat Sarai secara manusiawi tidak mungkin lagi melahirkan.
Peran yang dituntut Allah dari Abram bukanlah usaha yang justru menyimpang dari kehendak-Nya. Peran yang diharapkan Allah adalah ketaatan dan kesetiaan, yaitu menunggu hingga janji Allah terwujud. Allah Yang Mahakuasa kemudian mengadakan suatu perubahan. Nama Abram, yang berarti bapa yang mulia, diganti menjadi Abraham, yang berarti bapa banyak orang. Nama yang baru ini sesungguhnya menuntut hubungan yang baru dengan Allah.
Allah memperbaharui perjanjian-Nya. Bagian dari perjanjian itu adalah, “Aku akan menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu” (Kejadian 17:7). Janji ini menjadi landasan dari seluruh janji Allah selanjutnya. Tanda diterimanya perjanjian Allah adalah sunat. Hingga kini, sunat—atau dalam pengertian rohani, pertobatan—merupakan tanda perjanjian Allah. Pertobatan adalah perubahan hidup yang berkesinambungan oleh kuasa dan kasih Allah atas umat-Nya. MT
Menanti janji Allah menuntut ketaatan dan kesetiaan, bukan usaha manusiawi, karena Allah Mahakuasa setia menggenapi janji-Nya.




