Selasa 10 Februari 2026
MENGUTAMAKAN ALLAH DALAM SEGALA SEGI KEHIDUPAN
Sabda Renungan : “Pergi ke rumah duka lebih baik daripada pergi ke rumah pesta, karena di sanalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.” (Pengkhotbah 7:2)
Dalam pemahaman sederhana, manusia sering menggambarkan malaikat sebagai makhluk bersayap yang memiliki kecepatan terbang yang tak terukur. Hal ini dapat diterima, mengingat malaikat diutus Allah dari surga ke bumi untuk menyampaikan pesan dan misi khusus kepada manusia. Para malaikat itu memiliki daya jelajah yang sangat cepat agar pesan dapat segera disampaikan dan pelayanan misi mereka pun segera dilaporkan kembali kepada Allah.
Pada suatu hari, ada seorang anak muda bertanya kepada pendetanya, “Pak, mengapa malaikat bisa terbang?” Sang pendeta pun menjawab, “Malaikat bisa terbang karena malaikat menganggap dirinya sendiri tidak berarti, sebab mereka sungguh-sungguh mengutamakan Allah.” Anak muda itu tersenyum karena dapat menangkap pesan yang terkandung dalam jawaban pendetanya.
Saya dan saudara tidak bisa terbang karena kita terlalu mengutamakan diri sendiri dan sering mengesampingkan Allah. Dengan demikian, pergumulan terbesar kita adalah bagaimana menemukan cara, sekaligus menerapkannya, agar tidak terus-menerus mengutamakan diri sendiri. Padahal, hal-hal yang kita perjuangkan demi kepentingan diri sendiri sering kali hanyalah perkara-perkara kecil yang sia-sia, tetapi sangat menguras tenaga dan perhatian kita.
Untuk itulah, Pengkhotbah dalam hikmatnya menyarankan agar kita sering melawat dan berkunjung ke rumah duka. Di rumah duka, kita menyaksikan kesedihan yang sarat makna dan wajah muram yang justru mengandung pelajaran mendalam. Sebab ketika kita memandang jenazah seseorang—mungkin teman atau anggota keluarga yang kita kasihi—kita bisa terenyuh melihat suatu kenyataan: betapa segala keperkasaan dan berbagai kisah hidup tiba-tiba lenyap. Musa dalam doanya berkata, “Engkau menghanyutkan manusia seperti mimpi; seperti rumput yang bertumbuh di waktu pagi, berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu” (Mazmur 90:5).
Pengkhotbah mengatakan bahwa hari kematian lebih baik daripada hari kelahiran. Melalui pernyataan ini, Pengkhotbah sesungguhnya menginspirasi kita agar selama hidup terus melangkah untuk semakin mengutamakan Allah. Mungkin tidak dengan kesempurnaan, tetapi dengan fokus hidup yang jelas, yaitu semakin mengutamakan Allah hingga kematian datang. Setelah itu—ya, “Selamat terbang dengan jelajah yang super cepat.” MT
Hidup bermakna ketika manusia merendahkan diri, mengutamakan Allah, menyadari kefanaan, dan memusatkan hidup pada kehendak-Nya hingga akhir kehidupan sejati kekal.




