Jumat 06 Februari 2026
MEMPERSEMBAHKAN KORBAN PENEBUS SALAH
Sabda Renungan : “Hal kudus yang menyebabkan orang itu berdosa, haruslah dibayar gantinya dengan menambah seperlima, lalu menyerahkannya kepada imam. Imam harus mengadakan pendamaian bagi orang itu dengan domba jantan korban penebus salah itu, sehingga ia menerima pengampunan.” (Imamat 5:16)
Korban penebus salah dipersembahkan sebagai penyelesaian apabila seseorang, sengaja atau tidak sengaja, melalaikan hak milik orang lain. Korban ini juga diperlukan apabila seseorang melanggar perintah Tuhan secara tidak sengaja atau karena ketidaktahuan. Korban penebus salah dipersembahkan dengan membayar ganti rugi dan ditambah denda dua puluh persen.
Contohnya adalah dosa Akhan dalam Yosua 7:1–26. Kisah ini menjelaskan hukuman keras atas dosa besar di kalangan umat Israel. Dosa besar bukan saja tidak boleh dilakukan, tetapi juga tidak boleh dibiarkan. Sebab dosa bukan hanya menghukum si pendosa, melainkan berdampak merusak umat yang lain. Apabila dosa dibiarkan tanpa teguran dan konsekuensi, pada akhirnya akan mendatangkan hukuman. Namun, bila dosa itu disingkapkan, diakui, dan disingkirkan, maka berkat, kehadiran, dan kasih karunia Allah akan kembali dialami.
Dalam mempersembahkan korban penebus salah, terkandung pemahaman betapa buruknya dosa sehingga harus disingkirkan. Oleh karena itu, dalam ritual keagamaan yang bersifat simbolik diadakan korban penebus salah. Harus ada korban sebagai penyelesaian atas setiap kesalahan. Dalam Perjanjian Lama, hal ini dilakukan dengan mengorbankan domba jantan dan dilaksanakan secara berulang-ulang. Namun, dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menyelesaikannya melalui pengorbanan diri-Nya sekali untuk selama-lamanya.
Karena Yesus telah berkorban untuk pengampunan kesalahan umat-Nya, maka penyembahan kita untuk mengagungkan kasih-Nya harus berdampak pada sikap kita terhadap dosa. Oleh sebab itu, kemurnian iman dalam penyembahan sejati harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Iman yang murni harus dijaga, dan hidup taat kepada Allah adalah keharusan. Jika tidak, pertumbuhan rohani akan terhambat atau bahkan berhenti sama sekali.
Yosua 22:20 berkata: “Ketika Akhan bin Zerah berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan, bukankah segenap Israel kena murka? Bukan orang itu saja yang mati karena dosanya.” Betapa buruknya dampak dosa yang dibiarkan merajalela di tengah umat. Itulah sebabnya Allah selalu menghakimi dosa.
Mazmur 7:11 menyatakan: “Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati.” Melalui pengorbanan Yesus, para penyembah sejati dipanggil untuk tetap menyatakan integritas rohani di hadapan Allah. MT
Kristus menebus kesalahan; penyembah sejati hidup taat, menjaga integritas rohani.




