Rabu 04 Februari 2026
PERSEMBAHAN KORBAN KESELAMATAN
Sabda Renungan : “Kemudian imam harus membakarnya di atas mezbah sebagai santapan berupa korban api-apian, bau yang menyenangkan. Segala lemak itu kepunyaan TUHAN.” (Imamat 3:16)
Umat mempersembahkan korban keselamatan sebagai persyaratan untuk dapat hidup bersekutu dengan Allah dan untuk menyatakan rasa syukur. Saat memberikan persembahan, umat menyerahkan diri kepada perjanjian Allah serta merayakan damai dan hidup rukun kembali dengan Allah.
Pesan utamanya adalah bahwa penyembahan kepada Allah merupakan bagian dari pengakuan umat yang hidup dalam persekutuan dengan Allah. Kerukunan dengan Allah terjadi melalui adanya pengorbanan. Jika pada zaman Musa hal ini diterima sebagai lambang, maka kita telah menerimanya sebagai penggenapan melalui pengorbanan Yesus sekali untuk selama-lamanya. Dalam 1 Yohanes 1:3 dikatakan: “Apa yang kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.”
Persekutuan yang dihasilkan oleh pengorbanan Kristus adalah persekutuan yang terkandung dalam kata koinonia, yaitu saling berbagi dan saling berpartisipasi. Artinya, persekutuan dengan Bapa adalah persekutuan yang sejati. Persekutuan sejati ini nyata dan mungkin dialami oleh umat yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.
Orang yang menolak Yesus berarti hidup dalam kegelapan. Hidup dalam kegelapan artinya tetap berada di bawah kuasa dosa dan menyukai pola hidup yang amoral. Sebaliknya, hidup dalam persekutuan dengan Allah berarti hidup dalam terang. Hidup dalam terang dimungkinkan karena pengorbanan Yesus melalui penumpahan darah-Nya yang kudus untuk menyucikan kita dari segala dosa.
Jika korban keselamatan yang diajarkan oleh Musa bersifat penyucian sementara dan kini telah berakhir, maka pengorbanan Yesus merupakan penyucian yang berkesinambungan dalam hidup orang percaya. Penyucian yang berkesinambungan ini memungkinkan kita memiliki persekutuan yang intim dengan Allah, yang terjalin melalui penyembahan yang juga berkesinambungan.
Dalam pengaturan korban disebutkan bahwa lemak dan darah tidak boleh dimakan, karena lemak dan darah mewakili hidup korban yang dipersembahkan, yaitu hidup yang sepenuhnya diperuntukkan bagi Allah. Demikian pula, kita menyerahkan hidup dan nyawa kita hanya kepada Allah. Penyembahan kita ditujukan semata-mata kepada Allah sebagai wujud penyerahan total untuk mengagungkan Dia. MT
Pengorbanan Kristus menghadirkan persekutuan sejati, hidup terang, penyembahan, dan penyerahan total kepada Allah.




