Selasa 03 Februari 2026
PERSEMBAHAN KORBAN SAJIAN
Sabda Renungan : “Tiap-tiap persembahan sajianmu haruslah kaubumbui dengan garam; janganlah engkau membiarkan garam perjanjian Allahmu hilang dari persembahanmu. Di samping tiap-tiap persembahanmu haruslah kaubawa juga garam.” (Imamat 2:13)
Korban sajian merupakan suatu persembahan kepada Allah yang menjadi wujud penyembahan dalam tindakan. Sekaligus, korban sajian melambangkan penyerahan hasil pekerjaan kepada Allah. Di dalam korban sajian terkandung pemahaman bahwa semua hasil karya manusia dilakukan bagi kemuliaan Tuhan. Korban sajian juga mengandung pengakuan bahwa kebutuhan sehari-hari hendaklah diterima dengan ucapan syukur kepada-Nya.
Dalam Kolose 3:23, Rasul Paulus menasihati jemaat agar melakukan segala pekerjaan dengan sebaik-baiknya sebagai pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan. Dalam 1 Korintus 10:31, Rasul Paulus juga memberi arahan bahwa dalam hal makan dan minum pun hendaklah kita melakukannya dengan rasa syukur demi kemuliaan Allah. Unsur-unsur dalam korban sajian adalah padi-padian, tepung, minyak zaitun, kemenyan, roti yang dibakar, garam, dan madu. Tujuannya adalah sebagai tindakan penyembahan kepada Allah, pengakuan atas kemurahan dan pemeliharaan-Nya, serta wujud pengabdian kepada Allah.
Semua persembahan sajian harus tanpa ragi. Artinya, persembahan tersebut harus bebas dari sikap yang tidak tulus atau sikap jahat. Ragi juga sering dilambangkan sebagai ajaran atau prinsip yang menyimpang.
Dalam Markus 8:15 dikatakan: “Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: ‘Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” Dalam Perjanjian Baru, ragi biasanya melambangkan kejahatan atau pencemaran. Ragi orang Farisi menunjuk kepada tradisi keagamaan yang mengesampingkan perintah Allah—tradisi yang menggantikan ketaatan kepada Allah. Sedangkan ragi Herodes menunjuk kepada kehidupan yang sangat sekular atau keduniawian. Oleh sebab itu, ketika kita datang mempersembahkan penyembahan dan korban syukur kepada Allah, hal itu harus disertai dengan ketulusan dan sebagai bentuk ketaatan kepada firman Allah. Penyembahan dan korban syukur bukanlah sekadar tradisi agama, melainkan realitas jiwa yang rindu bersekutu dengan Allah sesuai dengan firman-Nya.
Dengan demikian, ketentuan bahwa persembahan sajian harus tanpa ragi menjadi peringatan bagi kita bahwa para penyembah sejati harus berjaga-jaga agar penyembahan dan persembahan mereka tidak dirusak oleh tradisi keagamaan yang kosong maupun oleh sekularisme. Marilah kita melakukan penyembahan dalam tindakan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. MT
Penyembahan sejati menyerahkan pekerjaan, hidup tulus, bebas ragi, bagi kemuliaan Allah.




