Senin 02 Februari 2026
PERSEMBAHAN KORBAN BAKARAN
Sabda Renungan : “Itulah korban bakaran, suatu persembahan yang dibakar, menjadi bau yang menyenangkan bagi TUHAN.” (Imamat 1:9b)
Umat sebaiknya merespons kehadiran Allah dengan mempersembahkan persembahan. Kata mempersembahkan di sini berarti menghampiri Allah dengan membawa sesuatu. Menghampiri artinya merespons kehadiran Allah untuk menikmati persekutuan dengan-Nya. Salah satu persembahan yang dibawa umat adalah persembahan korban bakaran.
Korban bakaran terdiri dari unsur lembu atau domba jantan yang tidak bercacat, atau merpati maupun burung tekukur. Cara mengorbankannya adalah dengan dibakar sampai habis. Tujuannya adalah sebagai tindakan penyembahan sukarela dan tindakan pendamaian untuk dosa yang tidak disengaja. Jika disimpulkan, korban bakaran merupakan penyembahan sebagai ungkapan pengabdian total dan ketergantungan mutlak kepada Allah.
Dalam hal ini, penyembah datang membawa persembahan untuk mengungkapkan rasa syukur dalam rangka memperbarui persekutuan dan memperdalam penyerahan kepada Allah dengan memohon pengampunan. Boleh juga disebut bahwa persembahan, khususnya korban bakaran, merupakan penyembahan atau “doa yang diperankan”.
“Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu dan akan menyerukan nama TUHAN, akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya” (Mazmur 116:17–18). Persembahan korban bakaran ini juga sesungguhnya mengajarkan umat untuk memahami dan mengakui bahwa dirinya adalah makhluk berdosa yang layak dihukum, dan bahwa tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.
Pendamaian untuk pengampunan dosa harus dilaksanakan melalui penggantian, dan semua itu bagi kita telah dilakukan oleh Yesus dengan sempurna. Supaya persembahan hidup kita diterima dan berkenan kepada Allah, kita harus mengalami pertobatan sejati dengan segenap hati.
Selanjutnya, korban bakaran mengandung pengertian “yang naik ke atas”. Ketika korban bakaran dibakar, hasil pembakaran itu akan naik ke atas. Artinya, penyembahan yang diarahkan kepada Allah harus didahului dengan penyucian dari dosa agar penyembahan itu berkenan dan menyenangkan hati Allah.
Menurut Surat Ibrani 10:5–10, Yesus adalah penggenapan korban bakaran. Pemazmur telah mengakui bahwa korban-korban upacara agama yang bersifat simbolis memang baik, tetapi tidak lagi memadai. Jadi, ketaatan, pengabdian, serta penyembahan kepada Yesus yang menggenapi semuanya itu merupakan hal yang sangat penting untuk kita praktikkan sekarang. MT
Penyembahan sejati menuntut penyerahan total, pertobatan, dan ketaatan kepada Kristus, korban sempurna yang berkenan bagi Allah.





