Sabtu 24 Januari 2026
DIAMPUNI UNTUK MENGAMPUNI
Sabda Renungan : “Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.” (Lukas 6:37)
Menerima pengampunan dari Allah merupakan anugerah yang membahagiakan dan menyelamatkan. Sangat menyenangkan menerima pengampunan, tetapi tidaklah mudah untuk memberikan pengampunan. Bila ada orang bersalah dan menyakiti, biasanya reaksi umum adalah melawan, menghakimi, dan menghukum. Kalaupun tidak langsung bereaksi, yang terjadi adalah mendendam dalam hati.
Dalam doa yang diajarkan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya, terselip permohonan kepada Bapa di sorga, “Ampunilah kami, seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Mengampuni akan mudah bila kita menghargai pengampunan yang kita terima dari Allah. Mengampuni orang lain adalah salah satu hal yang membuktikan fakta pertobatan.
Pengampunan akan lebih mudah dipahami bila dihubungkan dengan salib Kristus, karena sesungguhnya pengampunan tidak dapat dimengerti secara jelas di luar salib Kristus. Sama seperti pengorbanan Kristus karena dosa manusia, salib pun adalah bukti kasih dan pengampunan Allah kepada manusia berdosa. Pengampunan didasari oleh karya dan kasih Kristus yang mendamaikan dan menebus.
Mengampuni adalah perintah bagi orang yang sudah menerima pengampunan dosa. Bukan hanya mengampuni sekali, tetapi selalu mengampuni secara konsisten dan terus-menerus. Memang hal itu sulit, tetapi juga tidak mustahil untuk dihidupi. Faktanya, tidak banyak yang mentaatinya, tetapi bagiku dan saudara, setialah terus melakukannya sebagai bagian dari ketaatan kepada firman Tuhan.
Pengampunan Allah kepada manusia berdosa memulihkan, agar manusia mempunyai hidup yang baru dan selalu siap mengampuni. Dalam pengajaran Yesus, orang yang sudah diampuni tetapi tidak mau mengampuni akan ditangkap dan dipenjarakan. Bila saudara menyimpan kesalahan orang lain dan tidak segera mengampuni, sama saja memilih hidup terikat dan menolak kebebasan.
Saya sering berpikir, “Untuk apa sih menyimpan kesalahan orang?” Ada juga yang lebih ekstrem menyatakan bahwa menyimpan kesalahan sama dengan menyimpan sampah. Sampah itu dibuang, bukan untuk disimpan. Jadi, camkanlah bahwa kita diampuni adalah untuk selalu rela mengampuni. MT
Kesalahan orang lain bukan untuk diingat-ingat tetapi untuk dilupakan.




