Jumat 08 Agustus 2025
JANGAN TERLAMPAU ‘LEBAY’
Bacaan Sabda : Matius 6:1-6
“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.” (Matius 6:1)
Raja Salomo dengan pasti , tanpa setitik ragu menasehati kita dengan berkata, “Jangan terlampau saleh, jangan perilakumu terlalu berhikmat, mengapa engkau membinasakan dirimu sendiri?”. Nasehat ini sangat sulit dimengerti, karena mungkinkah manusia terlau saleh? dan terlalu berhikmat?. Bukankah manusia selama hidup akan selalu kurang saleh dan kurang berhikmat.
Ada beberapa hal yang perlu kita renungkan berdasarkan kenyataan yang kita saksikan di sekitar kita. Orang yang terlampau saleh itu adalah orang yang tampilan luar lebih saleh dari keadaan dalam dirinya. Bisa juga disebut orang yang bertingkah seakan-seakan lebih suci daripada yang sebenarnya. Tidak heran kalau dalam banyak hal orang terlampau saleh itu menerapkan aturan-aturan buatan sendiri secara ‘lebay’, ya namanya juga terlampau berlebihan ya supaya lebih komplit “terlampau lebay.” Terlampau banyak tidak bolehnya. Tidak boleh menonton tv, tidak boleh memakai lipstik, tidak boleh dekat wanita cantik, tidak boleh ini, tidak boleh itu. Semua serba tidak boleh.
Hidup terlalu saleh dapat juga diartikan terlalu penuh perhitungan yang rumit dan juga terlalu mengada-ada yang tidak ada atas nama ketelitian dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Biasanya orang yang terlalu saleh selalu mengkhawatirkan hal-hal yang bersifat sekunder atau hal-hal kemasan dan kulit belaka sehingga kelihatan lebih agamis, tetapi kehilangan sukacita dalam menjalani hidup sehari-hari.
Dalam Matius 23, Tuhan Yesus mengkritik orang Farisi, dan ahli Taurat yang dapat dikategorikan oleh raja Salomo sebagai orang yang “terlalu saleh.” Mereka melaksanakan hal-hal kecil dalam Hukum Taurat, tetapi menelan unta harga diri dan keangkuhan dalam cawannya. Nasehat “jangan terlalu fasik” juga bisa membuat kita salah mengerti, seakan-akan sedikit fasik tidak jadi soal, namanya juga manusia sedikit jahat dan sedikti berdosa, tidak apa-apa. Jangan terlalu fasik artinya adalah jangan menjadikan dosa menjadi alasan untuk berbuat dosa yang lebih besar.
Pada suatu hari, penulis menegur murid di sekolah karena terlambat di kelas. Dengan ringan dan ketus sang murid menjawab : “Pak! saya masih lebih baik daripada si Ivan, kemarin terlambat setengah jam.” Dia menjadikan kesalahan orang lain sebagai alasan bahwa kesalahannya bukan kesalahan yang berarti.
Mengetahui diri adalah manusia berdosa jangan jadi alasan untuk berbuat dosa, malahan harus memberi dorongan dan tantangan untuk hidup dalam kekudusan. Jika saudara tidak bisa atau tidak mampu memperbaiki keadaan, setidaknya saudara memastikan tidak membuat keadaan yang sudah buruk semakin buruk. Semua manusia selalu berjuang untuk hidup lebih baik. Kalau saudara menipu orang, pastikan saudara tidak akan menipu lagi. Kalau saudara marah-marah pastikan saudara tidak perlu kehilangan kesabaran lagi. Yakinkan diri bahwa Allah pasti menolong saudara menghentikan pola hidup berdosa dengan menggantinya dengan pola hidup yang kudus. MT





