Pesan Mingguan Temporary

PESAN MINGGU INI 19 MEI 2024

BERMENTAL HAMBA VS MENGHAMBA

“Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Lukas 15:31-32)

Ada perbedaan yang tajam antara bermental hamba dengan yang menghamba. Orang yang bermental hamba adalah sikap yang ditunjukkan anak sulung dalam perumpamaan anak terhilang. Dia adalah anak yang kelihatan cukup baik dan tetap setia sebagai anak menemani bapanya. Tetapi ada yang salah dalam memanfaatkan statusnya sebagai seorang anak. Dia adalah anak tetapi dia bermental hamba. Berbeda dengan adiknya yang bisa disebut durhaka kepada sang bapa, dia justru bersikap baik sebagai anak sulung.

Sebagai anak sulung dia memperoleh dua bagian warisan sesuai budaya orang Israel. Tetapi rupanya dia tidak menghargai hak kesulungannya karena dia sibuk dengan dirinya sebagai anak yang baik. Mungkin saja dia menyalahkan bapanya yang kurang tegas kepada adiknya. Tentu saja dia mengutuk adiknya karena sikap adiknya meminta warisan dari bapanya sebelum waktunya. Orang bermental hamba mungkin saja merasa memiliki hartanya yang banyak tetapi melalui sikapnya dia hanya merasa tanpa sungguh-sungguh memilikinya. Dia cukup merasa benar tanpa memahami arti kebenaran yang sesungguhnya. Itulah sebabnya dia sangat jeli melihat kekurangan kesalahan orang lain tetapi tak pernah mengetahui kekurangan dan kesalahannya.

Orang yang bermental hamba ini biasanya memiliki suatu bentuk agama dan kelihatan secara lahiriah sangat taat perintah tetapi agama yang dibanggakan sebagai kebenarannya tidak sampai menyentuh hatinya artinya hati mereka terpisah dari Allah sehingga tujuan hidupnya melenceng dari kebenaran. Terbukti ketika adiknya bertobat dan siap menghambakan diri kepada bapanya, anak sulung yang bermental hamba ini sangat terganggu. Dia marah kepada bapanya dan bapanya membuka pikiran dan hatinya bahwa sesungguhnya dia adalah anak sulung yang bisa saja mengadakan pesta syukur setiap hari.

Sekarang kita mengetahui bahwa kedua anak adalah anak sejati tetapi si sulung adalah anak baik bermental hamba sedangkan si bungsu adalah anak nakal, berdosa tetapi bertobat dan siap menghamba kepada sang bapa. Semua orang percaya kepada Yesus adalah anak Allah. Kita hendaklah menghindari sikap bermental hamba karena sangat merugikan diri sendiri. Jadilah anak yang menghambakan diri kepada bapa sorgawi. Kita betul-betul anak tetapi tetaplah menghambakan diri kepada-Nya. (MT)
Minggu 19 Mei 2024


PESAN MINGGU INI 12 MEI 2024

ANAK YANG MENGHAMBA

“Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” (Lukas 15:17-19)

Perumpamaan anak terhilang diangkat Yesus untuk menjelaskan kasih Allah kepada manusia berdosa. Bapa yang luar biasa adalah gambaran dari Allah yang mempunyai kasih yang sempurna dan penuh dengan ampunan. Sedangkan anak yang hilang adalah gambaran dari manusia berdosa karena hidup jauh dari Allah. Karena hidup dalam dosa dia pun menjadi hamba dosa. Anak yang jauh dari bapa ternyata hidup sangat menderita karena menyalahgunakan kebebasannya sehingga dia terjerat dengan kebiasaan buruk yang semakin membuatnya terpuruk. Dia menjadi anak yang kehilangan pegangan hidup karena perbuatannya sendiri.

Dalam kondisi terpuruk, dia menyadari dosa dan kesalahannya melepaskan diri dari perlindungan bapanya, sehingga dia memutuskan untuk kembali lagi kepada bapanya. Dia merasa tidak layak lagi menjadi anak sehingga dengan ketulusan hati dia menghamba diri kepada bapanya. Dia merasa dan yakin itu jauh lebih baik. Dia segera bertindak kembali kepada bapanya. Dia tidak menyangka sambutan bapanya begitu hangat walaupun dia sudah siap diperlakukan sebagai hamba sesuai keputusannya untuk menghamba kepada bapanya sendiri.

Sikap menghamba kepada bapanya ternyata tidak menjadikannya menjadi hamba, dia tetap anak bahkan disambut bagaikan anak yang baru pulang dari medan laga dengan selamat. Dia memang adalah seorang pemenang karena berhasil mengalahkan egonya, menang mengalahkan keinginannya, menang karena perubahan dan pertobatannya. Kesiapan diri untuk menghamba ternyata tidak membuatnya menjadi budak dan tidak pula merendahkan martabatnya. Sebelum orang terhilang datang kepada Allah, harus lebih dulu melihat keadaan diri sebagai seorang budak dosa karena jauh bahkan terpisah dari Allah.

Pertobatan sejati terjadi saat seorang budak dosa melepaskan diri dari perbuatan dosa dan mengambil sikap tegas untuk menghamba kepada Allah. Tidak perlu meragukan status orang percaya sebagai anak Tuhan, karena itu adalah merupakan anugerah Tuhan. Dari pihak orang percaya pun tak perlu meragukannya tetapi walaupun anak alangkah baiknya bila kita menjadi anak yang menghamba kepada Tuhan. (MT)
Minggu 12 Mei 2024


PESAN MINGGU INI 05 MEI 2024

TUAN YANG MENGHAMBA

“Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria: ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.” (Lukas 1:37-38)

Tentu saja saudara pembaca renungan ini setuju dengan saya bahwa sikap ngebos itu sangat menjengkelkan. Biasanya dia lebih bos dari bos yang sesungguhnya. Sangat berbeda dengan sikap seorang bos yang menghamba yang biasanya menempatkan diri setara dengan karyawannya tetapi tetap berwibawa dan terhormat dan disegani. Tetapi dalam kenyataan semua orang sangat tertarik untuk ngebos dari pada menghamba. Biasanya mereka yang ngebos adalah orang yang mencari pengakuan dan gila hormat. Hasilnya mereka tak diakui juga tidak dihormati. Seorang bos sangat berhak untuk ngebos tetapi tetap saja sangat menjengkelkan anak buahnya. Orang ngebos berusaha memposisikan diri jauh lebih tinggi di atas orang lain. Hal itu nyata dalam berbicara dan bersikap. Jadi karena ngebos itu menjengkelkan ada baiknya dihindari. Lawan dari ngebos adalah menghamba.

Menghamba adalah sikap yang sangat menyenangkan semua orang, karena dari sikapnya dia tidak mengharapkan pengakuan dan juga tidak mencari-cari kehormatan. Yesus adalah teladan sempurna dalam sikap menghamba. Dia adalah Tuhan tetapi tidak menganggap keTuhanannya sebagai status yang harus dipertahankan bahkan Dia rela menjadi manusia yang menghamba. Dia datang ke dunia bukan menjadi tuan yang berhak dilayani melainkan Dia menjadi hamba yang melayani.

Sikap menghamba adalah sikap baik yang hanya dapat diwujudkan oleh mereka yang rendah hati sedangkan sikap ngebos adalah sikap yang diwujudkan dan dikembangkan oleh orang yang tinggi hati atau sombong. Seorang yang ngebos biasanya akan pasif dan tak ada niat untuk meningkatkan potensi diri tetapi seorang yang menghamba selalu aktif dan sangat giat untuk meningkatkan potensi diri. Semakin tinggi pencapaiannya semakin siap untuk menghamba sebagai wujud kerendahan hatinya.

Maria adalah merupakan teladan dari sikap menghamba. Saat dia menerima kabar baik mengandung dari Roh Kudus untuk melahirkan Yesus juruselamat dunia sesuai rencana Allah dia berkata “Sesungguhnya aku adalah hamba Tuhan”. Maria tidak pernah berkata aku adalah ibunya Tuhan. Salah satu sikap utama dari orang yang menghambakan diri kepada Tuhan adalah mempercayakan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah karena mempercayai firman-Nya. Orang yang menghamba selalu siap menerima kenyataan. Siap menerima celaan dan hinaan tanpa kemarahan tetapi siap juga menerima kehormatan tanpa menjadi sombong. (MT)
Minggu 05 Mei 2024


PESAN MINGGU INI 28 APRIL 2024

KEHIDUPAN SEORANG PEMIMPIN

“Demikianlah tinggal ke-tiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Korintus 13:13)

Ada banyak masalah terjadi dalam gereja Tuhan karena terlalu banyak orang yang mau berstatus pemimpin bukan mempunyai kehidupan sebagai seorang pemimpin. hal itu terjadi di Korintus sehingga rasul Paulus berkirim surat kepada mereka. Jemaat Korintus mempunyai banyak kebaikan tetapi juga mempunyai banyak kekurangan. Jadi bila rasul Paulus menegur dan menasehati mereka bertujuan untuk meningkatkan kebaikan tetapi juga meninggalkan kekurangan berupa berbagai-bagai kesalahan. Salah satu kekurangan jemaat Korintus adalah memegahkan diri atas berbagai karunia yang mereka terima disertai meninggikan diri atas status yang mereka miliki termasuk status sebagai seorang pemimpin. Tentu saja gereja sepanjang zaman akan selalu membutuhkan pemimpin dalam pengertian pemimpin yang sesungguhnya bukan hanya sebagai status. Para pemimpin yang sesungguhnya adalah sebagai pemimpin berkarakter baik yang layak diteladani bukan hanya pemimpin yang berkarisma tetapi minus dalam karakter.

Ada tiga hal yang harus ada dalam diri seorang pemimpin sejati :

  • Pertama adalah iman yang sejati. Iman yang sejati terdapat dalam Ibrani pasal 11 secara keseluruhan bukan comotan satu ayat dari keseluruhan pasal. Bila dikalimatkan maka iman adalah sikap memposisikan diri selalu berada di hadapan Allah seperti para tokoh yang ditulis dalam seluruh pasal. Ada kalanya mereka lemah tetapi kembali lagi menghadap Allah dengan keyakinan yang kuat bahwa Allah selalu hadir dan posisi mereka tetap dihadirat Allah.
  • Kedua adalah pengharapan sejati. Seorang pemimpin haruslah tetap memiliki pengharapan sejati. Dia tidak boleh kehilangan pengharapan apa pun yang terjadi. Aniaya yang sedang menerpa gereja di Korintus telah membuat para pemimpin mundur dari pelayananya karena kehilangan pengharapan. Rasul Paulus, Titus, Timotius dan pemimpin gereja lainnya tidak pernah kehilangan pengharapan kendatipun berbagai kesulitan menghambat pemberitaan dan pelayanan mereka.
  • Ketiga adalah kasih. Ada kegusaran yang ditunjukkan rasul Paulus kepada jemaat di Korintus karena terlalu mengutamakan iman sebagi karunia yang luar biasa dan melupakan yang utama yaitu kasih. Dengan tegas rasul Paulus menyatakan bahwa segala karunia, mujizat dan pengorbanan akan menjadi sia-sia bila dilakukan tanpa dan tidak berdasarkan kasih.

Kehidupan seorang pemimpin haruslah dipenuhi oleh iman, pengharapan dan kasih. Ketiga-tiganya haruslah selalu ada walaupun mengutamakan kasih. Karena kasih tanpa iman dan pengharapan tetap saja kurang lengkap. (MT)
Minggu 28 April 2024