Pesan Mingguan Temporary

PESAN MINGGU INI 27 FEBRUARI 2022

SUKACITA DAN SEHATI

Filipi 2:2-3 “karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri”

Rasul Paulus sudah sangat memahami suatu fakta tentang Tuhan Yesus bukan saja datang untuk menyelamatkan tetapi juga untuk mempersekutukan orang percaya. Rasul Paulus menyaksikan sendiri bahwa semua orang yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat mempunyai kerinduan untuk hidup dalam komunitas. Karena terbukti pula bahwa orang percaya dapat bertumbuh dan memaksimalkan diri bila hidup dalam komunitas orang percaya. Itu pula merupakan alasannya mengatakan kepada Jemaat di Filipi bahwa sukacitanya akan sempurna bila umat Tuhan hidup dalam komunitas dengan baik dan bertanggungjawab. Hidup dalam komunitas orang percaya secara baik dan bertanggung jawab adalah harus ikut memberi kontribusi untuk terciptanya harmonisasi dalam komunitas yang terbangun karena adanya kesehatian untuk mencapai tujuan. 

Rasul Paulus memberi tekanan yang cukup tegas agar setiap orang dalam komunitas berusaha memposisikan diri secara tepat dan benar. Hal itu berarti menempatkan orang lain lebih penting dan lebih utama dari diri sendiri sehingga terpanggil untuk memberi hormat dan bersikap santun kepada semua orang dalam komunitas. Berarti kata kuncinya adalah “rendah hati”. Setelah manusia jatuh dalam dosa sifat egosentris sudah melekat pada manusia. Jadi untuk terbentuk menjadi orang yang rendah hati manusia membutuhkan kehidupan yang dipenuhi dan diperbaharui Roh Kudus.

Seorang terbentuk rendah hati harus juga disertai kesadaran akan kelemahan diri dan juga sadar akan kehinaan diri. Kesadaran ini akan membawa semua orang percaya hidup dekat dengan Kristus. Semakin terbentuk rendah hati semakin dekat dan tinggal diam bersama Kristus. Allah memberi karunia yang besar kepada orang yang rendah hati tetapi menentang orang sombong. Bagi pengikut Kristus menjadi orang yang rendah hati adalah perintah bukan pilihan. Rendah hati akan memberi keuntungan yang besar bagi komuntas orang percaya karena menjadi pemberi inspirasi bagi terbangunnya harmonisasi dan kesehatian.

Jadi untuk menciptakan kesehatian bukanlah fokus kepada kesehatian itu sendiri, tetapi masing-masing harus fokus untuk membentuk diri sendiri menjadi orang yang rendah hati. Lawan rendah hati adalah sombong. Bila orang yang rendah hati mengutamakan orang lain maka orang sombong terbiasa merendahkan orang lain. Orang rendah hati akan selalu harmonis dengan semua orang sebab itu akan selalu mampu membangun kesehatian dengan semua orang. (MT)
Minggu 27 Februari 2022


PESAN MINGGU INI 20 FEBRUARI 2022

HATI YANG LAPANG

1 Raja-raja 4:29-30 “Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut, sehingga hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir.”

Salomo adalah raja Israel yang memperoleh hikmat dari Allah. Salomo menerima hikmat sebagai pilihannya dari beberapa yang ditawarkan Allah kepadanya. Jadi berdasarkan fakta hikmat Salomo ini dapatlah disimpulkan ada dua hal yang merupakan dasar membuat seseorang menjadi orang yang berhikmat atau bijaksana:

  1. Hal pertama adalah “pemberian Allah”. Salomo mempunyai kerinduan yang dalam mempunyai hikmat dalam tugas dan tanggung jawabnya sebagai raja bangsa pilihan Allah Israel. Dia mewujudkan kerinduannya itu melalui sikap berdoa mencari Tuhan dan kehendak-Nya. Dalam doanya di Gibeon dia menikmati pengalaman spiritual yang indah bertemu dengan Tuhan. Tuhan menawarkan kuasa, kekayaan dan hikmat kepada Salomo, dan Salomo pun memilih hikmat.
  2. Jadi hal kedua adalah bahwa hikmat adalah pilihan. Bila hikmat atau kebijaksanaan adalah pilihan perlu ada upaya-upaya praktis untuk memperolehnya supaya semakin meningkat dan berkembang. Semakin ada usaha praktis melalui belajar dan menerapkan, Allah akan semakin mengaruniakan secara berlimpah. Hal itulah yang dilakukan raja Salomo sehingga dia mempunyai hikmat dan pengertian yang semakin besar dan akal yang semakin luas.

Kemudian Salomo menerapkan melalui karya-karyanya seperti menulis 3000 Amsal dan karya-karya lainnya. Pengertian dan akal serta daya pikir Salomo pun semakin luas menjadikannya menjadi raja yang sukses dan dihormati oleh raja-raja yang memerintah pada banyak bangsa sezamannya. Tetapi Salomo mengalami kehancuran pada masa tuannya karena dipengaruhi oleh istri-istrinya yang sangat banyak. Dia tidak berkuasa menolak pemberian raja-raja yang memberi wanita-wanita cantik dalam membangun persekutuan politik dan militer agar dia lebih aman. Kegagalan ini terjadi karena Salomo tidak menerapkan hikmat pada setiap bagian kehidupannya. Salomo tidak menerapkan hikmat dalam hidup kerohaniannya. Salomo mempunyai pengertian, akal dan pemikiran yang luas tetapi dia tidak mempunyai hati yang luas atau hati yang lapang. Hati yang lapang sama dengan hati yang besar, yang tahan menghadapi segala kemungkinan yang terbaik dan juga segala kemungkinan yang terburuk. Ketika keberhasilan diraih orang yang berhati lapang tidak menjadi sombong juga tidak menjadi gegabah dalam bersikap. Ketika kegagalan dan kesukaran menerpa orang berhati lapang atau berhati besar tidak putus asa. Orang berhati lapang tahan terhadap godaan dan cobaan. Dalam keadaan apapun dia tetap merendah di kaki Tuhan dan bersyukur kepada Tuhan. Itulah sebabnya semua pelayan Tuhan bersama umat Tuhan haruslah mempunyai hati yang lapang dan diperoleh hanyalah hidup dekat kepada Tuhan dan belajar mentaati Tuhan. (MT)
Minggu 20 Februari 2022