Rabu 09 September 2026
DOA YANG MENJAGA API MEZBAH
Sabda Renungan : “Tetaplah berdoa.” (1 Tesalonika 5:17)
Imamat 6:12–13 mencatat bahwa api di atas mezbah harus terus menyala dan tidak boleh dibiarkan padam. Setiap pagi imam menambahkan kayu agar nyala api tetap hidup sebagai tanda penyembahan yang berkenan kepada Allah. Prinsip ini mengajarkan bahwa kehidupan rohani memerlukan pemeliharaan yang terus-menerus. Salah satu sarana utama yang Allah berikan untuk menjaga api mezbah hati adalah doa.
Doa bukan sekadar rutinitas keagamaan atau daftar permohonan kepada Tuhan. Doa adalah persekutuan yang hidup dengan Allah, tempat hati dibentuk, iman diteguhkan, dan kehendak pribadi diselaraskan dengan kehendak-Nya. Rasul Paulus menasihatkan jemaat untuk bersukacita senantiasa, tetap berdoa, dan mengucap syukur dalam segala keadaan. Ketiga hal ini menunjukkan bahwa doa bukan hanya dilakukan pada saat mengalami kesulitan, melainkan menjadi gaya hidup orang percaya.
Ketika seseorang berhenti berdoa, api rohaninya perlahan mulai redup. Kesibukan, kekhawatiran, dan rasa percaya diri dapat membuat hati menjauh dari ketergantungan kepada Tuhan. Sebaliknya, melalui doa yang tekun, Roh Kudus memperbarui kekuatan, memberikan damai sejahtera, membuka pengertian akan firman, dan menolong kita bertahan dalam setiap pencobaan. Doa juga mengingatkan bahwa keberhasilan pelayanan maupun kehidupan sehari-hari bergantung pada anugerah Allah, bukan pada kemampuan manusia.
Hari ini, marilah memeriksa kembali kehidupan doa kita. Apakah doa masih menjadi napas kehidupan rohani atau hanya dilakukan ketika menghadapi masalah? Jagalah mezbah hati dengan doa yang setia setiap hari. Ketika hati tetap tinggal di hadirat Tuhan, api kasih, iman, dan pengharapan akan terus menyala, sehingga kehidupan kita menjadi persembahan yang hidup dan memuliakan nama-Nya.
Doa yang tekun memelihara api rohani, memperdalam persekutuan dengan Allah, menguatkan iman, serta menghasilkan kehidupan yang memuliakan Kristus setiap hari.




