Rabu 08 Juli 2026
BELAS KASIH BAGI JIWA-JIWA
Sabda Renungan : “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: ”Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”(Matius 9:36-38)
Ketika Yesus melihat orang banyak, Alkitab mencatat bahwa hati-Nya tergerak oleh belas kasihan, karena mereka seperti domba yang tidak bergembala. Mereka hidup tanpa arah, tanpa perlindungan, dan tanpa pengharapan yang sejati. Pandangan Yesus tidak berhenti pada apa yang tampak di luar, tetapi menembus sampai kepada kebutuhan terdalam setiap jiwa. Inilah hati seorang penuai sejati, yaitu hati yang dipenuhi kasih dan kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan Tuhan.
Kasih semula kepada Kristus selalu menghasilkan belas kasihan kepada sesama. Seseorang yang sungguh mengalami kasih Tuhan tidak akan hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia akan mulai melihat orang-orang di sekitarnya dengan cara pandang Tuhan. Ia menyadari bahwa banyak orang sedang bergumul dengan luka batin, kekecewaan, ketakutan, dan kehilangan tujuan hidup. Di balik senyum yang mereka tunjukkan, sering kali tersimpan hati yang haus akan kasih dan pengharapan.
Sebagai penuai, kita dipanggil untuk menjadi saluran kasih Kristus bagi dunia. Terkadang kita berpikir bahwa menuai jiwa harus dimulai dengan khotbah yang panjang atau pelayanan yang besar. Namun kenyataannya, tuaian sering dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan dengan kasih. Sebuah sapaan yang tulus, perhatian kepada mereka yang sedang berduka, doa bagi yang sedang bergumul, atau kesediaan mendengarkan seseorang dapat menjadi sarana Tuhan menjamah hati mereka.
Belas kasihan juga membuat seorang penuai tetap setia sekalipun belum melihat hasil yang nyata. Ia memahami bahwa setiap jiwa sangat berharga di mata Tuhan dan setiap benih kasih yang ditaburkan tidak pernah sia-sia. Karena itu, marilah kita meminta kepada Tuhan agar memenuhi hati kita dengan belas kasihan-Nya, sehingga kita dapat melihat orang lain sebagaimana Tuhan melihat mereka dan menjadi alat-Nya untuk membawa pengharapan serta keselamatan bagi banyak jiwa.
Kasih semula menghasilkan belas kasihan yang mendorong kita menjangkau jiwa-jiwa dengan kesabaran, doa, dan kasih nyata.




