Senin 27 April 2026
KEMULIAAN ALLAH DAN MAKNA KEHADIRAN ALLAH
Sabda Renungan : “Ketika Salomo selesai berdoa, turunlah api dari langit dan memakan habis korban bakaran dan korban sembelihan itu, dan kemuliaan TUHAN memenuhi rumah itu.” (2 Tawarikh 7:1)
Kemuliaan Allah sering ditandai dengan manifestasi nyata dari kehadiran dan kemegahan-Nya, seperti yang terjadi pada pentahbisan Bait Suci. Kemuliaan Allah memenuhi Bait Suci setelah Salomo berdoa dan mempersembahkan korban bakaran serta korban sembelihan. Kemuliaan itu dinyatakan melalui turunnya api yang menyambar dan membakar persembahan tersebut.
Kehadiran Allah yang termanifestasi ini sering disebut dengan istilah Shekinah, yang dalam bahasa Ibrani berarti “tempat kehadiran Allah”. Dalam Alkitab, manifestasi ini juga terlihat ketika Musa dan umat Israel menyaksikan tiang api dan tiang awan. Murid-murid Yesus melihat kemuliaan-Nya saat Ia dimuliakan di gunung (Matius 17:2), dan Stefanus melihatnya ketika ia dirajam.
Alkitab mencatat banyak peristiwa ketika Allah menyatakan kemuliaan-Nya secara nyata. Manifestasi kehadiran Allah memang penting, tetapi tidak semua umat harus mengalaminya. Manifestasi tersebut bukanlah satu-satunya tanda perkenan Allah atau ukuran kedewasaan rohani seseorang. Hanya Allah yang berhak menyatakan kehadiran-Nya dengan cara demikian kepada siapa pun yang Ia kehendaki.
Lalu, bagaimana dengan gereja masa kini? Manifestasi kehadiran Allah tetap penting, tetapi tidak harus selalu terjadi. Oleh karena itu, umat tidak perlu terjebak dalam “perburuan” manifestasi.
Firman Tuhan sendiri sudah cukup untuk membawa kita mengagumi Allah. Peristiwa manifestasi pada pentahbisan Bait Suci dapat dihubungkan dengan kehendak Allah saat umat beribadah. Walaupun bentuk manifestasinya tidak selalu sama, janji Allah tetap berlaku: “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Matius 18:20).
Kehadiran-Nya tidak selalu tampak secara nyata, tetapi Ia memberikan iman, kekuatan, pengharapan, kasih karunia, dan penghiburan. Oleh sebab itu, ketika umat beribadah dalam nama Yesus, mereka bukan lagi mengundang kehadiran-Nya, melainkan menanggapi kehadiran-Nya.
Seperti umat Israel yang mempersembahkan korban dan pujian sebagai respons atas kehadiran Allah, demikian pula kita dipanggil untuk bersyukur, menyembah, dan menyatakan bahwa kasih setia-Nya kekal selama-lamanya. MT
Kemuliaan Allah tidak selalu tampak, tetapi kehadiran-Nya nyata dan cukup bagi iman umat.





