Rabu 08 April 2026
KESAKSIAN DUA ORANG MURID
Sabda Renungan : “Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya.” (Markus 16:12-13)
Tidak mudah bagi murid-murid Yesus untuk percaya pada fakta bahwa Ia sudah bangkit. Mungkin dapat dimaklumi jika kesaksian seorang perempuan, yaitu Maria Magdalena, tidak langsung dipercaya. Namun, ketika kesaksian dua orang dari antara murid-murid pun tidak dipercaya, hal ini tentu sangat mengherankan. Rupanya, suasana hati para murid sangat terganggu dan mereka tidak siap menerima kenyataan bahwa Yesus telah mati dan dikuburkan. Mereka sudah begitu percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, Juruselamat, dan manusia sejati. Lalu, bagaimana mungkin Ia bisa mati? Pertanyaan ini terus muncul dan akan tetap dipertanyakan hingga akhir zaman, bahkan sampai Ia datang untuk kedua kalinya sesuai dengan janji-Nya.
Perlu dipahami bahwa kematian manusia berbeda dengan kematian Tuhan. Manusia mati untuk mengalami kematian, tetapi Tuhan Yesus mati untuk mengalahkan kematian. Dalam Yesus Kristus yang telah mengalahkan maut, para pengikut-Nya pun mati untuk dibangkitkan dan menerima tubuh yang baru. Hal ini karena tubuh kita sekarang tidak layak untuk masuk surga dan hidup dalam kekekalan.
Dengan demikian, sangat jelas bahwa kerelaan Yesus untuk mati—walaupun Ia adalah Tuhan—merupakan bagian penting dari rencana Allah yang harus ditaati-Nya. Ia rela menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia. Para perempuan yang datang ke kubur Yesus mampu mengesampingkan logika semata dan lebih peka terhadap suara hati serta iman mereka. Karena itu, mereka tetap setia kepada Yesus, bahkan ketika Ia telah mati. Justru melalui kepekaan hati itu, mereka sampai pada keyakinan yang benar bahwa Yesus adalah Tuhan Yang Mahakuasa, yang bahkan dalam kematian-Nya tetap berkarya untuk menyelamatkan manusia dari maut.
Dua orang yang bertemu dengan Yesus—yang menampakkan diri dalam rupa lain—akhirnya menyadari bahwa Ia telah bangkit. Melalui percakapan panjang, seperti yang dicatat dalam Lukas 24:13–32, mereka tanpa ragu segera memberitahukan kepada murid-murid bahwa mereka telah bertemu dan berbicara dengan Yesus yang bangkit. Namun demikian, kesaksian itu tetap tidak langsung dipercaya.
Dari kesaksian Maria Magdalena dan kedua murid tersebut, dapat dipahami bahwa mempercayai Tuhan bukanlah hal yang mudah. Mendengar dan merespons kesaksian adalah langkah awal yang baik, tetapi hal itu perlu dilanjutkan dengan perjumpaan pribadi dengan Yesus. Perjumpaan ini tidak harus secara fisik, melainkan melalui pengalaman rohani yang terbuka bagi setiap orang yang menerima pemberitaan dan kesaksian para saksi Kristus. MT
Percaya kepada Yesus membutuhkan hati terbuka, bukan hanya logika; kesaksian harus membawa pada perjumpaan pribadi yang menguatkan iman sejati.






