Sabtu 07 Maret 2026
PEMELIHARAAN ALLAH YANG BEKERJA DALAM KEHENINGAN
Sabda Renungan : “Sebagai hari-hari ketika orang-orang Yahudi mendapat kelepasan dari musuh-musuhnya, dan sebagai bulan yang berbalik bagi mereka dari dukacita menjadi sukacita dan dari perkabungan menjadi hari raya; supaya hari-hari itu dirayakan sebagai hari-hari pesta dan sukacita, hari-hari pengiriman makanan seorang kepada yang lain dan pemberian sedekah kepada orang-orang miskin.” (Ester 9:22)
Kitab Ester adalah salah satu dari dua kitab dalam Alkitab yang tokoh utamanya adalah perempuan, dan nama kitabnya pun memakai nama tokoh tersebut. Tema Kitab Ester serupa dengan kitab Rut, yaitu pemeliharaan Allah yang nyata atas umat-Nya. Hal yang terasa agak janggal dalam Kitab Ester adalah bahwa dari pasal 1 sampai pasal 10, nama Allah tidak pernah disebutkan. Namun demikian, sekalipun nama Allah tidak tertulis secara eksplisit, pemeliharaan-Nya atas umat-Nya sangat jelas. Bahkan, tidak ada kitab lain yang menggambarkan pemeliharaan Allah atas umat-Nya dengan begitu kuat seperti Kitab Ester.
Kebencian yang kejam dari pihak lawan melahirkan rencana pembunuhan massal yang tidak berperikemanusiaan terhadap umat Allah. Menghadapi situasi ini, langkah awal yang diusulkan Ester kepada umat Allah bukanlah diplomasi, apalagi mengangkat senjata, melainkan berdoa dan berpuasa. Menariknya, Kitab Ester juga tidak dikutip secara langsung dalam Perjanjian Baru, namun peristiwanya sering dihubungkan dengan gambaran peristiwa akhir zaman.
Kitab Ester melambangkan situasi pada akhir zaman, ketika muncul antikristus yang berusaha membinasakan umat Kristen dan umat Yahudi. Karena itu, Kitab Ester sangat relevan untuk dijadikan pegangan iman pada masa akhir ini. Ketika berbagai ancaman mulai bermunculan, diplomasi dan kekuatan senjata bukanlah cara utama yang harus diutamakan. Saatnya gereja kembali kepada doa dan puasa.
Setelah berdoa dan berpuasa, umat Yahudi tetap menghadapi situasi yang memaksa mereka terlibat dalam pertempuran melawan pihak-pihak yang ingin memusnahkan mereka. Namun, ketika mereka memperoleh kemenangan, mereka tidak melakukan penjarahan. Hal ini menunjukkan bahwa kemenangan tersebut bukan didorong oleh nafsu, melainkan oleh keadilan dan pemeliharaan Allah.
Mordekhai kemudian menetapkan hari kemenangan itu sebagai Hari Raya Purim. Hari tersebut dirayakan bukan sebagai kemenangan bangsa Yahudi semata, melainkan sebagai peringatan akan perbuatan Allah yang membebaskan umat-Nya dari kekejaman Haman.
Purim mengingatkan bahwa Allah berkuasa menggagalkan rencana jahat. Allah sanggup memelihara umat-Nya bahkan dalam kondisi yang paling kejam sekalipun. Kuasa Allah bukan hanya mengubah kehidupan umat-Nya, tetapi juga mengubah rencana kejahatan dan bahkan arah sejarah. Namun, umat Allah dipanggil untuk tetap setia, berpendirian teguh, dan beriman seperti Ester dan Mordekhai. MT
Allah memelihara umat-Nya secara berdaulat, menggagalkan kejahatan, dan mengubah sejarah melalui kesetiaan, doa, puasa, dan iman teguh.




