Jumat 30 Januari 2026
HIDUP MENGISI WAKTU
Sabda Renungan : “Masa hidup kami hanya tujuh puluh tahun, kalau kami kuat, delapan puluh tahun. Tetapi hanya kesukaran dan penderitaan yang kami dapat; sesudah hidup yang singkat, kami pun lenyap. Siapakah yang mengenal kedahsyatan murka-Mu, atau cukup sadar akan akibat kemarahan-Mu? Sadarkanlah kami akan singkatnya hidup ini supaya kami menjadi orang yang berbudi.” (Mazmur 90:10-12)
Dalam Pengkhotbah 1:4–8, Raja Salomo memandang dan menjalani waktu sebagai suatu putaran yang membosankan. Ia juga memandang waktu sebagai perjalanan lurus, karena pergantian generasi ke generasi akan terus berjalan dan tidak dapat dihentikan. Dalam kepemimpinan suatu bangsa—sebut saja bangsa Indonesia—suksesi kepemimpinan tidak dapat dihentikan bagaimanapun caranya.
Presiden Soekarno pernah digadang-gadangkan oleh para petinggi bangsa menjadi presiden seumur hidup, tetapi ketika ia masih hidup, kepemimpinannya telah digantikan oleh Presiden Soeharto. Presiden Soeharto pun berharap menjadi presiden seumur hidup, tetapi akhirnya dilengserkan oleh kekuatan rakyat. Penggantinya, Presiden Habibie, memimpin hanya seumur jagung dan kemudian digantikan oleh Presiden Abdurrahman Wahid.
Demikianlah waktu berjalan terus dari generasi ke generasi. Keempat pemimpin ini tidak boleh disepelekan, karena mereka telah memimpin suatu bangsa besar sesuai dengan kapasitas mereka dan telah mengukir sejarah melalui waktu yang mereka lewati. Tentu saja saya tidak sehebat mereka, tetapi saya memiliki kelebihan dan keistimewaan penting dibandingkan mereka: mereka sudah meninggal, sedangkan saya masih hidup. Mereka tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperbaiki dan membangun diri, sedangkan saya masih bisa. Lebih jelasnya, saya masih diberi kesempatan hidup untuk mengisi waktu.
Saya masih dapat memohon pertolongan Tuhan agar dapat mengisi waktu dengan hati yang bijaksana, melakukan berbagai kegiatan yang baik dan benar, sehingga hidup semakin penuh makna. Saya sangat menyadari bahwa tanpa Tuhan kita hidup hari ini, pergi esok hari, dan pada waktunya hilang serta terlupakan. Tetapi di dalam Tuhan, kita hidup hari ini dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang bernilai kekekalan, dan esok hari kita melangkah terus menuju kekekalan, hingga akhirnya kita hidup dalam kekekalan.
Hal itu terjadi karena Tuhan yang menyertai kita adalah Tuhan yang ada dari kekal sampai kekal. Dunia berlalu, tetapi bersama Tuhan kita tetap ada. Kita hanya mengenal generasi kita; generasi setelah kita tidak lagi kita ketahui. Oleh sebab itu, generasi kita harus kita isi dan jalani dengan baik, serta berusaha memberi nilai kebaikan kepada generasi selanjutnya dengan cara hidup yang mengisi waktu secara baik dan benar dalam tuntunan Tuhan. MT
Isi waktu dengan baik dan benar dan generasi berikutnya akan lebih baik dan lebih benar.




