Kamis 29 Januari 2026
HIDUP MENJAWAB PERTANYAAN
Sabda Renungan : “Sebab orang yang mau mempertahankan hidupnya, akan kehilangan hidupnya. Tetapi orang yang mengurbankan hidupnya untuk-Ku dan untuk Kabar Baik dari Allah, akan menyelamatkannya. Apa untungnya bagi seseorang, kalau seluruh dunia ini menjadi miliknya, tetapi ia kehilangan hidupnya?” (Markus 8:35-36)
Raja Salomo mengajak kita untuk menjawab pertanyaan, “Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari?” (Pengkhotbah 1:3). Semua manusia mengejar karier untuk memperoleh kehidupan. Hal itu tentu saja tidak salah, bahkan perlu dilakukan, sebagai jawaban atas pertanyaan: apakah yang dapat kita perbuat untuk memperoleh dan membangun kehidupan.
Namun, tentu saja kita tidak cukup hanya untuk memperoleh dan membangun kehidupan. Sesungguhnya, kita hidup di dunia ini bukan hanya untuk makan, berkarier, dan berkeluarga. Bila hanya itu yang terjadi, maka kita hidup, lahir, bertumbuh menjadi dewasa, menjadi tua, kemudian mati. Semua itu baik dan manusiawi, tetapi hal tersebut hanyalah jawaban terhadap pertanyaan, “Apakah yang kamu lakukan agar terus hidup?”
Benar, bekerja keras, berkarier, dan berkarya adalah hal yang baik. Namun, itu adalah kehidupan yang dijalani oleh semua manusia hanya untuk mempertahankan nyawanya. Firman Tuhan menyatakan bahwa hal tersebut justru dapat membuat kita kehilangan nyawa. Karena itu, tidak cukup hidup hanya untuk berkarier.
Untuk itulah kita perlu menjawab pertanyaan, “Untuk apa Allah menempatkan kita hidup di tempat kita berada?” Dalam menjawab pertanyaan ini, kita bukan hanya mengejar karier, tetapi jauh lebih baik menjalankan misi bagi Allah. Yesus tidak memiliki karier, tetapi Ia datang ke dunia untuk menjalankan misi sebagai Juruselamat bagi manusia berdosa. Yesus hidup untuk misi, bukan untuk karier.
Karena Ia hidup untuk misi, Ia tersalib dan mati. Namun, Ia tidak kehilangan nyawa, melainkan hidup untuk selama-lamanya. Bila kita hidup untuk misi, maka kita harus menjawab pertanyaan, “Untuk apa aku ditempatkan di sini?” Kita menjawabnya dengan menyatakan diri sebagai pribadi yang disertai Allah melalui kepedulian terhadap sesama. Kita juga menjawabnya dengan membuktikan diri sebagai pribadi yang disertai Allah melalui karakter yang berbeda dari dunia.
Akhirnya, kita pun akan merasakan dan mengalami penyertaan Allah melalui hidup yang tetap bersukacita, untuk menyembah dan memuliakan Allah. MT
Umat Tuhan perlu hidup berkarir tetapi lebih perlu lagi hidup bermisi.




