PESAN MINGGU INI 28 JUNI 2026
KELUARGA SEBAGAI PARTNER GEREJA
“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada Tuhan, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!” Yosua 24:15
Keluarga adalah tempat pertama seseorang belajar mengenal kasih, iman, dan kehidupan rohani. Karena itu, Tuhan rindu agar setiap keluarga bukan hanya menjadi penerima pelayanan gereja, tetapi juga menjadi partner dalam pekerjaan Tuhan. Melalui keluarga yang hidup takut akan Tuhan, gereja dapat bertumbuh semakin kuat dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Yosua memberikan teladan komitmen yang luar biasa ketika berkata, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” Pernyataan ini menunjukkan bahwa keluarga dipanggil untuk bersama-sama hidup melayani dan memuliakan Tuhan. Iman bukan hanya urusan pribadi, tetapi harus dibangun bersama di dalam rumah tangga.
Firman Tuhan dalam 1 Korintus 12:27 berkata: “Demikian pula kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.”
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap keluarga memiliki peranan penting dalam tubuh Kristus. Tuhan memberikan karunia, talenta, dan kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk dipakai melayani sesama dan mendukung pelayanan gereja.
Menjadi partner gereja tidak selalu dilakukan melalui pelayanan besar. Hal sederhana seperti setia beribadah, mendukung pelayanan dengan doa, mengajar anak hidup takut Tuhan, serta menunjukkan kasih kepada sesama adalah bagian penting dalam pekerjaan Tuhan. Ketika keluarga hidup dalam kasih dan persatuan, gereja juga akan dipenuhi damai sejahtera dan kekuatan rohani.
Mazmur 133:1 berkata: “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!”
Hari ini, marilah kita membangun keluarga yang aktif melayani dan bertumbuh bersama Tuhan. Biarlah rumah kita menjadi tempat lahirnya kasih, pengharapan, dan pelayanan. Ketika keluarga berjalan bersama Tuhan, gereja akan semakin kuat dan nama Tuhan dipermuliakan melalui kehidupan kita.
Minggu 28 Juni 2026
PESAN MINGGU INI 21 JUNI 2026
TAK SATUPUN TERTINGGAL (BAGIAN KE-3)
“Jawab mereka: ”Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” (Kisah Para Rasul 16:31)
Firman Tuhan ini menyatakan kerinduan hati Allah bagi setiap keluarga. Tuhan tidak hanya rindu menyelamatkan satu pribadi, tetapi seluruh keluarga mengalami kasih dan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Tema Tak Satupun Tertinggal mengingatkan kita bahwa keselamatan adalah anugerah Tuhan yang ingin dinyatakan kepada setiap anggota keluarga tanpa terkecuali.
Di zaman sekarang, banyak keluarga menghadapi tantangan besar. Kesibukan, perbedaan karakter, masalah ekonomi, dan pengaruh dunia sering membuat hubungan keluarga menjadi renggang. Bahkan tidak sedikit anggota keluarga yang mulai jauh dari Tuhan dan kehilangan kehidupan rohani. Namun firman Tuhan hari ini memberikan pengharapan bahwa Tuhan masih bekerja untuk memulihkan setiap rumah tangga.
Keselamatan keluarga dimulai dari iman kepada Yesus Kristus. Ketika seseorang sungguh-sungguh hidup di dalam Tuhan, hidupnya akan menjadi kesaksian yang membawa pengaruh bagi keluarga. Melalui doa, kasih, perhatian, dan teladan hidup yang benar, Tuhan dapat menjamah hati anggota keluarga lainnya.
Sering kali kita merasa lelah mendoakan keluarga yang belum percaya atau belum bertumbuh dalam iman. Terkadang perubahan tidak langsung terlihat. Namun jangan menyerah, karena Tuhan bekerja pada waktu-Nya yang sempurna. Tidak ada doa yang sia-sia di hadapan Tuhan. Kasih dan kesetiaan yang terus ditunjukkan akan menjadi benih yang menghasilkan buah pada waktunya.
Tema ini juga mengingatkan bahwa setiap keluarga dipanggil menjadi alat Tuhan bagi keluarga lainnya. Ketika sebuah keluarga mengalami pemulihan dan kasih Kristus, mereka dapat menolong keluarga lain untuk mengalami hal yang sama. Tuhan ingin setiap rumah menjadi tempat bertumbuhnya iman, kasih, dan damai sejahtera.
Mazmur 103:17 berkata bahwa kasih setia Tuhan berlangsung turun-temurun atas orang-orang yang takut akan Dia. Ini berarti Tuhan sanggup menjaga dan memberkati generasi demi generasi ketika keluarga hidup dekat dengan-Nya.
Percayalah, Tuhan sanggup memulihkan setiap hubungan, menjamah setiap hati, dan membawa seluruh keluarga hidup di dalam keselamatan-Nya. Biarlah melalui kasih dan kuasa Tuhan, sungguh-sungguh tidak ada seorang pun yang tertinggal dari kasih karunia-Nya.
Minggu 21 Juni 2026
PESAN MINGGU INI 14 JUNI 2026
TAK SATUPUN TERTINGGAL (BAGIAN KE-2)
“Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu. Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. Tuhan akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. Tuhan akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.” (Mazmur 121:5-8)
Dalam Mazmur 121:8 berkata, “TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.” Firman Tuhan ini memberikan penghiburan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Dia adalah Bapa yang setia menjaga, memimpin, dan menyertai setiap langkah kehidupan anak-anak-Nya. Tema Tak Satupun Tertinggal mengingatkan kita bahwa hati Tuhan rindu agar setiap keluarga mengalami kasih dan keselamatan-Nya secara penuh.
Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan penuh tantangan, banyak keluarga mulai kehilangan waktu bersama Tuhan. Kesibukan, masalah hidup, dan pengaruh dunia dapat membuat hati seseorang perlahan menjauh dari Tuhan. Karena itu, Tuhan memanggil setiap keluarga untuk kembali membangun mezbah doa, hidup dalam kasih, dan saling menguatkan dalam iman.
Kegerakan rohani ini bukan hanya tentang keselamatan pribadi, tetapi tentang membawa seluruh keluarga datang kepada Tuhan. Tuhan ingin memakai setiap anggota keluarga menjadi terang dan kesaksian bagi yang lain. Melalui doa, perhatian, pengampunan, dan kasih yang nyata, Tuhan dapat menjamah hati anggota keluarga yang belum mengenal-Nya.
Firman Tuhan dalam Zakharia 4:6 berkata, “Bukan karena kuat dan gagahmu, tetapi oleh Roh-Ku.” Ini mengingatkan bahwa pekerjaan keselamatan bukan dilakukan dengan kekuatan manusia, melainkan oleh kuasa Roh Kudus. Karena itu, jangan menyerah mendoakan keluarga dan orang-orang yang kita kasihi.
Hari ini, marilah kita tetap percaya bahwa Tuhan sanggup memimpin setiap keluarga kepada keselamatan. Biarlah setiap rumah dipenuhi damai sejahtera, kasih, dan hadirat Tuhan, sampai sungguh-sungguh tidak ada seorang pun yang tertinggal dari kasih karunia-Nya.
Minggu 14 Juni 2026
PESAN MINGGU INI 07 JUNI 2026
TAK SATUPUN TERTINGGAL
“TUHAN itu setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya.” (Mazmur 145:13)
Dalam kehidupan ini, sering kali kita hanya berfokus pada pertumbuhan pribadi, pelayanan pribadi, atau kebutuhan keluarga inti kita sendiri. Namun hati Tuhan jauh lebih besar dari itu. Tuhan rindu agar keselamatan dinyatakan kepada setiap anggota keluarga, tanpa ada seorang pun yang tertinggal. Inilah kerinduan Tuhan yang ditegaskan melalui pesan yang diterima oleh Bapak Gembala: menuntaskan Amanat Agung di dalam setiap keluarga jemaat.
Memasuki Bulan Keluarga di bulan Juni ini, diluncurkannya Kegerakan Keselamatan Keluarga dengan tagline Tak Satupun Tertinggal (Zero Left Movement) menjadi sebuah panggilan rohani bagi seluruh jemaat. Gerakan ini bukan sekadar program gereja, tetapi sebuah misi kasih Tuhan supaya setiap keluarga mengalami keselamatan di dalam Yesus Kristus. Harapannya, sampai akhir tahun 2026 seluruh keluarga jemaat telah mendengar dan menerima Injil Keselamatan.
Firman Tuhan dalam Mazmur 145:13 berkata: “TUHAN itu setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya.”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa Tuhan setia kepada janji-Nya. Jika Tuhan menghendaki keselamatan bagi keluarga kita, maka Dia juga akan memampukan kita untuk menjadi alat-Nya. Tuhan dapat memakai doa sederhana, perhatian kecil, kesaksian hidup, bahkan kasih yang tulus untuk menjangkau anggota keluarga yang belum mengenal-Nya.
Kegerakan ini akan terus berkembang dengan visi bahwa setiap keluarga yang telah mengalami kasih Tuhan akan menolong keluarga lainnya untuk datang kepada Kristus. Biarlah semangat Amanat Agung terus menyala dalam setiap rumah tangga, sehingga melalui doa, kasih, dan kesaksian hidup, semakin banyak jiwa diselamatkan. Sampai akhirnya, benar-benar tak satupun tertinggal.
Minggu 07 Juni 2026
PESAN MINGGU INI 31 MEI 2026
DIPENUHI ROH KUDUS TERUS MENERUS
“Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.” – (Zakharia 4:6)
Banyak orang Kristen terjebak dalam pemahaman bahwa kepenuhan Roh Kudus adalah peristiwa sekali seumur hidup. Padahal, Efesus 5:18 menggunakan bentuk kata kerja yang bermakna “terus-meneruslah dipenuhi.” Ini bukan tentang kuantitas Roh yang kita terima, melainkan tentang sejauh mana kita menyerahkan kendali hidup kepada-Nya. Sama seperti napas yang harus ditarik setiap saat, kepenuhan Roh adalah kebutuhan harian yang menjaga nyala api iman kita tetap konsisten di tengah arus dunia.
Kebutuhan akan pengurapan yang segar terlihat jelas dalam Kisah Para Rasul 4:31. Meskipun para murid telah menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta, mereka kembali berdoa saat menghadapi ancaman dan tekanan pelayanan. Hasilnya, mereka kembali dipenuhi Roh Kudus dan memperoleh keberanian baru untuk memberitakan Firman. Hal ini mengajarkan kita bahwa tantangan baru memerlukan kekuatan yang baru pula; kita tidak bisa melayani Tuhan hari ini hanya dengan mengandalkan pengalaman rohani masa lalu.
Kepenuhan Roh juga bukan sekadar euforia emosional, melainkan sebuah disiplin berjalan bersama Tuhan. Galatia 5:25 mengingatkan bahwa jika kita hidup oleh Roh, maka langkah-langkah kita pun harus dipimpin oleh-Nya. Ada sinkronisasi antara batin yang diperbarui dengan tindakan nyata sehari-hari. Dipenuhi Roh berarti membiarkan setiap keputusan, perkataan, dan reaksi kita selaras dengan karakter Kristus, sehingga buah Roh dapat terpancar secara natural dalam interaksi kita dengan sesama.
Sebagai penutup, marilah kita menyadari bahwa kepenuhan Roh Kudus adalah gaya hidup, bukan sekadar pelarian saat krisis. Kita dipanggil untuk terus membuka diri, merendahkan hati, dan meminta Roh Kudus mengambil alih kemudi hidup kita setiap pagi. Ketika kita menyerahkan kendali sepenuhnya, kita tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga berbuah dan menjadi saksi yang efektif bagi kemuliaan nama-Nya.
Minggu 31 Mei 2026
PESAN MINGGU INI 24 MEI 2026
KUASA YANG MENGUBAH HIDUP
“Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” (Kisah Para Rasul 2:4)
Peristiwa Hari Pentakosta merupakan salah satu momen penting dalam perjalanan iman orang percaya. Pada hari itu, Roh Kudus dicurahkan kepada para murid yang sedang berkumpul dengan sehati. Apa yang sebelumnya hanya janji, kini menjadi kenyataan. Mereka dipenuhi kuasa dari atas dan mulai berbicara dalam berbagai bahasa, menyatakan karya besar Allah.
Sebelum Pentakosta, para murid sering diliputi ketakutan dan kebingungan. Mereka tahu tentang kebangkitan Yesus Kristus, tetapi belum memiliki keberanian untuk bersaksi secara terbuka. Namun setelah Roh Kudus turun, terjadi perubahan yang luar biasa. Mereka yang dahulu ragu menjadi berani, yang tadinya diam menjadi bersaksi dengan penuh kuasa.
Pentakosta menunjukkan bahwa hidup orang percaya tidak dimaksudkan untuk dijalani dengan kekuatan sendiri. Tuhan memberikan Roh Kudus sebagai penolong, penghibur, dan pembimbing. Ia memampukan kita untuk hidup benar, mengerti kehendak Tuhan, dan menjadi saksi di tengah dunia.
Sering kali kita merasa lemah, takut, atau tidak mampu menghadapi tantangan hidup. Kita mungkin ragu untuk menyatakan iman atau merasa tidak cukup baik untuk dipakai Tuhan. Namun melalui Pentakosta, kita diingatkan bahwa kuasa Tuhan bekerja melalui kelemahan manusia. Roh Kudus tidak mencari orang yang sempurna, tetapi hati yang terbuka dan mau dipimpin.
Kehadiran Roh Kudus juga membawa perubahan dari dalam. Ia membentuk karakter kita, menghasilkan buah roh seperti kasih, sukacita, dan damai sejahtera. Hidup kita menjadi kesaksian nyata tentang karya Tuhan.
Hari ini, mari kita membuka hati untuk karya Roh Kudus. Jangan hanya mengetahui tentang-Nya, tetapi izinkan Dia memimpin setiap langkah kita. Dengan kuasa-Nya, kita dapat hidup berbeda, berani bersaksi, dan menjadi alat Tuhan untuk membawa terang di tengah dunia.
Minggu 24 Mei 2026
PESAN MINGGU INI 17 MEI 2026
ROH KUDUS SANGGUP MEMBUKA HATI YANG TERTUTUP
“Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus.” (Kisah Para Rasul 16:14)
Tidak semua hati mudah menerima kebenaran. Ada hati yang tertutup karena luka, kekecewaan, kesombongan, atau kebiasaan hidup yang sudah mengakar. Dalam pelayanan maupun kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah merasa sulit menjangkau seseorang seolah-olah tidak ada kata yang mampu menembus hatinya. Namun firman Tuhan mengajarkan bahwa apa yang mustahil bagi manusia, mungkin bagi Roh Kudus.
Dalam Kisah Para Rasul 16:14, kita membaca tentang Lidia, seorang perempuan yang mendengarkan pemberitaan Injil. Kunci dari perubahannya bukan pada kepandaian Paulus berbicara, melainkan karena “Tuhan membuka hatinya.” Ini menunjukkan bahwa perubahan hati adalah pekerjaan ilahi. Kita dipanggil untuk menyampaikan, tetapi Roh Kuduslah yang menggerakkan dan membuka hati.
Yesus menjelaskan dalam Yohanes 16:8 bahwa Roh Kudus akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman. Artinya, Roh Kudus bekerja secara pribadi dalam hati manusia: menyadarkan, menegur, dan menarik seseorang kembali kepada Tuhan. Kita tidak perlu memaksa atau berdebat dengan keras, karena Roh Kudus mampu bekerja jauh lebih dalam daripada kata-kata kita.
Lebih jauh lagi, Yehezkiel 36:26–27 memberikan janji indah bahwa Tuhan akan mengganti hati yang keras dengan hati yang lembut, serta menaruh Roh-Nya di dalam kita. Ini adalah transformasi total bukan sekadar perubahan perilaku, tetapi perubahan dari dalam yang menghasilkan kehidupan baru.
Hari ini, jika kita menghadapi orang-orang dengan hati yang tertutup, jangan putus asa. Tetaplah mengasihi, berdoa, dan setia menjadi saksi. Percayalah bahwa Roh Kudus sedang bekerja, bahkan ketika kita tidak melihat hasilnya secara langsung.
Dan bagi kita pribadi, biarlah hati kita juga tetap terbuka. Jangan sampai kesibukan, dosa, atau kepahitan membuat hati kita menjadi keras. Mintalah Roh Kudus terus melembutkan hati kita, sehingga kita peka terhadap suara Tuhan.
Sebab ketika Roh Kudus bekerja, hati yang paling tertutup sekalipun dapat dibuka, dipulihkan, dan dipenuhi dengan kehidupan yang baru.
Minggu 17 Mei 2026
PESAN MINGGU INI 10 MEI 2026
GEREJA YANG MENUAI DALAM KUASA ROH KUDUS
“Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.” (Zakharia 4:6)
Gereja mula-mula adalah gambaran nyata dari komunitas yang hidup dalam kuasa Roh Kudus. Dalam Kisah Para Rasul 2:41-47, kita melihat bagaimana ribuan orang bertobat, hidup dalam persekutuan yang erat, dan mengalami pertumbuhan yang luar biasa setiap hari. Penuaian jiwa terjadi bukan karena kemampuan manusia semata, melainkan karena pekerjaan Roh Kudus yang nyata di tengah mereka.
Sering kali gereja masa kini tergoda mengandalkan program, strategi, atau kekuatan manusia. Semua itu penting, tetapi tidak akan menghasilkan buah sejati tanpa kuasa Roh Kudus. Zakharia 4:6 mengingatkan dengan jelas bahwa segala sesuatu terjadi “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku.” Ini adalah prinsip utama dalam pelayanan dan pertumbuhan gereja.
Yesus sendiri berkata dalam Matius 9:37–38 bahwa tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Ia mengajak kita untuk berdoa kepada Tuhan yang empunya tuaian agar mengirimkan pekerja-pekerja. Ini menunjukkan bahwa penuaian adalah pekerjaan Tuhan, dan kita hanyalah alat yang dipakai-Nya. Namun, alat itu harus siap dan dipenuhi oleh Roh Kudus agar efektif.
Gereja yang menuai adalah gereja yang berdoa dengan sungguh-sungguh, hidup dalam kesatuan, dan peka terhadap pimpinan Roh Kudus. Ketika Roh Kudus bekerja, hati orang-orang terbuka, firman Tuhan menjamah, dan perubahan hidup terjadi. Penuaian bukan lagi sesuatu yang dipaksakan, tetapi menjadi hasil alami dari kehidupan yang dipenuhi Roh.
Hari ini, kita diajak untuk tidak hanya menjadi bagian dari gereja secara fisik, tetapi menjadi bagian dari gereja yang hidup dalam kuasa Roh Kudus. Mulailah dengan membangun kehidupan doa, menjaga kesatuan, dan membuka hati bagi pimpinan Tuhan.
Ketika gereja kembali bergantung sepenuhnya pada Roh Kudus, penuaian jiwa akan terjadi. Tuhan akan menambahkan orang-orang yang diselamatkan, dan gereja akan menjadi terang yang membawa harapan bagi dunia.
Minggu 10 Mei 2026
PESAN MINGGU INI 03 MEI 2026
HAUS AKAN ROH KUDUS AWAL DARI PENUAIAN
“Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum.” (Yohanes 7:37)
Haus adalah tanda kebutuhan yang mendalam. Dalam kehidupan rohani, rasa haus menunjukkan kerinduan jiwa akan hadirat dan kuasa Tuhan. Yesus berseru, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum.” Ini bukan sekadar undangan biasa, melainkan panggilan bagi setiap hati yang merasa kosong, lelah, atau kering secara rohani.
Sering kali kita sibuk mengejar banyak hal, tetapi lupa memelihara hubungan dengan Tuhan. Tanpa Roh Kudus, hidup rohani menjadi kering, pelayanan terasa berat, dan iman mudah goyah. Namun Tuhan berjanji bahwa siapa yang haus akan dipuaskan. Dalam Matius 5:6 dikatakan bahwa mereka yang lapar dan haus akan kebenaran akan dikenyangkan. Ini berarti Tuhan tidak pernah mengabaikan kerinduan yang tulus.
Yesaya 44:3 menegaskan janji Tuhan: Ia akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus dan aliran sungai ke atas tanah kering. Ini gambaran tentang Roh Kudus yang dicurahkan untuk memulihkan, menyegarkan, dan memberi kehidupan baru. Ketika Roh Kudus bekerja dalam hidup seseorang, perubahan terjadi—hati dilembutkan, iman diperkuat, dan buah rohani mulai terlihat.
Penuaian jiwa tidak dimulai dari strategi besar, tetapi dari hati yang haus akan Tuhan. Ketika kita dipenuhi Roh Kudus, hidup kita menjadi saluran berkat bagi orang lain. Kata-kata kita menguatkan, tindakan kita mencerminkan kasih, dan keberadaan kita membawa damai.
Hari ini, tanyakan pada diri sendiri: Apakah aku masih haus akan Tuhan? Jika ya, datanglah kepada-Nya dengan kerendahan hati. Luangkan waktu untuk berdoa, membaca firman, dan membuka hati bagi pekerjaan Roh Kudus.
Biarlah rasa haus itu tidak padam, karena dari sanalah Tuhan memulai penuaian besar dimulai dari hidup kita sendiri, lalu menjangkau orang lain di sekitar kita.
Minggu 03 Mei 2026
PESAN MINGGU INI 26 APRIL 2026
HIDUP FANA YANG BERBUAH KEKAL
“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yohanes 15:16)
Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk menjaga, mempertahankan, dan membangun hidup yang saling mengasihi. Kasih yang diperintahkan Yesus adalah kasih seperti yang telah Ia tunjukkan kepada mereka. Kasih itu adalah kasih yang rela menyerahkan nyawa demi menyelamatkan orang berdosa yang dikasihi-Nya.
Untuk lebih meyakinkan murid-murid-Nya, Yesus menyatakan bahwa mereka adalah sahabat-sahabat-Nya. Sebagai sahabat, Yesus telah membuka segala berkat dari Allah Bapa kepada mereka tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Untuk menjadi sahabat Yesus, para murid harus terus berjuang dan berusaha menaati perintah-Nya, yaitu pergi bersaksi dan menghasilkan buah yang tetap atau buah yang kekal. Tentu saja, para murid mungkin merasa tersanjung, tetapi juga merasa tidak mampu, karena bagaimana mungkin manusia yang fana dapat menghasilkan buah yang kekal?
Karena itulah Yesus berkata, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” Pernyataan ini sangat berkaitan dengan perintah-Nya. Ia memilih dan menetapkan para murid agar mereka pergi dan menghasilkan buah yang tetap.
Setiap orang percaya adalah mereka yang merespons pemilihan dan penetapan Tuhan atas dirinya, bukan orang yang memilih Tuhan berdasarkan selera atau keinginan pribadi. Jika kita yang memilih, sudah pasti kita lemah dan tidak mampu pergi serta menghasilkan buah yang tetap. Namun, karena kita adalah umat pilihan Allah, Ia akan menjadikan dan memperlengkapi kita menjadi alat-Nya untuk pergi dan menghasilkan buah yang kekal.
Sikap yang benar terhadap pemilihan Tuhan atas diri kita yang berdosa ini adalah menerima dan menghargainya dengan sungguh-sungguh. Pilihan-Nya adalah anugerah yang sangat berharga, sehingga harus diterima dengan kehidupan yang penuh syukur dan meluap dengan pujian kepada-Nya.
Selanjutnya, kita harus meresponsinya dengan pergi dan hidup di tengah sesama sebagai saksi Kristus melalui perkataan dan perbuatan. Kita juga perlu membangun kehidupan doa agar tetap berhubungan dengan Tuhan dan tinggal di dalam Dia, sehingga dapat terus menghasilkan buah yang tetap. MT
Minggu 26 April 2026
PESAN MINGGU INI 19 APRIL 2026
DARI BERDOSA MENJADI BERDAMPAK
“Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: ”Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.” (Yohanes 4:39)
Perempuan Samaria bukanlah seorang perempuan baik-baik. Lebih tepat, ia disebut sebagai perempuan berdosa yang bermoral buruk. Ia kurang menghargai makna pernikahan. Hal itu membuatnya mengasingkan diri dari masyarakat untuk menghindari pandangan dan sikap buruk orang-orang terhadap dirinya.
Orang banyak menjauhinya, tetapi Yesus justru mendekatinya—bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyatakan karunia Allah yang sangat dibutuhkan oleh manusia berdosa. Karunia Allah itu adalah “air hidup” yang melepaskan dahaga.
Dalam hal ini, Yesus dengan jelas mempraktikkan pengabdian-Nya kepada Allah Bapa dengan mendekati dan menawarkan pengampunan kepada manusia berdosa. Hasil dari pendekatan Yesus membuat perempuan Samaria itu membuka hati kepada kebenaran, yang oleh Yesus digambarkan sebagai air hidup, yaitu hidup yang kekal.
Air hidup adalah air yang memberikan kepuasan abadi—yang melepaskan dahaga secara terus-menerus hingga kekekalan, tanpa perlu ditimba berulang-ulang. Keyakinan perempuan Samaria itu didasarkan pada fakta bahwa Yesus mengenal dirinya dan mengetahui segala perbuatan serta perilakunya dengan jelas.
Perempuan berdosa itu sudah sangat terbiasa menerima penghakiman dari orang-orang beragama. Namun kini, ia diterima setelah mengalami perjumpaan dengan Pribadi yang kudus dan benar. Ia tidak dapat lagi menahan pengalamannya bertemu dengan Yesus. Ia segera menemui orang banyak dan menceritakan perjumpaannya dengan Yesus yang telah mengubah hidupnya.
Pertemuan dengan Yesus tidak hanya mengubah hidupnya, tetapi juga memberi dampak yang baik bagi banyak orang. Banyak orang Samaria menjadi percaya kepada Yesus karena kesaksian perempuan tersebut. Dari seorang berdosa yang dihakimi dan terisolasi dari masyarakat, ia menjadi pribadi yang membawa dampak positif.
Mereka bukan hanya percaya, tetapi juga datang kepada Yesus untuk menyaksikan sendiri siapa Dia dan bagaimana pribadi-Nya. Mereka pun memutuskan untuk terus mengikut Yesus dan belajar dari-Nya.
Yesus adalah Tuhan yang Mahakasih dan Mahakuasa. Perempuan Samaria itu, yang dahulu seorang berdosa, setelah bertemu dengan Yesus, menjadi pribadi yang berdampak bagi orang lain. MT
Minggu 19 April 2026
PESAN MINGGU INI 12 APRIL 2026
MATI UNTUK HIDUP
“Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:19-20)
Hukum Taurat harus ditaati sebagai prinsip hidup etis dan moral oleh semua pengikut Kristus. Namun, hukum Taurat bukanlah sistem yang harus ditaati untuk memperoleh pengampunan dosa dan keselamatan dari hukuman dosa. Inilah pengertian yang terkandung dalam arti “Mati terhadap hukum Taurat”.
Setelah mati terhadap hukum Taurat, hal itu digantikan dengan “Disalibkan bersama Kristus”, agar kita hidup untuk Allah, bukan hidup untuk hukum Taurat. Sebab, hukum Taurat diberikan untuk manusia, bukan manusia untuk hukum Taurat.
Selanjutnya, Rasul Paulus dengan tegas menyatakan bahwa mati terhadap hukum Taurat berarti menjalani hidup untuk Kristus. Dalam hal ini, Rasul Paulus menjelaskan bahwa hidup dan pengalaman spiritualnya adalah menikmati hubungan dengan Kristus, yaitu hubungan kasih yang hidup dan mendalam. Hal ini membuat hidupnya sepenuhnya bersandar dan bergantung kepada Allah di dalam Yesus, Tuhan dan Juruselamatnya.
Kita, sebagai orang percaya, dengan sungguh-sungguh menempatkan diri sebagai pribadi yang telah disalibkan bersama Kristus, agar hidup bagi Dia dalam kuasa kebangkitan-Nya. Dengan demikian, Kristus dan kuasa-Nya tinggal dalam kehidupan orang percaya, menjadi sumber dan pusat kehidupan.
Dalam perjalanan iman, kita dapat diperhadapkan dengan berbagai kemungkinan yang melemahkan. Namun, kuasa-Nya akan dinyatakan kepada kita, sehingga kita dapat hidup dari kemenangan kepada kemenangan, apabila kita turut mengambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Kristus.
Dalam perjalanan iman, melalui kasih, kesetiaan, dan pengabdian, iman akan terus bertumbuh semakin kuat. Semua ini menjelaskan bahwa hidup dalam Kristus adalah kebenaran sejati yang memberikan keselamatan kekal. Kebenaran itu bukan berasal dari hukum Taurat, melainkan dari kematian Kristus.
Dengan demikian, Rasul Paulus membagikan pengalaman hidupnya kepada semua orang percaya. Ia menyatakan bahwa hidupnya bukan lagi dirinya sendiri, melainkan Kristus yang hidup di dalam dirinya. Ini adalah pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari: sebagaimana Kristus mati dan bangkit untuk hidup, demikian pula setiap orang percaya mati terhadap hukum Taurat dan bangkit untuk hidup bersama Kristus. MT
Minggu 12 April 2026
PESAN MINGGU INI 05 APRIL 2026
MENGALAHKAN KEGELAPAN BERSAMA YESUS
Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. 22Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. (Roma 1:21-22)
Rasul Paulus sangat heran dalam pengertian negatif melihat keadaan di Roma. Mereka cukup agamis dan memiliki pengetahuan yang memadai tentang Allah, sehingga dapat dikatakan bahwa mereka mengenal Allah. Jemaat Roma yang ditemuinya menunjukkan kemajuan dalam hal kuantitas, tetapi sangat kurang dalam kualitas nilai hidup kekristenan.
Mereka mengetahui Injil, tetapi kuasa Injil itu tidak berdampak pada kehidupan moral mereka. Rasul Paulus secara tegas menyatakan dalam Roma 1:16, bahwa ia memiliki keyakinan yang kokoh terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya — pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Namun, tampaknya para pengikut Kristus di Roma mengenal Allah, tetapi tidak memuliakan-Nya. Kalaupun memuliakan, hal itu hanya sebatas ucapan atau kata-kata semata. Rasul Paulus menegaskan bahwa Injil adalah kekuatan Allah; Injil adalah kabar tentang Yesus yang telah bangkit dari kematian untuk mengalahkan maut dan menghalau kegelapan.
Kebangkitan Yesus bukan hanya mengalahkan maut akibat dosa, tetapi juga mengalahkan perilaku berdosa. Moralitas yang rusak adalah bentuk kegelapan yang harus dihalau dari kehidupan setiap pengikut Kristus.
Ada dua perilaku yang membuat seseorang mengaku pengikut Kristus, tetapi tetap hidup dalam kegelapan :
- Kesombongan yang terus-menerus dipraktikkan. Hal ini terlihat dari sikap yang tidak pernah berhenti mencari kehormatan, walaupun tidak hidup secara terhormat. Mulut memuliakan Allah, tetapi sesungguhnya sedang memuliakan diri sendiri. Kesombongan adalah kegelapan hidup yang harus dikalahkan bersama Yesus yang telah bangkit dari kematian. Perlu diingat bahwa kesombongan adalah perilaku yang mematikan.
- Pencemaran hidup akibat dosa seksual karena dikuasai hawa nafsu. Fakta yang sangat memprihatinkan ini ditemukan Rasul Paulus di jemaat Roma. Mereka adalah pengikut Kristus, tetapi tetap meneruskan kebiasaan hidup lama dengan melampiaskan nafsu seksual yang memalukan dan mencemarkan. Dosa ini menggelapkan hati dan pikiran.
Namun, semua kegelapan itu dapat dihalau bersama Yesus yang bangkit, dengan membiarkan kuasa kebangkitan-Nya memberi dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. MT
Minggu 05 April 2026




