Rabu 01 April 2026
JANGAN LUPA GETSEMANI
Sabda Renungan : “Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: ”Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Matius 26:39)
Nyanyian rohani Pentakosta berjudul “Jangan Lupa Getsemani” sudah tidak lagi dinyanyikan dalam ibadah gereja akhir-akhir ini. Liriknya berbunyi: “Jangan lupa Getsemani, jangan lupa cinta Yesus, jangan lupa derita Yesus, mari ke Golgota.”
Pujian rohani ini sesungguhnya merupakan ajakan untuk berdoa sungguh-sungguh, seperti Yesus berdoa kepada Bapa, agar tetap taat kepada Allah Bapa. Kendatipun hal itu sangat berat bagi Yesus, dalam doa-Nya sangat jelas bahwa bagi-Nya ketaatan kepada Bapa adalah mutlak.
Seringkali iman Kristen diserang dengan pertanyaan, “Kalau Yesus adalah Tuhan, mengapa Ia berdoa?” Perlu kita pahami bahwa saat Yesus berdoa, menderita, disalibkan, hingga dikuburkan, Ia adalah manusia kudus yang hidup tanpa dosa dan kesalahan. Sebagai manusia yang taat kepada Allah, Yesus juga merasakan ketakutan dalam menghadapi penderitaan yang sangat berat itu. Karena itu, Ia datang kepada Allah Bapa dalam doa yang sungguh-sungguh di Taman Getsemani.
Melalui nyanyian rohani “Jangan Lupa Getsemani”, kita diajak untuk berdoa dalam menghadapi kesulitan hidup. Nyanyian ini juga mengingatkan agar hidup kita tertuju kepada Yesus, satu-satunya teladan yang sempurna dalam menjalani kehidupan, termasuk kehidupan doa.
Yesus sengaja membawa murid-murid-Nya untuk mendukung dalam doa. Namun, ada kemungkinan besar Ia juga sedang memberikan teladan yang benar tentang bagaimana berdoa. Ada dua hal penting yang perlu dijadikan pegangan dalam doa :
- Pertama, melawan kelemahan dan keinginan diri agar tetap fokus dan sungguh-sungguh dalam berdoa. Yesus menegur para murid yang tertidur saat berdoa dan menasihati mereka untuk tetap berjaga. Ia mengerti kelemahan tubuh manusia yang dapat menyebabkan mengantuk dan tertidur, terutama dalam doa yang berlangsung cukup lama. Karena itu, kita pun harus belajar bertahan dan melawan kelemahan tubuh.
- Kedua, berserah kepada kehendak Allah. Dalam doa, kita boleh memohon apa yang kita inginkan dan kehendaki kepada Bapa di surga. Namun, kita harus tetap tunduk kepada kehendak Bapa. Berdoa merupakan sikap membangun hubungan dengan Allah. Oleh sebab itu, tunduklah kepada kehendak-Nya agar hubungan itu terus terjaga. MT
Kehendak Allah pasti baik, benar, dan tepat bagi kehidupan orang percaya selamanya.






