Selasa 31 Maret 2026
KOMUNITAS YANG MENANTI-NANTIKAN JANJI ALLAH
Sabda Renungan : “Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus” (Kisah Para Rasul 1:14)
Dari Bukit Zaitun, setelah menyaksikan kenaikan Tuhan Yesus, para murid segera pergi ke Yerusalem untuk menantikan janji Allah sesuai dengan perintah Tuhan Yesus.
Alkitab dengan teliti mencatat nama-nama murid Yesus bukan sekadar sebagai informasi pelengkap, melainkan untuk menegaskan bahwa dalam sejarah gereja, para murid yang memegang tongkat estafet Kerajaan Allah memiliki dasar historis yang kuat.
Mereka menantikan janji Allah dengan tekun berdoa. Dalam aktivitas duniawi, menanti sering kali terasa membosankan karena bersifat pasif. Namun, menantikan janji Allah menjadi pengalaman yang menggairahkan ketika dilakukan secara aktif, seperti yang dilakukan para murid melalui doa yang tekun.
Seruan dari dalam kesesakan merupakan bagian dari nyanyian ziarah yang tertulis dalam Mazmur 130:5–6, “Aku menanti-nantikan Tuhan, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih daripada pengawal mengharapkan pagi, lebih daripada pengawal mengharapkan pagi.”
Demikian pula dalam Yesaya 40:30–31 tertulis, “Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu, dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”
Menanti-nantikan Tuhan berarti memandang Dia sebagai sumber kekuatan dan kasih karunia yang sangat dibutuhkan. Tidak mengherankan jika mereka menerima kesegaran saat kelelahan dan kemampuan mengatasi berbagai persoalan. Mereka sanggup berlari secara rohani tanpa menjadi letih, meskipun Allah terkadang menangguhkan pertolongan-Nya.
Para murid, yang saat itu masih merupakan komunitas kecil berjumlah sebelas orang, menjalankan tanggung jawab mereka dengan menantikan janji Allah melalui doa yang tekun. Dalam Kisah Para Rasul 1:15, jumlah mereka bertambah menjadi sekitar seratus dua puluh orang. Mereka melanjutkan penantian itu dengan menaati firman Tuhan, termasuk memilih pengganti Yudas Iskariot sesuai dengan nubuat dalam Mazmur 69:26 dan Mazmur 109:8.
Komunitas yang menanti-nantikan Tuhan akan tetap bersemangat karena mereka menanti secara aktif. MT
Menanti Tuhan dengan doa tekun membawa kekuatan baru, ketaatan, pertumbuhan komunitas, dan penggenapan janji-janji-Nya dalam kehidupan umat.






