Kamis 05 Maret 2026
KUASA ALLAH YANG MENDIDIK, BUKAN MEMANJAKAN
Sabda Renungan : “Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulalui di padang gurun selama empat puluh tahun ini, yang dibuat TUHAN, Allahmu, supaya engkau direndahkan-Nya dan diuji-Nya, untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.”
(Ulangan 8:2)
Sempat saya berpikir bahwa hidup dalam lindungan Allah berarti hidup tanpa masalah. Pemikiran ini terasa logis karena Allah yang melindungi adalah Allah Yang Mahakuasa. Namun, melalui pembacaan Alkitab hari ini, saya menyadari bahwa Allah menggunakan kuasa-Nya bukan terutama untuk memberi kenyamanan, melainkan untuk mendidik umat-Nya.
Jika Allah selalu menggunakan kuasa-Nya untuk memenuhi segala kebutuhan umat-Nya agar hidup nyaman, maka manusia akan diperlakukan seperti robot. Padahal, Allah menghargai manusia sebagai ciptaan-Nya yang mulia, yang diciptakan segambar dan serupa dengan diri-Nya. Oleh sebab itu, umat yang hidup dalam lindungan Allah adalah umat yang bersedia hidup dalam tuntunan Allah.
Memang benar Allah memberikan kuasa kepada manusia untuk menguasai bumi, tetapi umat-Nya harus menyadari bahwa mereka hanyalah penerima kuasa, bukan sumber kuasa itu sendiri. Karena itu, manusia dapat menjadi tuan yang baik hanya jika ia hidup dengan Tuhan sebagai pusat kehidupannya.
Umat Allah perlu senantiasa menempatkan diri di bawah kekuasaan-Nya. Artinya, bersedia dituntun dan dididik oleh Allah agar terus dibentuk menjadi semakin baik dan benar. Untuk tujuan inilah Allah mengizinkan umat-Nya mengalami berbagai ujian dan kesulitan. Seperti bangsa Israel yang dibentuk melalui pengalaman di padang gurun, demikian pula umat Tuhan pada masa kini.
Tuhan Yang Mahakuasa mengizinkan kesulitan dalam hidup umat-Nya bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk membentuk dan melatih mereka agar semakin cerdas dan bijaksana dalam menghadapi persoalan hidup. Dengan demikian, kuasa Allah bukan untuk memanjakan, tetapi untuk mencerdaskan.
Bangsa Israel pernah memasuki negeri perjanjian dengan kondisi alam yang subur, sebagaimana tertulis dalam Ulangan 8:7. Namun, kondisi itu berubah pada zaman nabi Elia ketika Allah menghukum umat-Nya dengan kekeringan yang panjang akibat kemurtadan mereka. Melalui kesulitan itu, Allah bekerja untuk mengubah hati umat yang murtad menjadi setia, dan hati yang sombong menjadi rendah.
Allah tidak sembarangan menggunakan kuasa-Nya. Ketika Ia memberkati umat-Nya, itu dilakukan untuk menggenapi janji-Nya. Namun, umat sering lupa dan menganggap berkat sebagai hasil usaha sendiri. Padahal, Allah tetap berdaulat dan menggunakan kuasa-Nya untuk membentuk hidup umat-Nya menjadi semakin indah. MT
Kuasa Allah melindungi dengan mendidik, membentuk karakter melalui ujian, agar umat bertumbuh bijaksana, rendah hati, dan setia menyerahkan diri sepenuhnya.




