Jumat 27 Februari 2026
GAGAL UJIAN BERKAT
Sabda Renungan : “Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga hatinya tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti hati Daud, ayahnya.” (1 Raja-raja 11:4)
“Sebab itu TUHAN menunjukkan murka-Nya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang daripada TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya” (1 Raja-Raja 11:9).
Hikmat yang diberikan Tuhan untuk memperlengkapi Salomo sebagai pemimpin Israel membawa dampak yang sangat besar dan positif dalam kehidupannya. Salomo menjadi terkenal karena kebijaksanaannya yang melampaui para raja dan orang-orang berhikmat pada zamannya. Hikmat itu memengaruhi seluruh aspek hidupnya. Ia menjadi pemimpin yang cakap, berhasil dalam pemerintahannya, dan mengalami pertumbuhan yang pesat dalam kekayaan serta kemuliaan. Takhta, kekuasaan, dan harta berada dalam genggamannya.
Namun, sering kali ketika seseorang memiliki kekuasaan dan kekayaan, kehidupannya tidak lepas dari berbagai godaan. Hal ini pun terjadi dalam hidup Salomo. Alkitab mencatat bahwa Raja Salomo mencintai banyak perempuan asing (1 Raja-Raja 11:1). Kehidupan yang diberkati Tuhan ternyata tidak selalu menjamin seseorang akan terus hidup dalam ketaatan. Ada dua kemungkinan yang dapat terjadi: berkat dan kedudukan tinggi dapat membawa seseorang semakin dekat kepada Tuhan, atau justru membuatnya lupa diri, terlena oleh kenikmatan, dan akhirnya meninggalkan Tuhan.
Dalam kasus Salomo, harta dan takhta perlahan mengubah hatinya. Ia yang semula mengasihi Tuhan dan hidup dengan takut akan Dia, mulai condong kepada perkara-perkara duniawi. Dengan kekayaan yang melimpah, Salomo memiliki kesempatan besar untuk memuaskan keinginan dagingnya, meskipun Tuhan telah dengan jelas memperingatkan agar umat-Nya tidak bergaul dengan bangsa-bangsa yang dapat mencondongkan hati kepada allah lain (1 Raja-Raja 11:2). Salomo memiliki tujuh ratus istri dan tiga ratus gundik, yang akhirnya menarik hatinya berpaling dari Tuhan (1 Raja-Raja 11:3).
Karena harta, takhta, dan wanita, Salomo jatuh ke dalam penyembahan berhala. Inilah awal kehancuran hidupnya. Berkat yang melimpah justru menjadi bumerang yang menjauhkannya dari Tuhan.
Bagaimana dengan kita? Kita dipanggil untuk hidup dalam takut akan Allah. Takut akan Allah adalah permulaan hikmat (Amsal 9:10). Takut akan Allah bukanlah ketakutan yang mencekam, melainkan sikap hormat, tunduk, dan taat kepada-Nya, sehingga hidup kita tetap selaras dengan kehendak-Nya. MT
Berkat tanpa ketaatan dapat menjauhkan hati dari Tuhan dan menghancurkan kehidupan rohani seseorang.




