Sabtu 21 Februari 2026
HIKMAT ALLAH MELALUI PENCOBAAN
Sabda Renungan : “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” (Yakobus 1:2-8)
Yakobus adalah pemimpin gereja di Yerusalem. Pengetahuannya yang luas mengenai pertumbuhan gereja di masa penganiayaan melatarbelakanginya menulis surat ini. Itulah sebabnya surat Yakobus tidak ditujukan kepada satu gereja lokal tertentu. Surat Yakobus adalah surat umum yang ditujukan kepada gereja-gereja yang berserak setelah masa penganiayaan.
Salah satu tujuan Yakobus menulis surat ini adalah untuk membangun semangat umat percaya yang sedang menderita berbagai pencobaan. Apabila Allah mengizinkan pencobaan menerpa umat-Nya, tentu ada alasannya. Sebab itu, umat-Nya dapat menerima dan menghadapinya dengan sukacita, karena di balik pencobaan tersedia kemuliaan yang disediakan Allah berdasarkan hikmat-Nya. Namun, apabila kita tetap setia walaupun berada dalam pencobaan, kita pun memuliakan Allah karena telah lulus dalam pencobaan tersebut.
Dalam Yakobus 1:5 terdapat janji Allah bagi mereka yang setia kepada-Nya walaupun diterpa berbagai pencobaan. Allah akan menganugerahkan kebijaksanaan-Nya kepada mereka. Hadapilah kenyataan adanya pencobaan dan biarkanlah Allah menyelesaikan apa yang sedang dikerjakan-Nya, karena Dia akan memberikan kebijaksanaan yang saudara butuhkan agar lulus dalam ujian. Baik pencobaan itu berupa pengambilan keputusan bisnis, tantangan dalam pernikahan, maupun serangan emosional, Allah akan memberi saudara kebijaksanaan untuk menanggapi masalah-masalah tersebut demi kemuliaan-Nya.
Setiap hari saudara diperhadapkan dengan berbagai masalah; oleh karena itu, setiap hari pula kita perlu berdoa memohon hikmat dari Allah. Dalam berdoa, kita harus beriman, fokus, dan tidak mendua hati. Mendua hati adalah bukti ketidakseriusan, seperti seseorang yang mencoba berjalan ke dua arah sekaligus. Akibatnya, ia tidak akan maju ke mana pun. Hal ini sama seperti orang yang berdebat dengan Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan kebijaksanaan-Nya dengan memberikannya kepada orang yang mendebat-Nya.
Menerima kebijaksanaan dari Allah tidak selalu berarti kita akan memahami mengapa Allah mengizinkan pencobaan terjadi. Namun, yakinlah bahwa hal itu tidaklah penting. Marilah kita berkata seperti Ayub, dengan mengakui kebijaksanaan Allah: “Aku tidak perlu tahu mengapa Engkau mengizinkan pencobaan ini, tetapi berilah aku hikmat agar aku mampu melewati cobaan ini.” MT
Allah memberi hikmat bagi yang beriman menghadapi pencobaan sukacita sejati.




