Kamis 19 Februari 2026
YESUS ADALAH HIKMAT ALLAH
Sabda Renungan : “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yohanes 1:14)
Yesus Kristus adalah hikmat Allah dalam daging, yaitu dalam tubuh manusiawi. Alkitab menyatakan bahwa di dalam Dia “tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan” (Kolose 2:3). Lebih jauh, 1 Korintus 1:30 menjelaskan bahwa “hanya oleh Kristus, dalam Kristus, dan dengan Kristus kita dapat menerima hikmat dan pembenaran dari Allah.” Kita menjadi pandai dan berhikmat bila kita hidup mengenal Kristus dan hidup di dalam Kristus. Yang bertentangan dengan hikmat Allah adalah hikmat dunia.
Jika Yesus adalah hikmat Allah yang menjadikan Allah pusat kehidupan para pengikut-Nya, maka hikmat dunia adalah hikmat yang menyingkirkan Allah. Fokus kehidupan yang ditawarkan dunia adalah kesanggupan manusia sendiri. Dunia mengangkat manusia sebagai kekuasaan tertinggi. Padahal, sejarah telah membuktikan keterbatasan dan kegagalan manusia.
Hikmat dunia disimpulkan Alkitab sebagai kebodohan. Ada yang menyatakan bahwa hikmat dunia menghasilkan ateisme. Benar, ateis sering kali adalah orang-orang yang sangat cerdas, tetapi sekaligus paling bodoh di antara manusia. Mereka cemerlang karena berusaha menjabarkan dunia secara logis, namun kecemerlangan itu justru membuktikan kebodohan, karena penjelasan tentang dunia menjadi tidak logis ketika mengesampingkan dan menyangkal Allah sebagai Pencipta segala sesuatu.
Dalam hikmat dunia, hidup menjadi tidak jelas karena manusia menaruh kepercayaan kepada diri sendiri; artinya, dirinya sendirilah yang menjadi tuhan. Sebaliknya, dalam hikmat Allah, kita percaya bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia untuk menyelamatkan kita dari kuasa dosa. Inilah berita Injil, yang merupakan kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan merupakan kekuatan Allah dan hikmat Allah.
Kita percaya bukan sekadar memiliki kepercayaan. Kita beriman bukan hanya memiliki iman. Percaya dan beriman adalah tindakan; artinya, ada sesuatu yang dikerjakan. Itulah sebabnya Rasul Yohanes tidak menggunakan kata benda pistis (iman/kepercayaan), melainkan memakai kata kerja pisteuō (percaya) sebanyak 98 kali. Dalam hikmat Allah, kita menyerahkan hidup kepada-Nya, mengasihi-Nya, melayani-Nya, dan semakin mendekatkan diri kepada-Nya. MT
Hikmat sejati ada dalam Kristus; menolak hikmat dunia, kita hidup beriman, bertindak nyata, memusatkan hidup sepenuhnya kepada-Nya.




