Jumat 13 Februari 2026
MENGASIHI ADALAH DASAR DARI HIKMAT
Sabda Renungan : “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (1 Yohanes 4:16)
Dalam menjalani hidup Kekristenan dengan hikmat, kita perlu memahami tiga kenyataan :
- Pertama, Allah adalah kasih, tetapi perlu diingat bahwa kasih bukanlah Allah. Kasih tidak selalu menyatakan Allah, sedangkan Allah selalu menyatakan kasih. Oleh sebab itu, kasih merupakan bukti yang sah dari iman Kristen yang sejati. Dalam kenyataan hidup, tidak semua orang memiliki pemahaman intelektual tentang pernyataan “Allah adalah kasih,” tetapi tetap dapat mengalami pengalaman pribadi dengan Allah yang adalah kasih.
- Kedua, Allah mengasihi kita. Karena Allah adalah kasih, Ia tidak hanya berkomunikasi melalui kata-kata, melainkan melalui tindakan kasih. Tindakan kasih-Nya dinyatakan dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan kita.
- Ketiga, Allah adalah kasih dan Ia telah membuktikan kasih-Nya. Namun, kenyataan yang paling membahagiakan adalah bahwa Allah tetap tinggal di dalam kita.
Ketiga kenyataan ini menjadi dasar bagi kita untuk menjalani hidup Kekristenan dengan hikmat—dengan ketulusan dan kejujuran. Semakin baik kita mengenal kasih Allah, semakin berhikmat pula kita menjalani hidup sebagai orang Kristen. Pengetahuan Alkitab semata tidak dapat menggantikan pengalaman pribadi kita akan kasih Allah. Yang benar adalah pengetahuan Alkitab yang diterapkan, sebab itulah hikmat yang membawa kita kepada pengalaman pribadi tentang kasih Allah.
Dr. G. Campbell Morgan adalah seorang pengkhotbah kenamaan dari Inggris. Ia memiliki lima orang anak laki-laki, dan semuanya adalah penginjil serta pengkhotbah yang sangat baik. Pada suatu hari, keluarga ini didatangi seorang tamu yang memberanikan diri mengajukan pertanyaan pribadi, “Siapakah di antara kalian berenam pengkhotbah terbaik?” Ayah dan kelima putranya serentak menjawab, “Ibu.”
Tentu saja, istri Campbell Morgan tidak pernah berkhotbah secara formal di gereja. Namun, kehidupannya merupakan khotbah yang terus-menerus tentang kasih Allah. Kekristenan tidak cukup hanya mengetahui tentang Allah, tentang kasih-Nya, dan tentang Allah yang tinggal di dalam diri kita. Yang terpenting adalah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Itulah Kekristenan yang berhikmat—bukan sekadar pengetahuan. MT
Hikmat Kristen lahir dari mengenal, mengalami, dan menerapkan kasih Allah yang tinggal dalam hidup sehari-hari secara tulus dan jujur setia.




