Senin 09 Februari 2026
HIDUP TAK BERARTI TANPA TUHAN
Sabda Renungan : “Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” (Pengkhotbah 1:2)
Tentu saudara sependapat dengan saya bahwa Kitab Amsal jauh lebih menarik dan mudah dicerna dibandingkan dengan Kitab Pengkhotbah. Hal itu sangat logis. Sesuai dengan namanya, Amsal berisi kalimat-kalimat singkat yang mudah dipahami dan sangat menantang untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, Kitab Pengkhotbah memuat kalimat-kalimat yang terasa asing sehingga kurang menarik dan sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ada pula pendapat bahwa Raja Salomo menulis Kitab Amsal ketika kondisi kerohaniannya baik dan benar, saat perjalanan imannya berada pada puncak kekuatan. Namun, Kitab Pengkhotbah justru ditulis pada masa ketika Salomo mengalami kegelapan rohani. Kegelapan rohani ini menerpa raja yang penuh hikmat tersebut pada puncak kesuksesannya dalam memimpin dan mempersatukan bangsa pilihan Allah. Namun, di tengah masa kegelapan rohani itu, Salomo tetap membuktikan bahwa ia masih memiliki hikmat. Bahkan, masa kegelapan rohani tersebut tidak menghentikannya untuk menarik kesimpulan-kesimpulan yang sangat dalam dan berharga.
Salah satu kesimpulan terpenting yang ia sampaikan adalah bahwa hidup tidak berarti tanpa Tuhan. Segala sesuatu seperti harta, kedudukan, kecerdasan, serta berbagai pencapaian lainnya hanyalah hal-hal kecil. Istilah yang berulang-ulang ia gunakan untuk menggambarkan semua itu adalah “sia-sia”.
Bayangkan saja, setelah ia berjuang meraih berbagai kesuksesan dan membangun reputasinya, ia sampai pada kesimpulan bahwa semuanya hanyalah hal-hal kecil yang sia-sia. Justru pada saat kegelapan rohaninya, Raja Salomo menyadari bahwa dirinya telah terperosok pada hal-hal yang tidak bernilai. Ia menyadari bahwa Allah adalah pusat kebenaran di alam semesta ini dan bahwa dirinya telah mengejar tujuan yang tidak jelas. Hidup tidak berarti tanpa Tuhan. Itulah kebinasaan tingkat tinggi yang membuat hidup menjadi sia-sia. Berbagai pencapaian akan kehilangan maknanya ketika terlepas dari kehendak Allah.
Melalui Pengkhotbah, Raja Salomo hendak menghancurkan semua harapan manusia kepada dunia sekuler dengan menyatakan bahwa hidup sungguh tidak berarti dan sia-sia tanpa Tuhan. MT
Pengkhotbah menegaskan bahwa seluruh pencapaian duniawi sia-sia tanpa Tuhan, sebab hanya Allah memberi makna sejati bagi hidup manusia dan kekal.




