Kamis 05 Februari 2026
MEMPERSEMBAHKAN KORBAN PENGHAPUS DOSA
Sabda Renungan : “Ia harus berbuat kepada lembu itu sama seperti ia berbuat kepada lembu korban penghapus dosa; demikianlah harus ia berbuat kepadanya. Imam mengadakan pendamaian bagi mereka, sehingga mereka menerima pengampunan.” (Imamat 4:20)
Ketika mempersembahkan korban penghapus dosa, umat beroleh pengampunan atas dosa yang tidak disengaja maupun dosa yang disengaja, serta memperoleh pentahiran dari kenajisan. Karena selain sebagai ritual simbolik, mempersembahkan korban penghapus dosa merupakan pengakuan dosa. Dengan demikian, penghapusan dosa terjadi karena adanya pengakuan dosa dan juga pengorbanan. Allah menuntut korban penghapus dosa agar mereka yang berdosa karena ketidaktahuan dapat menerima pengampunan.
Korban penghapus dosa yang dilakukan atas perintah Allah melalui Musa dilaksanakan dalam bentuk ritual yang berulang-ulang. Namun, korban penghapus dosa ini hanyalah lambang yang mengandung janji. Janji tersebut telah digenapi melalui pengorbanan Kristus yang mendamaikan. Melalui pengorbanan-Nya, Kristus telah menanggung hukuman karena dosa kita. Pengorbanan Kristus menjamin pengampunan atas kesalahan dan kejatuhan kita, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, karena kerapuhan tabiat kita sebagai manusia berdosa.
Mazmur 19:13 berkata: “Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari.” Sebagai orang percaya, kita tentu berusaha mengasihi dan menaati Allah dengan segenap hati. Namun, sering kali kita gagal, sehingga sepanjang hidup kita sangat membutuhkan pengampunan.
Dalam Perjanjian Lama, penyembahan yang diwujudkan melalui ritual keagamaan menjadi sarana komunikasi yang khusus antara Allah dan umat-Nya. Ritual tersebut umumnya dilaksanakan dalam bentuk doa yang mengungkapkan pertobatan dan permohonan pengampunan. Selain itu, ritual ini juga menyatakan rasa syukur dan pengabdian umat kepada Allah. Dari pihak Allah, ritual tersebut mengandung janji-janji yang akan digenapi pada waktunya, sekaligus peringatan dan ajaran iman yang menyatakan sikap Allah terhadap umat-Nya serta harapan-Nya atas mereka.
Penulis Surat Ibrani sering mengutip ritual korban dalam Perjanjian Lama dan mengaplikasikannya pada pengorbanan Yesus. Dalam Ibrani 2:1–3, penulis menegaskan keunggulan Tuhan Yesus yang telah berkorban untuk menebus dosa manusia. Sekarang, Tuhan Yesus tidak menuntut kita melakukan ritual keagamaan untuk menikmati kasih-Nya. Ia mengetahui apa yang kita butuhkan. Kita hanya perlu menyembah Dia melalui penyembahan yang penuh pengaguman dan rasa syukur kepada-Nya. MT
Kristus pengorbanan sempurna, menghapus dosa, memulihkan hubungan, dan mengundang penyembahan syukur sejati.




