Rabu 28 Januari 2026
ALLAH YANG MAHAKUASA
Sabda Renungan : “Doa Musa, hamba Allah. Ya Tuhan, Engkaulah tempat kami berlindung turun-temurun. Sebelum gunung-gunung diciptakan, sebelum bumi dan dunia Kaubentuk, Engkaulah Allah yang kekal, tanpa awal tanpa akhir.” (Mazmur 90:1-2)
Musa adalah seorang pemimpin yang kuat dan berhasil, tetapi ia juga adalah sosok seorang yang beriman, yang menjalani hidup penuh pergumulan namun juga penuh makna. Renungan firman Tuhan hari ini diambil dari Mazmur 90, hanya dua ayat saja, sebagai bagian dari doa Musa. Suatu pernyataan Musa yang mengawali doanya adalah, “Tuhan, Engkaulah perteduhan kami turun-temurun.”
Musa membuat suatu pernyataan bahwa hidup adalah berteduh dalam perlindungan Allah. Berteduh, dalam pengertian yang luas, adalah melakukan semua kegiatan dan kreasi di hadapan Tuhan. Segala sesuatu dilakukan tidak terlepas dari penyertaan Tuhan. Hal ini sangat kontras dengan pernyataan yang mendasari pengakuan Salomo dalam Pengkhotbah 1:1–2, “Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” Salomo, yang jatuh dalam dosa, sempat melakukan segala sesuatu tanpa Tuhan sehingga menyatakan bahwa dirinya serta semua pencapaian dan perolehannya adalah kesia-siaan.
Jadi, hidup di dalam Tuhan penuh makna, sedangkan hidup tanpa Tuhan tidak bermakna atau hidup dalam kesia-siaan. Ada kisah seorang anak Tuhan yang meninggal pada usia dua puluh tahun, tetapi keluarga yang ditinggalkan justru ingin hidup seperti dia. Ia lahir dengan kelainan pada organ kepalanya yang membuatnya bertumbuh dengan rasa sakit yang tak henti-hentinya. Namun, pengaruh seorang sahabat yang dikenalnya pada usia lima belas tahun sangat besar dan mengubah hidupnya. Dari sahabatnya, ia mengenal Yesus.
Ia bersaksi bahwa ia menjalani hidup dengan berteduh kepada Yesus sehingga mampu menghadapi rasa sakit yang terus-menerus. Dalam rasa sakit itu, ia tetap mampu memberi perhatian dan dukungan yang besar kepada keluarganya. Pada usia dua puluh tahun, ia meninggal dengan wajah berseri, membuat seluruh keluarga besar mengaguminya. Kakak perempuan terdekatnya membuat suatu pernyataan, “Aku mau sepertimu, hidup berteduh kepada Tuhan, agar hidupku bermakna sepertimu.”
Seluruh keluarga yang ditinggalkan akhirnya mengambil keputusan untuk percaya dan menerima Yesus, justru setelah ia meninggal. Ia menjalani kehidupan di dalam Tuhan sehingga hidupnya memberi dampak yang penuh makna. Makna itu nyata, bahkan justru semakin terlihat, setelah ia pergi menghadap Bapa surgawinya. MT
Berteduh kepada Allah Mahakuasa adalah menjalani hidup yang penuh makna.




