Kamis 22 Januari 2026
ALLAH YANG KEKAL
Sabda Renungan : “Lalu Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba, dan memanggil di sana nama Tuhan, Allah yang kekal. Dan masih lama Abraham tinggal sebagai orang asing di negeri orang Filistin.” (Kejadian 21:33-34)
Dalam perjalanan imannya, Abram berulang kali menyatakan imannya dengan menyebut atribut Allah. Di Bersyeba, Abram menyebut Allah yang kekal. Biasanya, ia menghubungkan hidupnya sebagai bapa orang percaya. Zaman bisa berlalu, sejarah melaju, generasi ke generasi silih berganti, tetapi Allah tetap ada dan tak berubah. Dalam hal ini, Abram yang sudah semakin lanjut usianya mulai merasakan fakta bahwa pada akhirnya dia dan istrinya akan meninggalkan Ishak, anak perjanjian yang sangat dikasihinya. Dia siap untuk itu karena saat dia menuju kekekalan, anaknya pun sudah mulai mempersiapkan hidup dengan menapaki dan membangun hidup yang bernilai kekekalan.
Allah yang kekal itu memanggil Abraham sebagai bagian dari perjalanan sejarah Kerajaan Allah melalui sebuah bangsa yang sejarahnya berhubungan dengan sejarah Kerajaan Allah. Adalah Yakub, anak Ishak, sebagai wujud janji Allah itu yang semakin terang benderang tergenapi. Anak kembar Ishak, Esau dan Yakub, menunjukkan perbedaan bahwa satu di antara mereka merupakan anak yang dijanjikan Allah melalui sikap mereka terhadap anugerah Allah: anugerah yang disia-siakan Esau, dan anugerah yang dihargai serta dihidupi Yakub, yang merupakan nilai hidup bernilai kekekalan.
Bagi pengikut Kristus, haruslah selalu mempunyai nilai-nilai kekekalan karena Allah kita adalah Allah yang kekal. Iman Abraham merupakan dasar baginya untuk selalu hidup sebagai orang asing karena dia hanyalah pendatang di dunia. Yakub dan keturunannya juga adalah pendatang di Mesir. Musa, selama hidupnya memimpin Israel keluar dari Mesir menuju Kanaan, hanyalah pendatang dan mengembara di negeri asing. Rasul Paulus pun menyatakan bahwa pengikut Kristus adalah pendatang di dunia. Dunia hanyalah negeri sementara karena surga adalah negeri sesungguhnya, negeri yang kekal. Sebab itu, pastikan bahwa perbuatan baik haruslah bernilai kekekalan. MT
Lewati dunia sementara dengan langkah bernilai kekekalan menuju negeri yang kekal.




