Selasa 20 Januari 2026
ALLAH YANG MAHA TINGGI
Sabda Renungan : “Tetapi kata Abram kepada raja negeri Sodom itu: ”Aku bersumpah demi Tuhan, Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi” (Kejadian 14:22)
Raja Elam, Kedorlaomer, mengalahkan Sodom dan Gomora serta menawan raja Sodom dan penduduknya, termasuk Lot, keponakan Abraham. Abraham tidak tinggal diam; ia segera bersama orang-orangnya mengalahkan Kedorlaomer dan membebaskan Sodom, termasuk Lot.
Tentu saja raja Sodom sangat berterima kasih dan ingin memberikan harta kepada Abram atas jasanya. Namun, Abram menolak dengan alasan bahwa segala miliknya adalah pemberian Allah, bukan sebagai balas jasa dari orang Kanaan. Abram bukan hanya sekadar menolak, tetapi ia juga menyatakan pengenalannya kepada Allah sebagai sumber hidup dan kekayaannya.
Abram menyatakan Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi. Abram menjelaskan bahwa seorang raja seperti Kedorlaomer pun sangat rendah di hadapan Allah. Ia memang raja, tetapi tetap ciptaan. Jabatan dan status raja memang tinggi, namun tak terbandingkan dengan Allah Yang Mahatinggi.
Abram memiliki kesadaran yang tulus untuk menyatakan kemahatinggian Allah di hadapan seorang raja. Pada zaman itu, kedudukan seorang raja dianggap tertinggi, dan bila ada yang menyatakan bahwa ada yang lebih tinggi dari raja, hal itu sama saja dengan mengundang masalah bagi dirinya. Sikap Abram ini sangat menarik. Ia memposisikan diri sebagai sejajar dengan raja karena sama-sama ciptaan.
Alasan Abram menolak pemberian raja Kedorlaomer perlu dipelajari dengan baik. Abram tetap menyatakan prinsip imannya bahwa kekayaannya adalah pemberian Allah. Sebenarnya, Abram berhak menerimanya, tetapi bukan sebagai hadiah. Abram akan menerimanya bila raja Kedorlaomer memberikannya sebagai upeti untuk menghormati Allah. Dengan demikian, Abram menjelaskan wujud imannya berupa ketergantungannya kepada Allah sebagai sumber segala berkat.
Relevansinya dengan kehidupan pengikut Kristus masa kini adalah perlunya menolak pemberian orang lain apabila ada indikasi bahwa tujuan pemberian itu adalah untuk mengatur dan menguasai. Demikian pula, ketika memberi, jangan sampai motivasinya adalah untuk mengatur dan menguasai, karena yang memberi dan yang menerima sama-sama adalah penyembah Allah Yang Mahatinggi. MT
Kita semua adalah ciptaan. Hal itu berarti kita sama-sama penyembah Allah yang Mahatinggi.




