Sabtu 03 Januari 2026
BERMAZMUR UNTUK PENCIPTA
Bacaan Sabda : Mazmur 104:1-3
“Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Tuhan, Allahku, Engkau sangat besar! Engkau yang berpakaian keagungan dan semarak, yang berselimutkan terang seperti kain, yang membentangkan langit seperti tenda, yang mendirikan kamar-kamar loteng-Mu di air, yang menjadikan awan-awan sebagai kendaraan-Mu, yang bergerak di atas sayap angin,” (Mazmur 104:1-3)
Pemazmur selalu menggunakan kalimat-kalimat puitis untuk mengagungkan Allah. Ketika ia mengarahkan pikirannya kepada Allah sebagai tempatnya hidup dan berkarya, ia menyadari bahwa ia tidak mampu memahami bagaimana alam semesta tercipta. Semakin jauh ia merenung, ia bukan hanya mengagumi keindahan alam, tetapi melanjutkan mazmurnya dengan merangkai kalimat-kalimat puitis untuk menyatakan kekagumannya.
Isi kekagumannya adalah pengakuan akan kebesaran Allah yang tak terukur. Ia menyatakan bahwa Allah sangat besar. “Sangat besar” adalah sesuatu yang tak dapat diukur dan sungguh-sungguh tak terhingga. Karena itu ia memposisikan dirinya sujud di hadapan Allah yang Mahabesar. Baginya, adalah suatu kehormatan untuk menyembah Allah melalui kalimat-kalimat puitis yang dimazmurkan.
Pemazmur tidak sedang mengajak orang lain memuji Tuhan, melainkan mengajak dirinya sendiri dengan berkata, “Pujilah Tuhan, hai jiwaku!” Sikap ini adalah seruan untuk membiasakan diri berkhotbah kepada diri sendiri, bukan hanya kepada orang lain. Memazmurkan kemuliaan Allah atas karya-Nya yang ajaib bukanlah bukti bahwa seseorang beragama dengan baik, melainkan fakta bahwa seseorang memposisikan diri dengan benar di hadapan Allah.
Memang manusia tidak memiliki cukup kosakata dan kalimat untuk menyatakan kebesaran dan kemuliaan-Nya. Karena itu, seperti Pemazmur, kita pun menggunakan kalimat-kalimat puitis yang tidak boleh ditafsirkan secara harfiah. Pemazmur menggambarkan Allah berselimutkan terang. Ia menyatakan bahwa Allah nyata melalui keindahan dan kedahsyatan ciptaan-Nya. Pencipta itu membentangkan langit dan mendirikan kamar-kamar loteng di atas air.
Pemazmur mengakui bahwa Allah, Sang Pencipta, adalah Mahahadir—tidak ada tempat di mana Allah tidak hadir. Sebab itu, patutlah seluruh umat-Nya bermazmur dengan pengakuan yang benar, serta dengan kesadaran bahwa bermazmur bagi Sang Pencipta adalah tindakan yang benar dan baik. MT
Bermazmur bagi Pencipta membangkitkan semangat menyembah dan semangat berkreasi.





