PESAN MINGGUAN 2021

Pesan Mingguan Tahun Lalu : Pesan Mingguan 2020


PESAN MINGGU INI 28 FEBRUARI 2021

HIDUP SALEH

2 Petrus 2:8-9 “sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa –“maka nyata, bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman”

Pada saat gereja berumur ± 35 tahun ternyata gereja di Asia kecil sudah disamakan dengan kejahatan manusia pada zaman Lot. Pengaruh budaya manusia dengan sistem duniawi cukup kuat memasuki kehidupan gereja bersama dengan bermunculannya guru-guru atau pengajar palsu. Paling tidak ada dua ajaran yang menyimpang yang boleh disebut bidat Kristen yang sudah muncul pada zaman rasul dan terus berlanjut sampai sekarang dan terus akan membayangi kehidupan gereja selama dunia belum berakhir:

  1. Hedonisme suatu paham yang menempatkan kenikmatan dunia dan kesuksesan secara materi menjadi ukuran atau standar kebenaran. Bersamaan dengan hedonisme bermunculan pula teologi sukses yang mengajarkan bahwa berkat Allah dan penyertaan Allah menjadi tujuan dalam pengertian berkat dan penyertaan Allah haruslah terbukti melalui materi yang berlimpah. Untuk mencapai kesuskesan maka tidak segan-segan menafsirkan firman Tuhan secara serampangan agar kesuksesan secara materi dapat digapai.
  2. Paham hypergrace atau anugerah yang berlebihan sehingga gereja sangat terbuka kepada kehidupan yang sangat berdosa. Paham yang menyimpang ini mengartikan anugerah Allah yang luar biasa sehingga membebaskan orang percaya berbuat dosa karena selalu ada anugerah Allah dan pengampunan yang berlimpah.

Hedonisme dan hypergrace ini biasanya adalah paham yang berdampingan. Di tengah-tengah keadaan berdosa inilah pengikut Kristus dianjurkan Petrus untuk menjalani dan memperjuangkan kehidupan yang saleh. Tentu sulit menerima kenyataan bila kehidupan berdosa menjadi hal yang biasa terjadi di tengah maraknya kehidupan beragama. Lebih buruknya lagi justru kebaikan Tuhan dijadikan menjadi alasan untuk hidup dalam dosa. Dalam hal ini kita dapat belajar kepada Lot. Allah menyelamatkan Lot karena dia tetap mempertahankan kehidupan yang saleh di tengah-tengah maraknya kehidupan berdosa. Dia sangat menderita menyaksikan orang-orang yang hidup tanpa hukum di lingkungannya. Lot terus berjuang mempertahankan kehidupan yang saleh walaupun hal itu tidak mudah. Belakangan ini pun kita dihadapkan kepada kondisi yang sama. Tetapi teruslah berjuang dan yakinlah bahwa Allah akan selalu nyata dan membuktikan penyertaan-Nya. Teruslah melangkah dan memperjuangkan hidup benar dan saleh, karena Allah tetap mempunyai rencana terindah bagi umat-Nya yang setia dan hidup sesuai kehendak-Nya. (MT)
Minggu 28 Februari 2021


PESAN MINGGU INI 21 FEBRUARI 2021

MENGHARGAI WAKTU

Pengkhotbah 3:10-11 “Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya. “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”

Waktu adalah pemberian Allah yang sempurna kepada semua umat manusia yang ada di dunia yang fana ini. Ada perbedaan yang sangat tajam mengenai konsep waktu dalam pandangan dunia dengan konsep waktu dalam penjelasan Alkitab. Dalam pandangan dunia waktu itu adalah bersifat siklus yang tak menentu sehingga selalu saja bersifat pengulangan. Dalam hal ini tujuan tidak jelas dan cenderung tidak ada. Sedangkan dalam pandangan Alkitab waktu itu bersifat linear atau tegak lurus. Waktu di dunia ini bagi orang percaya ada awal dan ada akhir sehingga tujuan jelas. Alkitab itu sendiri menjadi fakta bahwa waktu itu adalah linear. Melalui peristiwa Alkitab kita melihat fakta bahwa Allah bergerak mengatur sejarah perjalanan manusia di dunia ini mulai dari penciptaan, mengawali tujuan-Nya, melanjutkan tujuan-Nya dan mencapai tujuan-Nya. Dan dalam perjalanan waktu yang bersifat linear itu, Allah berdaulat dalam mengisi dan menentukan saat-saat dan juga juga mengizinkan peristiwa-peristiwa yang mengisi waktu tersebut. Berdasarkan pengalaman itulah raja Salomo mengatakan untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya (Pengkotbah 3:1).

Semua peristiwa yang mengisi waktu itu adalah seizin Allah berdasarkan kedaulatannya. Waktu (kronos adalah bersifat periode dan dalam kronos itu selalu ada waktu Tuhan (kairos) suatu saat-saat kesempatan dan keputusan Allah berbuat sesuatu).

Dalam pimpinan Allah kita dapat menghadapi segala peristiwa peristiwa yang menyenangkan atau menyakitkan, memudahkan atau menyulitkan sebagai kairos (waktu Tuhan), saat-saat Allah memberi kesempatan dan memutuskan sesuatu untuk kebaikan dan mendewasakan anak-anak-Nya. Karena waktu adalah linear dan bersifat sementara di bumi ini maka semua anak Tuhan harus menghargainya dengan cara mengisinya dengan baik. Tetap hidup sesuai kehendak Allah menghadapi segala kemungkinan karena “Dia membuat segala sesuatu indah pada waktunya”. Berhati-hati agar segala tindakan dalam waktu yang singkat itu, tidak keluar dari kehendak Allah. Juga dalam mengisi waktu yang singkat itu perlu kita meresponi dan menghargai sebaik-baiknya “Kekekalan yang diberikan ke dalam hati kita”. Teruslah pupuk keinginan mendalam akan sesuatu yang jauh lebih berharga dari hal-hal yang bersifat duniawi yang sementara. Hal itu berarti di dunia yang sementara ini, kita harus terus membangun kehidupan dengan terus melakukan perbuatan yang bernilai kekekalan. (MT)
Minggu 21 Februari 2021


PESAN MINGGU INI 14 FEBRUARI 2021

HIDUP JUJUR

Amsal 13:3, 6,11 “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan. “Kebenaran menjaga orang yang saleh jalannya, tetapi kefasikan mencelakakan orang berdosa. “Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya.”

Raja Salomo menulis Amsal pada masa-masa telah dewasa dan telah berhasil dalam hampir segala pencapaian yang ingin dicapai oleh manusia pada umumnya. Dalam pengalaman panjang sebagai pemimpin bangsa Israel dia telah belajar sangat banyak mengenai karakter-karakter manusia. Salah satu karakter yang sangat mempesona dirinya adalah karakter jujur. Dia menyadari hidup jujur itu bukanlah dilahirkan tetapi diperjuangkan. Karena harus diperjuangkan melalui pembelajaran seumur hidup, maka raja yang terkenal dengan hikmatnya ini mengangkat topik hidup jujur ini menjadi bagian penting dalam nasehat-nasehatnya kepada anak-anak muda sebagai generasi yang menerima tongkat estafet dari generasinya yang sudah semakin tua dan segera akan berlalu. Kita sangat paham bahwa sifat jujur adalah sifat atau karakter utama dan menonjol dari seorang yang berintegritas.

Dalam satu pasal ini saja raja Salomo menjelaskan tiga kali bagaimana kehidupan orang-orang yang jujur:

  1. Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, artinya bahwa orang jujur tidak akan pernah mengijinkan hati dan pikirannya dipimpin oleh keinginan-keinginannya yang terkadang menyimpang dari nilai-nilai ketulusan. Hal itu berarti dia akan berjuang untuk menyelaraskan hati, pikiran, perkataan dan perbuatan. Kejujuran dikontraskan dengan penghianat yang disesatkan oleh kecurangannya.
  2. Orang jujur dilepaskan oleh kebenarannya. Dalam Hal ini jujur tidak boleh juga menyimpang dari kebenaran. Jadi kebenaran Firman yang ada dalam hati, pikiran dan perkataannya itulah yang terwujud dalam tindakan dan perbuatan. Jadi bukan hanya jujur tetapi harus juga baik dan benar.
  3. Berkat orang jujur memperkembangkan kota artinya orang jujur selalu mengarahkan hati dan pikiran serta perkataan dan perbuatan untuk memperbaiki dan membangun. Orang yang biasanya selalu berhadapan dengan orang fasik yang selalu berusaha merusak segala sesuatu yang sudah diperbaiki dan dibangunnya. Tetapi biasanya orang jujur tak akan berhenti berbuat karena kejujuran tidak akan pernah berhenti menunjukkan kejujurannya. Kejujuran atau orang jujur justru membuktikan diri dan tertantang saat dikhianati oleh orang-orang curang dan orang-orang fasik.

Perlu diingat orang-orang jujur akan tetap merasa damai dan sejahtera kendatipun dihadapkan kepada berbagai kesulitan.(MT)
Minggu 14 Februari 2021


PESAN MINGGU INI 07 FEBRUARI 2021

MANUSIA BARU

Efesus 4:20-23 “Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu”

Sebelum membahas mengenai manusia baru rasul Paulus menerangkan perilaku buruk orang-orang yang tidak mengenal Allah. Rasul Paulus menyebutkan bahwa manusia yang tidak mengenal Allah sebagai manusia lama yang dikontraskan dengan manusia baru. Rasul Paulus sedang mengingatkan orang percaya di Efesus tentang kondisi kehidupan dan perilaku mereka sebelum mengenal Allah (Efesus 4:17-19). Sebelum mengenal Allah atau hidup di luar Tuhan memikirkan hal yang sia-sia karena orientasi hidupnya adalah dunia, kekayaan dan ketenaran serta kedudukan. Semua itu sia-sia karena bersifat sementara yang pada saatnya akan berlalu. Orang yang jauh dari persekutuan dengan Tuhan memiliki pengertian yang tidak jelas dan tidak pasti mengenai hal tujuan hidup atau pengertian mereka gelap. Lebih jelasnya rasul Paulus mengatakan mereka bodoh dan degil serta perperasaan tumpul. Wujud dari semuanya itu adalah dikalahkan oleh hawa nafsu, serakah dan melakukan berbagai kecemaran. Kabar baiknya adalah bahwa orang percaya tidaklah sama melainkan tampil dengan karakter yang berbeda. Perbedaan itu terjadi karena belajar mengenal dan semakin mengenal Kristus.

Orang percaya di Efesus telah mengenal Allah dan hidup dalam persekutuan dengan Allah di dalam Kristus dan itulah awal dimulainya status “Manusia Baru”. Perlu diingat bahwa manusia baru bukan suatu status langsung jadi, bukan pula peristiwa mistis yang tiba-tiba menjadi seorang yang berubah secara adikodrati seakan-akan kakinya tidak lagi meginjak bumi. “Tetapi kamu bukan lagi demikian (manusia lama), kamu sudah belajar mengenal Kristus (manusia baru) Efesus 4:20. Ketika seseorang menerima Yesus menjadi Tuhan dan juruselamatnya dia betul telah hidup baru karena dilahirkan kembali menjadi anak Tuhan (Yohanes 1:12). Tetapi hal itu belum cukup. Dia harus memulai hidup menjadi manusia baru dengan terus belajar mengenal dan semakin mengenal Kristus.

Bila orang percaya belajar mengenal Kristus tentu saja disertai dengan hidup semakin akrab bersekutu dengan Kristus, sudah pasti cepat atau lambat manusia lama dengan segala karakter buruknya akan dibuang. Kita semakin mengenal dan melakukan firman Tuhan serta membangun kehidupan doa dan ibadah. Jangan lupa pula saling bersekutu dengan sesama agar tercipta kondisi saling membangun. (MT)
Minggu 07 Februari 2021


PESAN MINGGU INI 31 JANUARI 2021

PEMBERITAAN INJIL DIMULAI

Lukas 4:14-15 “Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.”

Tiga orang penulis Injil sinoptik sama-sama memberi informasi yang sama yaitu setelah menang atas cobaan iblis, Yesus tampil di Galilea. Matius menyoroti tentang peristiwa Yohanes pembaptis ditangkap dan Yesus menyingkir ke Galilea untuk menggenapi firman Allah yang dinubuatkan nabi Yesaya (Yesaya 8:23; 9:1). Walaupun penggenapan itu sepertinya kurang penting tetapi hal-hal sepele pun yang sudah dinubuatkan tentang Yesus tetap tergenapi. Bila hal-hal sepele saja dinubuatkan dan digenapi pastilah hal-hal penting apalagi yang utama pasti dinubuatkan dan digenapi. Sangat jelas bahwa Allah berkarya melalui perencanaan dan melaksanakan serta menuntaskan rencana-Nya dengan sempurna. Matius sangat tegas mengatakan kepada orang Yahudi bahwa Yesus datang adalah untuk mengenapi hukum Taurat dan sebagai penggenapan janji Allah melalui nubuat-nubuat para nabi. Markus pun menulis bahwa setelah Yesus dicobai, Dia tampil di Galilea untuk memberitakan Injil.

Secara jelas Markus menyatakan Injil adalah kabar baik yang perlu secepatnya didengar oleh semua manusia. Markus memberitakan bahwa Allah telah bertindak langsung untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan akibat dosa. Tindakan Allah itu adalah melalui karya Tuhan Yesus Kristus. Markus memberitakan bahwa Yesus mulai karya-Nya dari Galilea yang datang dengan kuasa yang nyata. Bukan hanya melalui pernyataan kuasa, tetapi juga melalui ajaran kebenaran yang menjadi standar moral, jadi sangat jelas mengajak semua orang haruslah bertobat karena sudah sangat jauh melenceng dari kebenaran. Tetapi pertobatan yang dimaksud haruslah berdasarkan iman supaya menuntun kepada keselamatan, melepaskan dari kuasa dosa dan iblis serta menuntun dan membawa kepada kehidupan yang kekal. Markus secara tegas menyatakan kepada orang Roma bahwa untuk menyelamatkan manusia Yesus melakukan karya yang luar biasa hingga rela mengorbankan diri-Nya. Lukas yang menulis Injilnya sepertinya fokus kepada orang Yunani. Injil Lukas sangat tertata dengan rapi dan mempunyai nilai historis yang luar biasa, tepat, faktual dan dapat diberi nilai sempurna. Lukas memahami minat orang Yunani yang sangat filosofis sangat menyukai pemberitaan yang bernilai adikodrati. Lukas menjelaskan bahwa pemberitaan Injil yang dimulai Yesus dari Galilea adalah bagian dari kuasa Roh Kudus. Jadi sangat jelas campur tangan Allah dan kuasa Roh Kudus sejak awal pemberitaan Injil. (MT)
Minggu 31 Januari 2021


PESAN MINGGU INI 24 JANUARI 2021

MENANG ATAS PENCOBAAN

Ibrani 4:15 “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”

Yesus Imam Besar bukan mempersembahkan korban penghapusan dosa berupa lembu tidak bercacat, melainkan pengorbanan diri-Nya menjadi korban sempurna untuk menghapus dosa dan menyelamatkan manusia yang berdosa. Jabatan imam besar adalah jabatan abadi Tuhan Yesus yang terus-menerus duduk di sebelah kanan Allah Bapa mendoakan dan membela umat-Nya. Sebagai imam besar abadi dia terus-menerus ada sebagai pengantara abadi karena dalam nama-Nya kita selalu dapat menikmati penyertaan-Nya selalu dan setiap saat. Dan Dia bukan saja mengetahui kelemahan-kelemahan umat-Nya melainkan juga turut merasakannya. Karena faktanya Yesus dicobai tetapi Dia menang, tidak kalah terhadap pencobaan. Hal Yesus dicobai berhubungan dengan fakta Yesus dicobai iblis. Yang kisahnya ditulis oleh Matius dan Lukas dengan sangat jelas.

Walaupun Yesus Allah yang menjadi manusia yang hidup tanpa dosa tetap saja menjalani kewajiban agama dan mengalami pengalaman hidup yang dialami oleh semua manusia. Yesus disunat dan dibaptis walaupun kedua ritual agamawi ini merupakan tanda pertobatan yang tidak perlu dijalani Yesus. Tetapi karena 2 ritual agama ini diperintahkan Tuhan maka Yesus mentaatinya. Yesus pun tidak menolak untuk berpuasa karena berpuasa adalah juga suatu kegiatan agama yang Alkitabiah dan mempunyai suatu nilai kebenaran untuk membangun kehidupan kerohanian Yesus sudah sempurna, jadi tidak perlu dibangun lagi melalui berpuasa. Tetapi Yesus mentaati semuanya sebagai teladan abadi bagi orang percaya. Selanjutnya Yesus dicobai oleh iblis. Dalam hal ini pun Yesus menjalani proses pencobaan ini dengan sungguh-sungguh. Yesus tidak menganggap pencobaan ini sebagai hal yang sepele walaupun sesungguhnya Dia sudah menang sebelum dicobai. Yesus memberi keteladanan bahwa manusia beriman khususnya pengikut Kristus harus selalu siap menghadapi iblis. Karena iblis selalu menuduh dan berusaha membinasakan pengikut Kristus.

Bukan penderitaan atas sakit penyakit yang paling berpotensi membinasakan orang percaya. Iblis justru menawarkan berbagai kemampuan, ketenaran dan kekayaan agar orang percaya tunduk dan sujud kepadanya. Tuhan Yesus memberi keteladanan bahwa apapun yang ditawarkan iblis haruslah berpegang teguh untuk mentaati dan hidup sesuai firman Tuhan. Hanya dengan keteguhan hati inilah kita tidak jatuh dalam dosa. Seperti Yesus dicobai iblis dengan menawarkan tiga hal yaitu mengubah batu menjadi roti (kemampuan), melompat dari ketinggian (kehebatan) dan memiliki kekayaan, Yesus tetap berpegang teguh. Bukan kemampuan, kehebatan dan kekayaan tetapi Bapa dan firman-Nyalah yang utama.(MT)
Minggu 24 Januari 2021


PESAN MINGGU INI 17 JANUARI 2021

MENGGENAPKAN KEHENDAK BAPA

Lukas 3:21-22 “Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

Berita pertobatan Yohanes pembaptis menadapat sambutan yang baik dari masyarakat Yehuda dan mereka pun memberikan diri dibaptis sebagai tanda pertobatan. Yohanes pembaptis sangat antusias melaksanakan tugas pelayanan memberitakan berita pertobatan, hingga tanpa kenal lelah dia terus berkotbah di padang belantara. Kemudian dia melanjutkan membaptis para petobat baru itu di sungai Yordan. Tetapi betapa dia terkejut ketika Yesus juga datang kepadanya untuk minta dibaptis. Yohanes pembaptis mengetahui dan mengenal Yesus dengan baik. Tentang Yesus Yohanes pembaptis mengakui dihadapan orang banyak bahwa setelah dia, Yesus akan menindaklanjuti pelayanannya, dan membuka sepatu Yesus saja Yohanes tidak layak. Yohanes pembaptis membaptis dengan air sebagai tanda pertobatan sedangkan Yesus membaptis dengan Roh Kudus bukan hanya sebagai tanda tetapi sebagai fakta yang menuntun dan mengurapi hidup. Selanjutnya Yohanes mengenal Yesus sebagai Allah yang menjadi manusia. Bukan manusia yang berdosa melainkan manusia yang sempurna karena hidup tanpa dosa. Jadi menurut Yohanes Pembaptis tidak ada relevansi baptisan Yohanes dengan Yesus. Kalaupun terjadi pembaptisan haruslah dibalik yaitu Yesus lah yang akan membatis Yohanes. Tetapi Yesus menjawab Yohanes “Biarlah hal itu terjadi karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Matius 3:19).

Jadi Yesus dibaptis bukan sebagai tanda pertobatan melainkan menggenapan kehendak Allah. Yesus tidak wajib dibaptis dan juga tidak perlu dibaptis, tetapi bukanlah masalah wajib dan perlu tetapi adalah soal penggenapan kehendak Allah. Yohanes pembaptispun membaptis Yesus untuk keperluan kehendak Allah, dan ternyata ketika kehendak Allah dilakukan, Allah pun memproklamirkan kepada Yohanes pembaptis bahwa Yesus adalah anak Allah. Yohanes melihat fenomena langit terbuka di atas Yesus dan Roh Kudus dengan lambang merpati atas Yesus dan mendengar suara Allah yang mengatakan suatu pernyataan “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi kepada-Mulah Aku berkenan”. Manifestasi yang luar biasa ini terjadi karena Yohanes membaptis sebagai bentuk pelayanannya untuk melakukan kehendak Allah dan Yesus dibaptis untuk menggenapkan kehendak Allah. Dan dalam kisah Yesus dibaptis telah menyingkapkan ke-Esaan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus secara nyata dan sangat jelas. Ke-Esaan yang manunggal dan tak terpisahkan. (MT)
Minggu 17 Januari 2021


PESAN MINGGU INI 10 JANUARI 2021

INDAHNYA TANGGUNG JAWAB

Lukas 2:39-40 “Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.“Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.”

Yusuf dan Maria sangat sadar bahwa Yesus adalah Anak Allah yang dipercayakan Allah berada dalam pengasuhan mereka. Yusuf bisa saja berpikir bila Yesus dapat bertumbuh dengan baik tanpa pengasuhan yang sungguh-sungguh mereka lakukan. Tetapi faktanya Yusuf tetap mengasuh dan mendidik Yesus sebagai anak yang dipercayakan kepada mereka. Yusuf dan Maria tetap bertindak sebagai orangtua yang bertanggungjawab mengasuh dan membesarkan Yesus. Mereka tidak mau melewatkan dan menyia-nyiakan indahnya tanggungjawab. Dengan sungguh-sungguh tanpa sedikit keraguan Yusuf membawa Yesus ke Bait Allah pada saat Yesus baru berumur delapan hari. Dalam acara penyerahan yang disertai penyunatan itu, kedua orangtua yang sedang melakukan tanggungjawabnya ini kembali dikejutkan oleh sikap Simeon dan Hana dalam hal menyambut sang bayi Yesus. Kekaguman demi kekaguman telah menyertai Yusuf dan Maria setiap melakukan tanggungjawab mereka sebagai orangtua yang dipercayakan Allah untuk mengasuh Yesus. Pertemuan Simeon dengan bayi Yesus telah membuatnya siap menghadapi kematian karena yakin akan keselamatannya. Pertemuan Hana dengan bayi Yesus membuatnya langsung bersemangat memberitakan kehadiran Yesus disertai uacapan syukur kepada Allah. Faktanya Yusuf dan Maria bukan saja menikmati keindahan dan keajaiban dalam melaksanakan tanggungjawab mengasuh Yesus. Mereka juga harus siap melakukan hal-hal melelahkan dan beresiko untuk menyelamatkan bayi Yesus.

Setelah melakukan kewajiban agama terhadap Yesus mereka kembali ke Nazaret. Hampir dua tahun kemudian mereka harus pula membawa Yesus ke Mesir untuk menyelamatkannya dari kekejaman raja Herodes yang mau membunuhnya. Setelah Herodes mati mereka harus kembali lagi ke Galilea. Pergi ke Mesir dan pulang lagi adalah perjalanan jauh yang membutuhkan banyak biaya. Di samping sangat melelahkan tentu juga sangat beresiko karena harus melalui zona yang sangat berbahaya. Semua tanggungjawab itu dilaksanakan dengan sangat baik. Mereka menemukan keindahan dalam tanggungjawab itu. Karena saat Yusuf dan Maria melihat pertumbuhan Yesus segala kesulitan yang mereka lewati menjadi suatu pengalaman yang indah dan menyenangkan. Yesus bertumbuh sebagai seorang manusia yang sempurna, Yesus bertambah besar dan menjadi kuat serta penuh hikmat. Yesus berada dalam pengasuhan orang tua yang tepat yang mengasuhnya bertumbuh dengan baik menjadi manusia yang sempurna. Dalam hal ini Yusuf dan Maria betul-betul menikmati indahnya tanggung jawab. (MT)
Minggu 10 Januari 2021


PESAN MINGGU INI 03 JANUARI 2021

 

HIDUP HARUS TERUS MELAJU

Pengkhotbah 3:11 “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir”.

Kita mengawali tahun 2021 ini dengan kondisi sulit dan dibayang-bayangi keadaan yang penuh tanda tanya karena covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda untuk berakhir. Belum lagi situasi politik yang tak menentu dan kondisi ekonomi yang memburuk di negeri tercinta. Tetapi bila kita mencoba merenungkan firman Tuhan dalam Pengkotbah 3 betul juga bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya. Bila kita berada pada waktu sekarang dengan keadaan seperti sekarang tentu bukanlah nasib buruk yang harus diterima melainkan keadaan buruk yang harus dihadapi. Karena apapun yang terjadi hidup harus terus melaju.

Bila kita berjuang hanya berdasarkan kekuatan dan upaya kita yang terbatas bisa-bisa kita kecewa berat. Itulah sebabnya dalam kondisi apapun haruslah terus bersandar kepada Allah.

  • Bersandar kepada Allah memang bukan suatu pilihan melainkan perintah Tuhan yang harus ditaati, tetapi dapat juga diterima sebagai panggilan hidup yang terus dihargai sebagai anugerah Allah.
  • Bersandar kepada Allah sebagai anugerah Allah berarti adalah kesempatan yang indah untuk mengalami pernyataan dan pertolongan Allah.

Barangkali saudara adalah bagian dari orang percaya yang sudah sangat terbiasa dengan kalimat “Hidup berharap kepada Allah”. Sehingga menganggapnya sebagai kalimat klise atau merupakan kalimat agamawi belaka. Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap kepada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. (1 Timotius 6:7). Jelas bukan? Firman Allah menyatakan dengan tegas agar umat-Nya dalam kondisi apapun tetaplah berharap kepada Allah. Bila dikaruniai kekayaan bukan untuk diharapkan tetapi untuk dinikmati dan disyukuri. Jadi baik orang kaya maupun orang miskin sama-sama menjalani hidup dan sama-sama sujud hidup menyembah dan berharap kepada Allah. Karena berbagai peristiwa yang menyenangkan dan menyulitkan ada waktunya. Bila sekarang situasinya menyulitkan hadapi sajalah dengan tabah karena Allah akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Lagi pula situasi-situasi sulit sifatnya sementara karena sebesar apapun badai pasti akan berlalu. Bahkan faktanya badai hanya numpang lewat, walaupun segala sesuatu yang dilewati menjadi porak-poranda. Setelah itu akan menjadi indah. Indah bukan sembarang waktu, bukan juga sepanjang waktu, tetapi pada waktunya Tuhan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya. (MT)
Minggu 03 Januari 2021